Senin, 29 Desember 2014

Cara Beda Memberi Warna

Inilah titik dimana Moza lelah meneriaki sahabatnya yang ternyata berbeda cara dalam menunjukkan prinsipnya. Kawan yang dianggap luar biasa itu punya keunikan menyampaikan kebaikannya. Begitupun Moza, dengan cara yang sedikit berbeda.

Allah menganugrahkan berbagai warna untuk pelangi dunia. Kita memang berbeda. Tapi bukankah kita sama-sama dilahirkan ke dunia untuk menghamba kepada-Nya?

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Adz-Dzaariyaat: 56)

Dan sudah jelas kawan, kita sama-sama menempuh jalan yang sama. Jalan dimana sama-sama mengais rido-Nya. Meskipun kau melipir (baca: jalan serong) ke bagian kanan, ada juga yang ke bagian kiri, ada juga yang menyusur bagian tengah. Dan kita masih sama-sama di jalan ini. Jalan yang kita ridukan agar sampai untuk mengetuk pintu surga-Nya.

Masih saja Moza akan berbangga dengan cara kita yang beda memberi warna ~


Kamis, 25 Desember 2014

Diam dan Jarak Bukti Cinta

Biarkan diam itu yang menjaganya
Biarkan jarak ini yang menyempurnakannya
Karena rasa ini tak cukup jika harus memuja dunia
Yang ada hanya akan banyak noda
Terkoyak dimana-mana.

Tengkuk ini sengaja menunduk
Menjaga binar mata penuh cahaya ini berpendar dalam jiwa
Menanti di ujung jalan bahwa hidup akan bahagia
Dengan sama-sama lelah menjaga
Maka itulah kesucian cinta.

Rupa-rupa, biarlah mengalir apa adanya
Sapa-sapa, biarlah batas kata sedikit saja
Tawa-tawa, terlarang jika hadirnya ada
Diam-diam, cukup ini yang kau semai
Dalam diam akan kurindukan
Dalam jarak akan kunantikan
Menjemput cinta-Nya

Sabtu, 13 Desember 2014

Sehelai Hati Wanita Tua



Tumpukan bata itu mulai retak
Membelah angan yang coba disusun
Seperti wanita tua yang mengucur duka di helaian alis matanya
Tampak selepas pukulan menghujam ketika dia terduduk santai
Sehelai hati yang tertancap adalah kawan karibnya
Hanya ada prasangka yang membuat dunia semakin berwarna
Terpercik tinta aneka rupa jika hati itu bersuara
Tinggal dinanti saja
Dia bicara –BAIK SANGKA- ataukah lawannya

Kini..
Wanita tua yang tumbuh itu; menempuh jalan bersama sehelai hatinya
Percaya bahwa Tuhan selalu hadir
Tanpa keluh yang menggila di depan rupa-rupa
Keriputnya itu pun lupa
Hanya ada bahagia yang diolah
Disemai di balik arakan awan yang megah di atas sana
Bersama sehelai hatinya..






Rabu, 10 Desember 2014

C - U - K - U - P - T - A - U ?


Dan berteriak :

CUKUP TAU ?


Andai saja aku cukup tau dengan setiap hati saudaraku. Apakah dia kecewa dengan polah nyleneh yang sering kutumpuk? Usil yang sering kuungkap untuk sekedar membuat mereka menyeringai pelan. Mana musuh dan mana rekanku?

_______________________________________________________


Ternyata aku tak cukup tau siapa yang nantinya kuat menemaniku berjalan. 
Aku tak cukup tau siapa yang menerimaku tanpa syarat. 
Aku tak cukup tau siapa yang dengan diam justru berjuang memantaskan diri.




Akhirnya :

Ternyata aku tak -CUKUP TAU- siapa dirinya, kini ku coba akan terus bersiap menantinya.


Minggu, 16 November 2014

Pasar Saja Tempat Bermain, Bagaimana Tempat Lain?

Dulu ......

Ketika Moza masih kecil, dia hampir tak pernah lelah berlarian di Pasar. Pasar di tengah kota yang bertetangga dengan kota dimana kesenian Reog dilahirkan. Namanya anak-anak, bau pasar yang terkadang membuat orang pusing pun tak dihiraukan. Setiap harinya bahkan selalu asyik menemani bundanya yang berprofesi sebagai penjual kebutuhan pokok sehari-hari. 

Di antara ratusan penjual di pasar tersebut, toko bundanya tergolong yang kecil. Untuk bocah yang tak mengerti dunia bundanya, pasar justru menjadi tempat bermain yang menurutnya berbeda. Karena penuh dengan orang dewasa yang baerlalu lalang, penuh dengan timbangan duduk di setiap toko, berbagai macam sayur, buah, sembako, sampai barang-barang yang tak mampu dikenali Moza pada saat itu.

Kini Moza sudah terlampau dewasa, hingga dia mungkin sudah cukup mengerti betapa dulu bundanya berjuang. Betapa ternyata sebenarnya pasar bukanlah tempat bermain. Pasar adalah tempat dimana bundanya tersenyum meski kelelahan, berlumur peluh untuk membuatnya bahagia. Mengumpulkan tenaga untuk bangun lebih pagi, dan menahan sabar saat tawaran orang diluar batas kewajaran.

Kini sekotak lahan di tengah pasar itu kosong, Di antara toko-toko yang masih penuh dengan dagangan. Dan yang tersisa hanya kenangan tempat dimana dia asyik bermain. Aroma bau tua terasa, setelah sekian tahun tempat itu tak berpenghuni. Bahkan penyewa pun enggan meneruskan niatannya untuk berjualan di tempat itu. Ruangan kosong itu membisu dengan kesendirian. Merindukan tawa bunda menimang bocah yang sekarang telah dewasa. Rindu akan kepolosan Moza yang memainkan biji kopi setiap harinya.

Biarkan tempat itu memimpikan keinginannya, tapi biarkan Moza dan Bunda bahagia di luar sana. Tapi Moza tak akan lupa. Tak lupa! Dia akan selalu mengingat bahwa tempat itu adalah awal yang membuatnya kuat. Tempat yang menghadirkan pemahaman bahwa hidup ini perlu diperjuangkan. Hidup ini adalah soal kita bertahan. Membuat setiap tempat yang kita tinggali sebenarnya adalah NYAMAN. Nyaman karena kita menciptakannya,dan Allah lah yang mengabulkannya.

Seperti halnya pasar, dimana pun tempatnya, akan menjadi tempat bermain yang menjadikan dewasa. Yang memberikan kenyamanan selagi kita masih menganggap Allah itu ada, yang selalu menyaksikan segala hal yang manusia upayakan.


Sabtu, 08 November 2014

Biar Lidah Beda Rasa, Jika Hati Sama Rasa

Beginilah kita yang sedarah, yang mencintai warna biru dan abu-abu. 
Yang sama-sama memantskan diri untuk orang yang sangat berharga buat kita nantinya.


Kedekatan kita adalah ketika kita berlama-lama mengingat diantara kita. 
Tak akan basi karena waktu, tak akan berkurang meski penuh jarak.
Hitungan detik pun mampu mengabadikannya, tapi kita punya cerita di bawah langit yang sama.
Cerita yang tak hingga jika diindra, yang penuh makna, yang terungkap dalam hati-hati kita.


Besar kita penuh pertengkaran, bahkan channel televisi pun kadang berujung tangis karena kita penuh dengan egositas tanpa batas merebutkannya. Saat Ayah pulang membawa sedikit makanan, itu saatnya adikku mulai menakar mana yang sekiranya lebih berat beberapa gram. Hehehe, mungkin saat itu ada beberapa setan yang nimbrung buat ikut mencicipi juga. Jadi kadar ego justru semakin banyak dikultur dan bersemai di setiap momen berbagi kita. Pergi sana setan!

Tapi Ayah tak kalah tegas dengan tingkah kita yang masih saja mementingkan diri sendiri. Bercandaan Ayah kemudian muncul, "Ngawe ring tinju wae kono.." (baca: buat ring tinju aja sana..)
Inilah salah satu bentuk cara Ayah memberikan alarm bahwa yang demikian itu tidak pantas buat sesama saudara.
Belum lagi ibu kita, menyudahi tingkah kita dengan gelengan kepala. Tanda memang ini hal yang tidak patut. Dan seketika itu, mungkin setan mulai melenggang pergi. Masalah selisih beberpa gram tadipun tak lagi diungkit. Kebahagiaan melihat saudara kita kenyang adalah bentuk kekenyangan batin tertinggi.

Saat kita semakin dewasa, bahkan tanah rantau pun semakin membuat kenangan-kenangan perebutan makanan itu datang menampar-nampar. Jogja; adalah kota penuh dengan aneka kuliner, baik yang khas seperti gudeg, atau bahkan yang dari orang pendatang seperti makanan Padang. Belum lagi makanan berbahan pati seperti bakwan kawi, pentol tusuk, siomay, cilok, dan yang lain. Selalu mengingatkan bahwa: DULU KITA SELALU BERBAGI, menyisakan sedikit makanan. Tepatnya menyisihkan sedikit makanan untuk dicicipi masing-masing dari kita. Berbagi; hal rutin yang kita lakukan sebelum 2,5 tahun ini.

Berharap sama-sama merasakan apa yang ada, tapi jarak lah yang membuat lidah kita merasakan rasa yang berbeda. Itu hanya lidah, cukup hanya lidah. Kita sama-sama merasakan manisnya menuntut ilmu. Masih merasakan segar tetesan hujan ketika musim penghujan menjemput.

Allah masih menganugerahkan kenikmatan yang sama, yaitu IMAN. Semuga keteguhan kita meniti jalan-Nya diberikan keistiqomahan yang menuai berkah. Sebagai makhluk yang penuh dengan baluran dosa, semuga iman kita yang menumbuhkan kecintaan tiada tara kepada Allah. Yang menghidupkan kedamaian, cinta dan harapan. Yang nantinya mengantarkan kita untuk saling menjaga sebagai sesama saudara seiman. Ya, hamba memohon ukhuwah ini terjaga sampai ke Surga...

Adik, jaga hatimu untuk seseorang yang berharga dalam hidupmu kelak.
Sekarang dan hingga nanti, kita berjuang untuk Ayah dan Ibu yang tak kalah berharga, karena mereka merupakan anugrah terindah yang Allah kirimkan buat kita.

Hehehe, bersemangat memantaskan diri adikku tersayang; Muhammad Alfian Ikhsan.
Mesir menantimu! Yakinlah! hehe


Kamis, 09 Oktober 2014

Menatap Langit




Empat kutilang bertengger di ranting, damai sekali mereka?
Menatap ke atas langit, membelah keheningan.
Hingga datang seekor lagi yang menempel dekat ke salah satu.

Jangankan sekawanan kutilang, manusia pun akan menengadah di bawah langit-Nya.
Hidup ini memang penuh dengan kebingungan.
Bingung harus melakukan apa, padahal manusia sudah punya tugas di dunia bukan?

Segeralah bergegas sadar bahwa semua orang punya cerita dengan dunia.
Terasa berat?
Padahal bukan berat, tapi rasa terbebani yang membuatnya merasa berat.
Keep faighting :)


Selasa, 29 Juli 2014

Sefrekuensi Karena-Mu

Rabbii, setelah seperempat dari usiaku berlalu dan masih berkisah tentangnya. Dan semua memang biasa, berjalan wajar, bahkan aku amnesia dan lupa. Izinkanlah aku tetap memantaskan diriku sampai aku tak mampu lagi mengambil nafas untuk berbenah. Berproses sampai maut mejemput dengan khusnul khotimah, aamiin.

Perkara siapa nantinya, aku berserah kepada-Mu.
Menerima siapa yang akhirnya sefrekuensi.
Menerima siapa yang nantinya seprinsip.
Menerima siapa yang tanpa syarat akan dunia.
Menerima siapa yang mengakhirkan semua keputusannya karena Allah.

Ya Allah, hanya Engkaulah yang memisahkan dan menyatukan di antara umat.
Ada rasa saling cinta dan memberi kasih diantara sesama saudara.

Ketika mendengar nasyid dari Raef "You Are The One", hanya senyum yang bisa mengembang menghiasi komitmen yang memang harus berlangsung sebelum yang indah akan benar-benar datang.
Allah memberitahukan aku mengenal akan hal ini sudah cukup lama.
Terimakasih Ya Rabb..
Allah, terimakasih telah mengajarkanku bagaimana cara menjaga diri.
Karena bersama-Mu adalah kebahagiaan.
Mengenal banyak saudara yang hebat, berkisah dengan mereka. Hadir tawa, tangis, senyum, dan bermacam rasa yang sampai-sampai tak tergambar.
Terimakasih..




Alhamdulillah, izinkan semua sefrekuensi karena-Mu Dzat Yang Membolak-balikkan hati..


Minggu, 27 Juli 2014

Sepenting -KAOS KAKI- kah?

Ketika suatu prinsip benar-benar Allah ujikan pada suatu makhluk. Maka inilah saat dimana apakah bisa dikatakan -TAHAN BANTING- dan really really -TANGGUH-.

Iyyakana'budu wa iyyakanasta'iin..

Kumandang takbir menggema dari seorang bocak kecil yang semakin membuat hati enggan untuk berpisah dengan bulan penuh berkah ini.

Di 29 Ramadhan inilah prinsip kembali teruji.
Mulai dari "kaos kaki", pasti sebagian orang akan tertawa. Bagaimana bisa hal kecil seperti kaos kaki dipermasalahkan. Benda ini dianggap tak penting, hanya sekedar penutup kaki; apalah pentingnya?

Akan lain jika ini berhubungan dengan prinsip. Ini bukan sekedar penutup agar kaki tidak kepanasan saat terik datang, bukan hanya sekedar pemberi kehangatan saat dingin semakin menusuk, bukan juga alat agar kaki tidak belang, bukan sekedar itu.

Kaos kaki ini lambang kecantikan buatku, lambang apakah prinsip ini sudah begitu tahan banting untuk mengenakannya. Niat memakainya benar-benar harus lurus. Walau terik, dingin, panas, badai, topan, basah, atau dalam kondisi bahaya pun, harus diniatkan karena Allah.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Jadi barang yang kadang dianggap butut karena keberadaannya selalu diinjak dan terkena banyak debu, tanah, pasir, lumpur, dan hal lain yang kadang nampak kotor. Justru jika memakainya adalah bukti sejauh mana kita cinta dengan Allah, bukti sejauh mana kita memang menjaga diri karena-Nya.

JIKA HAL INI BENAR, KENAPA KAU HARUS TAKUT?

Jika kau menolong agama Allah, pastilah Allah akan menolongmu.
Let's show your love..









Kamis, 17 Juli 2014

RABBEE, RABBEE, I AM YOURS

Rabbee, Rabbee, I am yours.
(I am Yours - Raef) 





.B.E.R.S.Y.U.K.U.R.
Hal yang sangat mudah diucapkan, tanpa lidah terpeleset pun pasti bisa. Tapi bagaimana  kabar hati kawan?
Sudahkan benar-benar tersentuh dan menempatkan serendah-rendah di hadapan-Nya?
Plaaakkk! Bunyi tamparan yang belum juga menyadarkan insan yang satu ini. Kita tak lagi usia balita yang tak tau apa-apa. Jangan berpura-pura lupa, bahkan tidak tau. Perlahan mereparasi hati yang jahitannya mulai koyak.

Ya, Rabbii...
Inginku bagaimana aku bisa selalu merasa lemah menemui-Mu dalam sholatku.
Menghadirkan derai tangis penuh khusyu' yang nikmat.
Menghadirkan setiap fokus ini HANYA untuk-Mu rabbii.
Ku mohon hadirkan ketenangan, hati yang selalu tersentuh akan keagungan-Mu.
Menyuguhkan sepenuh cinta yang tak terbagi.
Ya Allah, Yang Maha membolak-balikkan hati kami.
Izinkan hati ini selalu terpaut dalam syari'atmu.

Nikmat ini tak terhitung, lebih banyak dari butiran pasir pantai.
Bersyukur atas nikmat iman terlahir menjadi ISLAM. Alhamdulillah..
Beryukur atas curahan nikmat IMAN yang selalu menyegarkan. Alhamdulillah..
Bersyukur atas pertemuan dengan bulan penuh berkah, RAMADHAN. Alhamdulillah..
Bersyukur atas LIUKAN TANGAN yang masih bisa menuliskan segala kisah hidup. Alhamdulillah..
Bersyukur atas hadirnya RASA GELISAH karena hati ini belum juga mudah lemah di hadap-Mu. Alhamdulillah..
Bersyukur atas KEINDAHAN WARNA yang selalu kau suguhkan setiap harinya. Alhamdulillah..

.A.L.H.A.M.D.U.L.I.L.L.A.H.

Bersyukur dengan semua hal indah yang akupun kelu menyebutnya. Bahkan -TAK MAMPU-
Gugusan bintang dilangit; kalah banyaknya!
Bongkahan es di kutub; kalah banyaknya!
Kerumunan ikan di laut, kalah banyaknya!

With You, with You,, with You, ya RahmanWith You, with You, with You, ya Raheem(With You - Raef) 

Buktikan cintamu, BUKTIKAN!
Sejauh kamu tak mampu lagi.
Buktikan bahwa kau menjaga amanah-Nya.
Karena . . .
"Rabbee, Rabbee, I am yours.."

Jumat, 11 Juli 2014

Seri Mozaik Didi: #4 THESE TOO, WIIL PASS

Apa lagi ini. Terkoyak kembali. Luka yang masih memerah kembali perih karena bermain di air payau. Didi kembali mencoba bangkit, dan untuk kesekian kalinya. She will come back again.

“Berapa kali aku harus menangis karena makhluk?”, gumamnya semakin menjadi-jadi.

__________________________________________________________

Tetesan air mata lebih sering mengalir kepada makhluk, bagaimana dengan Tuhan kita? Padahal nikmat tangis mengucur adalah karena kehendak-Nya. Dari mulai kita merasa tidak nyaman, kecewa, benci, atau berbagai kebahagiaan adalah izin-Nya. Dengan alasan apa kau melakukan semua? Jika alasan-Nya adalah sekedar karena korban tipu daya setan akan dunia, lebih baik segera tarik cermin di dekat anda. Saatnya berkaca Didi. Hidup yang kau jalani akan segera berlalu. Tak tentu kau akan menempuh selamanya.

-THESE TOO, WIIL PASS-

Jika teramat bahagia hari ini, sepantasnya mengingat bahwa esok bisa saja terdera nestapa, Hanya Allah Yang Maha Tahu.

Jika teramat tersiksa hari ini, segeralah tersadar bahwa esok akan ada keindahan-keindahan, Hanya Allah Yang Maha Tahu.

Jadikan hari ini pelajaran untuk hari esok. Karena hari esok yang akan kau lalui adalah akibat dari apa yang telah kau ikhtiarkan di hari ini. Dan hari ini tak akan pernah kembali kau putar.




Rabu, 09 Juli 2014

COCOS Go PIMNAS

Salam Cocos Lepita...
Pekikan yang memacu semangat kami, tim PKM-K (Program Kretifitas Mahasiswa-Kewirausahaan) untuk melaju menuju PIMNAS (Pekan Ilmiah Nasional) ke-27 di Universitas Diponegoro Semarang. Sebelum melenggang ke tahap itu, yang perlu diperjuangkan adalah monitoring dan evaluasi dari DIKTI. PKM yang didanai oleh DIKTI harus mempertanggungjawabkan pelaporan kegiatan yang telah dilakukan selama enam bulan. Jika harapan ingin sampai ke titik PIMNAS, maka inilah saatnya tampil secara maksimal di depan Pemonev. Pada tanggal 10 Juni 2014, tim kami akan dibersamai oleh Bapak Andang Subaharianto, M. Hum sebagai Pemonev di Ruang B.

Pasti pada heran apa maksud dari salam kami; "Cocos Lepita"? 
Ini adalah nama dari produk yang kami buat; berupa tas laptop dari batok kelapa muda dengan sistem perodik unsur.
Kemudian muncullah rentetan pertanyaan yang menggelitik.
Kenapa harus batok kelapa muda?
Kenapa harus tas laptop?
Kenapa harus sistem periodik unsur?
Mari kita urai satu-satu. Keberadaan batok kelapa muda akibat dari sisa es kelamud (kelapa muda) sangatlah banyak dan belum termanfaatkan. Di masa yang penuh dengan kecanggihan teknologi, maka pengguna laptop sangatlah banyak; apalagi di kalangan mahasiswa dan pelajar. Selain itu, sistem periodik unsur masih banyak yang kesulitan menghafalnya, sehingga saat digunakan sebagai ornamen tas laptop bisa memiliki nilang fungsi edukatif. Alasan-alasan inilah yang melatarbelakangi munculnya ide pembuatan produk untuk PKM-K kami. Tak hanya nilai edukatif dan fungsi saja, akan tetapi nlai estetika juga jelas terlihat dari bahan batok kelapa muda yang sudah dikemas menjadi potongan-potongan kubus yang manis.




"Masih ada harapan menuju PIMNAS!", tegas saya selaku bagian dari tim yang super ini. Tim kami beranggotakan oleh lima Srikandi yang sangatlah tangguh, yaitu: Dina, Husna, dan Ayas dari Prodi Biologi angkatan 2011 serta Mila (saya) dan Cinthya dari Prodi Pendidikan Biologi 2012. Pembuatan PKM-K ini kami didampingi oleh Umi yang super, pebisnis hebat yang memiliki banyak perusahaan, dialah pembimbing kami, Ibu Himmatul Hasanah, MP. Beliaulah yang selalu memberi masukan bagaimana menjadi wirausahawati yang tak kenal lelah berjuang. Tak lupa juga, media partner kami yang membantu menyelasaikan produksi ialah Ibu Haryanti selaku pemilik CV. Surya Handicraft.



Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain). Dan kepada Tuhanmulah engkau berharap. (94: 6-8)

Siapa Yang Maha Kuat? Dialah Dzat yang tanpa sadar memberi kita kekuatan untuk terus berjuang dan menyelesaikan program kami.
Jadi masih ingin meminta PIMNAS?
Yaaah, mintalah pada-Nya.
Masih ada harapan selagi kami masih mampu mengikhtiarkannya.

#keeponfire_mozaikmila


Minggu, 06 Juli 2014

Seri Mozaik Didi #3 KEPERCAYAAN, LALU TETES AIR MATA ADALAH KEBAHAGIAAN!

Tetes air mata adalah kebahagiaan!”, seru Didi dengan bersemangat.

_______________________________________________________

Tak terasa nikmat tiada tara masih diperoleh di tanggal 7 Ramadhan 1435 H, di kalender Masehi terhitung tanggal 05 Juli 2014. Rabbii, kebahagian ini tak terukur dengan berbagai tarikan nafas yang seru bersenandung. Rona warna yang tergambar bersama pandangan akan dunia. Gerak langkah sendi yang mampu mengantarkan menuju kebaikan. Semua karena atas izinmu, Didi mampu berbenah, memantaskan diri, mengais ridho-Mu.

Didi beberapa hari ini terlihat kosong dengan tatapannya. Kedua alisnya yang menyatu semakin menegaskan memang dia tampak berbeda. Mungkin hanya yang –PEKA- lah yang mungkin mengerti akan hal itu. Apa karena aura puasa? Dengan tegas itu bukan penyebabnya.

Binar bahagia hanya timbul tenggelam dari sorot mata gadis berkulit sawo matang ini. Lelah karena menahan dahaga dan lapar; bukan itu! Buktinya dari waktu sahur pun segera hadir rutinitas yang menjalar rapi menghiasi harinya. Kesemuanya rampung diselesaikan.

Kebahagiaan sebenarnya muncul dari cara pandang seorang pribadi menyikapi kehidupan. Takaran naik level itu bukan seperti eskalaor yang tinggal diam kemudian sampai di puncak. Tanpa peluh, tanpa susah, tanpa mengurangi ATP, bukan perkara segampang itu. Level meningkat adalah dengan adanya masalah yang tak hanya sederhana. Kalo setiap manusia mampu menyikapinya dengan bijak, penuh tindakan solutif; tak hanya keren, tapi justru akan tercetak menjadi seseorang yang hebat dan tanngguh.

Allah telah firmankan di dalam  Surat Ash-Syarh ayat 5-6, yang artinya: Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Allah pun sudah menjelaskan demikian. Pasti setelah adanya lelah pasti ada pelangi kebahagiaan, yang akan mengundang kebaikan-kebaikan setelahnya. Lelah hanyalah sementara, bahkan akan segera menguap dan lenyap.

Didi tampak kumal karena ada sedikit tekanan dengan yang namanya –KEPERCAYAAN- ternyata. Bulan dimana semua setan dibelenggu dan pintu-pintu neraka ditutup inilah yang mengajarkan bahwa kepercayaan terhadap saudara bukanlah permainan. Bukan seperti monopoli yang dilempar, diundi, atau apalah itu. Kepercayaan bukan sesuatu yang bisa digadaikan juga.

Seperti gelas bening yang telah tergores, maka kepercayaan itu akan terluka jika disalahgunakan. Mengemban kepercayaan itu seperi dititipi amanah. Si pemberi akan dengan rela melimpahkan rasa percaya kepada si penerima, untuk dijaga sesuai haknya. Tapi memang perlu disadari, jika menaruh harapan terhadap makhluk itu tidak akan selamanya bisa. Ujungnya ada berbagai prediksi yang tidak pasti. Salah-salah malah yang ada hanyalah kecewa yang berkepanjangan.


Disinilah Didi mengerti apa itu menjaga kepercayaan dari saudara. Seharusnya dan memang sudahlah pasti, harapan disuguhkan kepada Allah. Hanya kepada Allah. Maka tak akan ada rasa kecewa yang menyudahi di setiap kejadian. Hasilnya sesuai keinginan ataupun tidak, pasti akan ada hikmah disana. Secara otomatis maka seorang hamba akan menerima segala kepastian jika memang alasannya adalah Allah, Sang Maha Pembolak-balik Hati.


Senin, 30 Juni 2014

CANGKANG BERPRINSIP

Biarkan dengan cangkangnya yang tebal.
Tak usah kau usik, hey kamu!
Tak usah kau sentuh!
Atau ia akan muntah dengan kemarahan?

Memilih di jalan itu sudah teramat lama dirindukan.
.B.E.R.T.A.H.A.N.
Akan bertahan dengan jalan-Nya.

Mimpi adalah terlelap di antara surga yang dinanti.
Biar ia patuh dengan jalan penuh ridha.
Biarkan ia menangis.
Dan sudahi dengan kepuasan menjaga cangkang itu.

Semakin kau mendekatkan jemarimu, kebengisan justru semakin ditunjukkan.
Bukan hanya takut yang akan ia uapkan, tapi geram pun akan meledak.

Cukup sekali saja kau usik cangkangnya.
Biarkan dan enyahlah untuk saling menjaga.
Jalan Allah itu akan terlihat tegas dengan usaha penjagaan.

Dari menjaga janji kelingkungnya kepada ayah.

Hingga memilih memantaskan diri karena-Nya.


Jumat, 27 Juni 2014

“NORMAL” DENGAN PEKA

Peka?
Apa itu peka..
Apa aku sudah mati rasa, apa aku sudah tak berdaya.

Kemarin, aku terhantui.
Hingga aku bungkam dan enyah dengan ketakutan itu.
Menghilangkan diriku untuk mancari tahta ”NORMAL” sebagai manusia.
Belum juga selesai, dan...
Kembali dihujat.
“Dasar tidak peka!”

Ketakutan ini belum juga aku muntahkan semua,
Bahkan masih ada yang tega menusuk pita suaraku..
Dan apa?
Kau memaksaku menelannya lagi, hingga..
Mungkin kerongkongan ini sobek, koyak compang-camping.
Ingin kucari kain perca.
Berlari!
Mengais kain rombeng dengan kawat berkarat untuk menjahitnya.

. P . E . K . A .
Biarkan aku hilang mencari yang kucari.
Mengartikan sebenarnya kapan kita bersahabat?
Damai dengan sewajarnya.
Normal seperti yang bernyawa lain.
Ku tak ingin dirutuki takut karena aku terlampau menyandangmu.
Ku tak ingin merintih dengan cibiran karena aku kosong tanpamu.

Terimakasih..
Wahai penyandang peka yang sewajarnya.
Kau hanya melihat buliran senyum yang tergerai, bukan kubangan darah yang perih mengiris.
Cukup belajar darimu!
Belajar bahwa kepekaan itu bukan ada untuk berkicau tentang yang terlihat.
Tapi dengan mata tertutup pun, kau mampu rasakan.
Tentang kepedasan hidup, kesantunan tutur, dan kelembutan sangka.


Kepekaan justru akan bijaksana mengindra saudaranya...


Sabtu, 31 Mei 2014

Seri Mozaik Didi #2 MEMINTA ALLAH MENUNGGU SHOLATMU?


Didi menyadari bahwa lalai itu akan selalu ada pada diri manusia, termasuk pada dirinya. Sekarang adalah kalanya bertanya bagaimana bisa mengurangi segala hal yang mengarah kepada lalai yang berkepanjangan ini.

Mari kali ini kita mulai refleksi dengan amalan yang akan dihisap pertama kali, sudah pada tau lah pastinya. Yaaa, dialah SHOLAT! Mengutip dari rekaman tausiyah Ustadz Yusuf Mansyur mengenai Sholat, beliau menyampaikan bahwa ketika Allah memanggil kita untuk menemui-Nya, justru kita balik memerintah dengan seolah-olah mengatakan:
“Tunggu ya, ini masih menerima tamu! 
Tunggu ya, masih ada telfon! 
Tunggu! 
Tunggu! 
dan tunggu lainnya...”
Inilah bentuk lalai yang kadang membuat Didi terbuai dan lupa bahwa sebenarnya dia dalam masalah besar, dan harus ada pertolongan dari tipu daya ini.

Sebenarnya siapa yang dipanggil? Saat siang yang terik, terdengar sayup-sayup bisikan untuk tidur harus kita ikuti juga kah? Masihkah telinga ini tersumbat serumen di lubang telinga? Akan lebih fatal lagi jika kita menyengaja mebuat Allah; Sang Rajanya alam semesta menunggu, menanti hingga berjam-jam. Akhirnya Didi mengaku bahwa bisikan setan itu semakin kencang, semakin melenakan, dan semakin menggiurkan.

Bentuk cara mengistimewakan Allah adalah dengan sholat di awal waktu. Ini menjadi penghormatan kepada Sang Kholiq, bukan sekedar menjadi budaknya waktu atau pekerjaan. Menurut tulisan Harun Yahya (2003: 227) dengan judul “Shalat Menjauhkan Manusia dari Perbuatan Jahat”, bahwa Allah akan menjanjikan pahala bagi orang-orang yang benar-benar menjaga sholatnya dan istiqomah dalam mengerjakannya.

Hal tersebut sudah sangat jelas di jelaskan dalam Q.S. Al-‘Ankabut: 45, yang artinya:
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Didi mengerti bahwa dalam sholat ada hal yang akan mengingatkannya, yaitu bagaimana tidak ada kata menunda. Keberadaan suka menunda adalah akan  hanya melunturkan niatan-niatan baik saja. Ketegasan dalam diri sangatlah perlu, jika tak ingin selalu dijajah oleh serdadu setan yang tak pernah lelah menggempur.



Semakin tepat waktu Allah semakin suka, Semakin yakin maka Allah semakin suka, Semakin dikunci dengan bahasa istiqomah maka bertambah sempurna. Mati memang menunggu saat nanti,
tapi akankah yang ada saat ini disengaja mati oleh tangan ini?


Jumat, 23 Mei 2014

Tiga Kali Lebih Baik Sejarah di Bonjour 2014

Yogyakarta - Tiga kali lebih baik sejarahku menggelar Lomba Fotografi.

Di Lobi Laboratorium FMIPA saat ini riuh dengan dua belas finalis Biology On Journalistic (Bonjour) 2014 Himabio FMIPA UNY. Acara yang bertemakan "Biodiversitas Indonesia dalam Lensa" ini mencapai tahap yang cukup gemilang di tahun ini dengan sub tema: Landscape, animal, dan plant. Seperti halnya makhluk hidup yang terus tumbuh, acara ini telah mencatat 154 karya.

Matahari semakin menuju titik keterikan, tepatnya pukul 10.00 dimulai lah acara ini. Dua belas besar finalis yang beruntung menyisihkan ratusan saingannya, tak hanya bisa langsung tenang. Mereka harus berkompetisi menyampaikan karya di depan tiga juri berkompeten di dunia fotografi; dua juri adalah dosen di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta dan satu dari anggota fotografi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Serufo divisi Fotografi. Saat mempresentasikan hasil foto, tak hanya dari segi fotonya saja yang dinilai, tapi makna dari pengambilan juga harus dipaparkan secara menarik.

Kembali ke sejarah, Bonjour 2013 hanya diikuti oleh 47 karya. Tandanya di tahun ini mengalami peningkatan sebanyak tiga kali. Acara yang dibuka untuk daerah DIY dan Jateng ini menambah catatan penggagas acara untuk semakin memberikan peningkatan di setiap tahunnya.

Salam lestari, salam konservasi...
Salm hijau, let's go green...

Demi kebaikan kami dan alam, mohon saran dan kritiknya ...

Kamis, 22 Mei 2014

Giliranku atau Menyentuh Melingkingmu?

Ridho Allah berada dalam ridho orang tua...

Semenjak seminggu lalu, sejak pendaftaran itu dimulai, aku selalu mondar-mandir melihat siapa yang akan jadi pewawancara. Melayang berfikir menuju satu tahun lalu saat aku sudah menghubungi seorang pewawancara, dan aku enggan melanjutkan niatanku.
Giliranku,
saatku,
di tahun ini,
di minggu ini,
Yeah : bersemangat mencari mozaik hidupku...

Selamanya jalan itu tak selamanya mulus, ada juga tanjakan, kubangan.
Terkadang harus terpelanting dari harapan awal.
Dan inilah kita patut belajar, betapa hidup tak selamanya enak.
Dunia tak selamanya berbaik pada diri kita.
Ada saatnya kita harus berjuang, memberontak segala zona nyaman yang membutakan.

Bangun, segera bangun sayang!

Cari ridho orang yang selalu menjanjikan kunci surga padamu.
Jangan hanya menuruti segala nafsu, yang memuja egositas.
Coba rasakan bagaimana mereka ingin disapa betapa mereka menunggu kunci surganya tersentuh lembut belaiaanmu.

Mereka setia, mereka rela menahan rindu.

Segera pulang nak, bukanlah setiap hari matahari mengistirahatkan cahayanya.
Kapan kau penuhi hak mereka.
Pulang!
Pulang!
Pulanglah menjemput surgamu!

Pintaku, harapku, dan janjiku, aku akan segera pulang.
Menyentuh kelingkingmu, ibu, bapak.


Senin, 19 Mei 2014

Seri Mozaik Didi #1 DALAM LALAIKU


Terpental karena ceroboh...


Inilah statment yang patut diberikan kepada seorang gadis yang tak pernah diam, dialah Didi. Akibat kebiasaannya yang selalu lari-larian dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain, maka ada saja dimana semua akan tidak beres saat semua dikerjakan dengan buru-buru. Perlahan pasti ada yang bermasalah, dan itu akan diakui. Hal yang tergesa-gesa adalah berasal dari setan.

Didi bukanlah malaikat dengan segala kesempurnaan, keistimewaan, dan kemuliaan. Di tengah kesibukan yang makin lama makin menuntut, dia semakin ndak bisa diam. Bahkan teman-temannya pun sering ngomel, ini wujud perhatian mereka yang berharga. Saat ada yang meneriaki, "Jangan lupa  bernafas!"

Benar juga katanya, sebagai manusia yang terbatas kemampuan. Bahkan birunya langit yang teduh, pasti ada kasta yang lebih menenangkan diatasnya. Di atas langit ada langit.


........................ To be continued

Kamis, 01 Mei 2014

Sejauh Menjaga Hati?




Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga). (Q.S. An-Nur : 26)

.....hemm, dari ayat tadi pasti ada yang tertampar (termasuk yang menulis, hehe)
Bagi yang belum siap melengkapi setengah dien-nya, ndak perlu khawatir kawan. Masih ada banyak waktu yang perlu dibenahi, mulai dari hal yang paling sederhana sampai hal kompleks; dari yang sepele sampai yang paling bikin riweuh; serta perkara pribadi sampai nasib anggota keluarga nantinya.

Bagi yang belum siap menuju hal serius, jangan terlalu memanjakan VMJ (Virus Merah Jambu) yang sering singgah. Awalnya mah biasa aja, ngakunya! Tapi, hati hati yaaaa. Hati kita perlu benteng beton tahan peluru panah cinta dari lawan jenis.

TEGAS!
Ini tindakan preventif untuk menangkal segara kemungkinan berbahaya yang timbul. Tengok juga pemahaman kita mengenai hakikatnya cinta. Cinta apa? Cinta karena apa? Cinta untuk apa? Cinta seperti apa? dan berbagai pertanyaan harus dihadirkan sebagai bentuk refleksi. Tak perlu ketakutan menghujani hati dengan pertanyaan tadi. Usiklah seberapa jauh pemahaman kita, seberapa jauh menjaga kesucian hati kita.

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah). (Q.S. Az-Zariyat : 49)

Ada yang gengsi sama teman kalo dikatakan -Warga Jomlo- yaaa?
Ngaca dulu coy, hehe. Kita sepantasnya harus gengsi sama Allah, bukan sama mereka.
Ingat bahwa ada Yang Maha Membolak-balikkan hati kita, ada Yang Mengawasi setiap polah hamba-Nya.

Allah juga bisa cemburu kalau kitanya terlalu memuja makhluk, hehe.
Eitsss, kita bertemu dengan sudara kita karena Allah, berpisahpun juga karena-Nya.

Semangat berproses untuk memantaskan diri, berbenah untuk menyempurnakan setengah agama kita.
Memohon kemudahan untuk segala urusan, dijadikan berkah dan manfaat hingga kehidupan yang sebenarnya.

Sejauh mana kita dekat sama Allah? Yaaaaa, sejauh kita menjaga hati karena-Nya, kakak.. ^^


Sabtu, 26 April 2014

Siang ini di antara kalian...

Samping kiriku nyenggol terus nih, dari tadi ngomel mulu. Hehe (dalam hati)

Aku mengerti caramu menyayangi orang kakak..
Kita dipertemukan di rumah cinta, Himabio FMIPA UNY ini karena Allah.

Kakak, bahagiaku mengenal kalian sejak dua tahun lalu.
Boleh kan iseng memaparin ini?
Mungkin memang ndak penting banget kenapa aku ANEH gini, hehe
Meski ku lewati dua tahun bersama kalian, aku pun masih sering bertanya: Sejauh apakah aku mengenal kalian?
COVER? oke fix, mungkin bisa detail aku sebutkan ciri-ciri umumnya. Tapi........
Siapa yang tau hati-hati kalian?
Hanya Allah yang tau pasti, dan diri kalian.
Mila ndak bisa tau, karena apa?
Aku adalah seseorang yang aneh dengan tangan kecilku.
Bahkan kelingkingku pun tak selurus milik kalian (hehe, coba bisa dicek)
Tapi, bukan itu yang kumaksud, hehe ESENSI-nya apa? *geleng-geleng

Tawa kalian selalu kurindukan setiap aku memulangkan tubuhku ke peraduanku, ayah dan ibuku.
Hehe, setiap disini aku tak bisa henti seharipun tanpa mengingat mereka yang hebat :)

Untuk yang duduk di samping kiriku, terimakasih untuk semua hal yang aku pun tak mungkin bisa menyebutkannya. Mungkin bisa saja aku berbusa-busa hingga entah lah, intinya aku hanya bisa diam (seperti sekarang ini).

Aku bukan tipe orang yang bisa mengungkapkan dengan berteriak, "Aku sayang kalian". Itu bukan mila, karena aku lebih suka menyayangi kalian dengan caraku, dengan keanehanku yang kadang bisa saja membuat kalian MUAK kepadaku. Pasti aneh, pasti nyleneh.

Saat aku berani bilang,  "Aku benci kalian."
Apakah kalian ndak ingin tau alasanku?
Saat aku bilang benci, itu justru titik puncakku menyayangi kalian. (pasti mikirnya aneh-aneh, haha)
Ini karena aku menyayangi kalian karena Allah, aku bukan membenci diri kalian, tapi aku membenci saat kita menjauh dari Sang Pencipta.
Saat kalian punya prinsip baru, dan itu menjauhkan kita kepada kodrat kita sebagai makhluk-Nya, mungkin saat itulah aku akan marah, benar-benar marah.
Tapi ingat, marahku ndak ada apa-apanya, masih ada Tuhan :)
Marah-Nya jauh lebih kita takutkan bukan?
Membenci di dalam hati adalah selemah-lemahnya iman, dan aku menyadari.

Aku membual apa yaaa?
Aku pun masih hamba yang penuh khilaf, dengan segala kekurangan.
Jika mila diam membiarkan prinsip baru kalian, mila sebenarnya menangis dalam hati. Menjerit-jerit jika kau melakukan itu. Sindiran, lewat! baiklah..
Prinsipmu yang dulu, itu karena Allah. Jika memang itu cara barumu, monggo. Kita masih saudara, dan aku merindukan kita berlomba-lomba menuju Ridho-Nya..

Ingat, SURGA MASIH TERLALU LUAS UNTUK DIHUNI SENDIRI. Belum ada jaminan mila masuk surga, begitupun KAMU. Tapi, ayolah kita bersama-sama mengingatkan. Melengkapi ukhuwah kita menuju Surga-Nya.

Hidup hanya sekali, hidup ini titipan, siapa pun yang merasa, aku cuma bisa kasigh senyum.

Luruskan niat, jaga hati-hati kalian. JAGA HATI KALIAN :)

Allah bisa saja cemburu, jangan duakan Dia. Dia khaliq-Mu, Dia melihat segala tingkah polah kita.

Mungkin ini memalukan jika aku mengucapkannya, tapi aku ingin katakan ini karena Allah alasanku, "Mila merindukanmu karena Allah, jaga hatimu, teruslah memantaskan dirimu."



Ini aku ngakak nulisnya.. :D


Selasa, 15 April 2014

Keanehanmu, Ayah..

Semakin ku tau kau memang ciptaan-Nya yang aneh, teramat aneh untuk diungkapkan.
Sesorean saja terfikir tentangmu, bunyi dering telfon genggam menjawab lantang.
Dan ini aneh, menyambut “Sehat nduk?”
Bagai hembusan angin sepoi di siang terik.
Bagai rintik air di tengah gersangnya gurun.
Bagai cekikik burung yang riuh di pagi buta.
Dan segala keanehanmu penuh misteri.
Bermula dari persepsi akan monster, yang dulunya hampir telinga ini tersumbat oleh dua kepalan mungil yang ketakutan. Bersembunyi di balik bantal bermotif catur terisikan animasi kartun, kapankah itu?
Pintu kamarpun enggan menganga mengintip dunia luar, dan yang ada; hening. Yang ada hanyalah ketakutan akan badai yang terus menghujam karena salahku, khilafku, futurku, lalaiku, dan tabiat burukku.
Ayah.....
Kau tawarkan kedamaian dibalik caramu.
Kau hadiahkan kebahagiaan dibalik lakumu.
Kau suguhkan senyum dibalik tuduhmu.
Kau hamparkan panorama senja yang mendamaikan.
Dan itulah engkau, lelaki aneh yang sangat aneh.
Bagiamana mungkin kau rela dicap galak untuk membuatku bahagia sekarang?
Bagaimana mungkin kau bersedia dijuluki tempramen karena untuk membuatku tegar?
Caramu tak habis fikir membuatku gila..
Menyesali dengan usiaku yang semakin tua, bahkan tuaku ini karena kasihmu, karena engkaulah aku  belajar menikmati hidup sampai setua ini.
Kapan giliranku?
Kapan anakmu menebus keanehan itu?
Kapan aku berlaga menjadi Hero yang sebenar-benarnya?
Pahlawan nyata untukmu, ayah!
Kapan?
Hingga kini, aku merantau..
Tak menyaksikan bagaimana engkau berlelah-lelah.
Tak menyentuh urat kakimu yang pegal karena mengayuh hidup.
Tak juga mengobati lecet lenganmu karena terus menikam ganas dunia.
Ayah, seperti yang pernah ku kenal.
Engkau adalah makhluk dengan berjuta kelebihan, tak kan mampu orang menduplikasi.
Untuk sekedar menyerupaimu sedetik secara sempurna, tak akan mungkin bisa.
Biarlah aku yang merekam ketangguhan dari pangeran hidupku.
Hingga usiaku mencapai 20 tahun kurang 6 hari, kau tetaplah lelaki idola idamanku.
Allah..
Jikalau nanti kau hadirkan seorang imam dalam hidupku, buatlah aku untuk semakin ingat kepeda-Mu.
Karena kehadirannya, semuga ayahku semakin aku horamati dan aku penuhi segala jerih payahnya.
Tak ada tuntutan dariku untuk dia menjadi aneh seperti ayahku.
Biarlah kau aneh menjadi dirimu, karena setiap dari kita adalah aneh dengan cara kita.
Begitu picik jika kita menuntut sempurna seperti teori yang sduah ada.
Semua adalah mozaik, berubah, berbenah...
Orintasi kebaikan menuju kekekalan surga.

Kelingkingku terlihat aneh, dan itu kau turunkan untukku, ayah.
Anakmu bangga, bangga karena anehmu adalah karena rasa cinta kepada Sang Pemberi Hidup, Allah Yang Maha Esa. Karena-Nya, kau rela, kau bersedia untuk berpura-pura seperti raungan singa, padahal hatimu lebih lembut dari terbangan bunga dandelion. Indah, ayah..
Allah, izinkan ikatan ini berlanjut sampai Surga.
Karena aku percaya kita akan segera terpisah di dunia, entah ayah, atau anakmu lebih dulu..
Kita bertemu karena Allah, dan berpisahpun karena-Nya, ayah..

Ayah, ayah, terimakasih, kau beri aku cinta..
Ayah, ayah terimaksih, ajarkan aku hidup..
(Ayah by Opick feat. Adiba)


Rumah Cinta, 05 April 2014


Kamis, 20 Maret 2014

HIMABIO, TAO, hingga SUNMOR "Terpanjang"

Kembali lagi aku hanya bisa bersenandung lewat tulisan, dan inilah aku..
____________________________________________________

Pagi yang indah di hari sabtu yang berkah, kurasa semua punggawa HIMA sudah siap dengan tas ransel dengan berbagai amunisi wajib: alat tulis, alat ibadah, alat mandi, mantel, kado silang, baju ganti, makanan, obat pibadi dan co-card lucu khas dari setiap bidang. Mungkin yang tidak aku temui adalah si cantik Virgin yang ternyata punya acara yang sudah di agendakan sampai Ahad sore. Tak apa nduk, nanti ilmunya bisa kepo dari bundamu atau saudaramu di HUMAS, hehe. Kemudian ada si cantik Fita yang tidak bisa bergabung, dikarenakan sakit. Semuga Allah segera memberi kesembuhan. Percayalah, sakit itu akan menggugurkan dosa-dosa jika kita ikhlas menikmatinya. Fita nanti juga bisa minta didongengin bapakmu, Mas Hening atau Mas Abid. Atau memilih didongengin sama mbak? *nah lho, haha

Pukul 06.30 mulai berdatangan, ada yang hilir mudik di deksel (Dekanat Selatan) dan juga yang ribut di HIMA. Esensinya, kita sama-sama bersiap untuk moment terindah untuk meng-UPGRADE diri. Hemm, kemas mengemas barang sudah siap. Akhirnya kita cus menuju Ketep dengan pemberangkatan dua kloter. Hehe, hayo masih ingat yang di depan atau belakangnya? Maaf, mbak ndak hafal di kloter 1 secara utuh, hehe manusiawi. Kloter dua akan kucoba ingat: Mbak Iput, Mbak Ve, Hendy, Mas Rio, Mas Gana, Dhanang, Nurul, Emma, Ihsan, Nilam, Radha, Mila, Masna, Arbi, Rieska, Vella, dan Desi (kalo ada yang terselip maaf, hehe faktor usia).

Perjuangan kita dimulai juga. Kloter pertama diberangkatkan dengan utuh. Namun apa ternyata? Satu rombongan terpisah menjadi 3 bagian. Riemas dan Adit motornya bocor hingga harus disusul oleh Aa’ Ajay dan Kakak Ucup. Tak perlu khawatir dengan makanan kita dhek, toh semua juga sudah kenyang, iya kak? Yang penting kalian sehat. Hehe, Duo KESMA juga mengalami kejadian menantang, Rini dan Maya juga mengalami masalah pada motornya. Motor milik Nurul ini mogok, karena ada trouble di bagian rantai. Kalian berdua tak kalah tangguh, akhwat yang qowi’. Aku mengagumimu.

Kloter dua juga membagi diri, hehe tapi mengadopsi Paramaecium. Membelah menjadi 2, dengan Leader baru: Paket lengkap Bal dan Nil. Seperti yang sudah diintruksikan Mbak Iput, lima motor menunggu di Ketep. Karena kita tidak tau basecamp TAO, akhirnya 5 motor ngetam di warung tempe mendoan. Akhirnya fikiran-fikiran jahat kita bermunculan, hehe sekedar menuruti maunya perut, kita jajan juga. Maafkan kami, bagi siapapun yang merasa ter-dzolimi, harap mengerti tingkah polah kami yang sebenarnya memang bisa dikatakan egois. Sebagai orang yang paling tua, mila yang merasa paling –NDAK BENER- hehe.

Penantian 15 menit bersama warung ibu penjual mendoan dijawab dengan lewatnya rombongan yang tertinggal di belakang, dengan muka malu kita menyusul rombongan tadi. Tak lama, kisaran 90 detik kita sudah sampai di penginapan yang kita tempati. Betapa rasa tertampar-tampar, kenapa kita tadi tidak lanjut saja? Hehe, karena ndak tau jadi merasa tidak dikenai hukum.

Sambil menunggu adhek-adhek yang bermasalah dengan motor datang, punggawa-punggawa HIMA yang tak lengkap itu menikmati panorama bukit Ketep yang megah. SUBHANALLAH.. meni geulis pisan euy. Tapi aku tersontak dengan sms yang ditunjukkan Mbak Veve: “..........., tersisa dua.” Dari 43, tapi tak apa karena setiap dari kita tidak ada luka dan tetap saja berakhir senang karena kenyang. Allah punya –RENCANA INDAH- dengan kebersamaan kita.

Adzan Dzuhur berkumandang, waktunya bagi yang muslim beribadah. Berlanjut dengan materi pertama yang dibersamai oleh Mas Rio, Anggota dari Kanopi Indonesia. Mas Rio dengan ciri khasnya yang selalu interaktif, banyak diantara kita yang tak sungkan bercerita mengenai alasan memilih UNY, Jurdik Biologi, dan juga HIMABIO. Ada yang mengaku pilihan terakhir, tapi ada juga yang tulus mengungkap bahwa itu dari hati. Kita tau bahwa hidup ini adalah –PILIHAN- yang akan dipertanggung jawabkan. GREAT!

Mas Rio memaparkan jika kita memasuki HIMA harus berdampak manfaat buat kita, hingga kita mampu berucap: “Saya berkemampuan di bidang itu ...................................................................” Jika kita saja tidak yakin dengan diri kita, bagaimana dengan orang lain? Yang ada, pasti kita dapat cibiran dari orang-orang yang notabene belum mengenal kita. Ingat pesan Mas Rio: YAKINLAH DENGAN KEMAMPUAN DIRI. Padukan antara –KEYAKINAN- dan –DOA- hingga akhirnya kita akan peroleh –SOFTSKILL- yang mumpuni. Buktikan pada mereka bahwa KITA BISA!

Ada yang merasa hati sesak saat Mas Rio mengingatkan soal visi misi? Aku rasa semua pasti iya, apalagi para formatur: Ketua, Sekjend, Sekretaris  1, Bendahara, Kabid dan Staff Ahli BMIJ, Kabid Humas, Kabid dan Staff Ahli Kesma, Kabid dan Staff Ahli Penalaran, Kabid KWU, Kabid dan Staff Ahli BKPO, Kabid Orseni. Bagaimana kabar hati kalian? Hehe, terkadang tidur kita harus dibangunkan dengan kritikan dan masukan. Visi misi HIMABIO harus jelas dan spesifik, kita harus faham apa yang kita cari sebagai tujuan kita. Menata ulang, dibangun ulang. Bapak Gana sebagai moderator pun menambahkan kalo kita tak boleh hanya lelah karena sekedar seliweran di HIMA. Semuga kita terus mengingat pesan pamungkas dari Mas Rio ini: SILAHKAN DIPERJELAS!

Setelah ibadah Sholat Ashar ditunaikan, materi kedua diisi oleh pemateri yang tak kalah super dari kampus sebelah, Anggit Adi Wijaya. Beliau memuka slide pertama dengan tulisan: Pemimpin = Pemimpi + n. Seketika kok harus matematika? Hehe, tenang tenang. Ternyata huruf n disitu adalah kemampuan-kemampuan yang patut dicari oleh seorang yang punya mimpi, cita-cita, dan visi. Saat kita menjadi pengurus HIMA, orientasi pilihan kita bukan hanya sebatas –SUPAYA SAYA- karena itu adalah keegoisan. *plakplak

Karena kekecewaan adalah selisih jarak antara harapan dan kenyataan. Maka di HIMABIO kita harus sama-sama meluruskan niat, bersemangat untuk terus memberi kebermanfaatan untuk Jurdik Biologi. Harapan harus diimbangi dengan usaha, saat ada masalah harus saling bantu, semua bidang harus ikut andil untuk menyelesaikan bareng-bareng, serta saling memiliki. Mas Anggit juga memaparkan 5 Kriteria Manusia menurut Ainun Najib: Wajib (harus ada dalam suatu lingkungan, keberadaannya sangat dibutuhkan), Sunnah (ada ataupun tidak tidak apa-apa, tetapi jika ada justru semakin baik), Mubah (keberadaannya tanpa arti), Makruh (ada ataupun tidak tidak apa-apa, tetapi jika tidak ada jauh leih baik), dan Haram (wajib pergi ari suatu lingkungan). Refleksi diperlukan untuk tau sebenarnya apa kriteria kita, semuga punggawa HIMABIO minimal termasuk dalam kriteria sunnah. Aamiin. Kerena bermanfaat tidak perlu menunggu menjadi Presiden.

Jalankan sebuah amanah (kepercayaan) walaupun sangat kecil. Saat kita mengabaikan tanggung jawab, meski sekali maka akan tetap diingat. Kalaupun di dunia masih terbebas, maka di akhirat akan dimintai pertanggung jawaban.

Bentuk penghargaan adalah saat di-sms membalasnya. Membalas sms adalah bukti bahwa kita respect. Maaf jika mila khususnya telat atau bahkan belum menyempatkan diri untuk membalas. Maaf, mila akan berusaha memperbaikinya. Tetapi sesama keluarga kita juga diharapkan untuk khusnudzon (berbaik sangka), mungkin ada saudara kita yang tidak punya pulsa atau karena masih ada kesibukan jadi belum bisa membalas tepat waktu. Inti dari paparan Mas Anggit di point ini adalah: RESPECT DARI HAL KECIL!

Nyalakan lilin, bukan hanya mengutuk kegelapan. Mencela dan mengkritik adalah perkara yang gampang, tapi cobalah untuk selalu memberi –SOLUSI- dan jangan hanya jadi generasi pengkritik. Mas Anggit merekomendasikan punggawa HIMA untuk membaca biografi pejuang bangsa seperti, Soekarno, Hatta, dan Syahrir. “Jangan pernah lelah untuk Indonesia, karena Indonesia adalah alasan kita untuk tidak pernah lelah dalam berkarnya,” tambah mahasiswa dengan Jurusan Geografi ini.

Mahasiswa yang pernah menjabat sebagai Ketua BEM ini juga menjelaskan bahwa HIMA adalah sarana atau tempat untuk penguat keilmuan biologi. Bermanfaat adalah karena saling bersama. Menurut versinya Mas Anggit, seorang yang baik; ketika bersama orang kecil tidak sombong dan ketika bersama orang besar tidak merasa minder.

MIMPI tercapai karena adanya usaha dan doa. Harus bekerja di luar orang sewajarnya, harus berada di atas rata-rata orang, dan harus berjuang. Itulah bentuk romantika dari setiap jenjang kehidupan. Selalu berusahalah untuk merefleksikan diri. Mas Anggit menutup dengan pesan super: Semua orang suci punya masa lalu dan orang bejat pun punya masa depan. RUBAHLAH DIRIMU SEBELUM KAU MERUBAH DUNIAMU!

Hari semakin malam, pensi adalah ajang untuk melihat bakat-bakat terpendam dari punggawa-punggawa HIMA. Mau cerita detail tapi ternyata sudah memasuki halaman ke-4. Nanti yang baca malah bosen hehe. Malam itu mucul banyak bakat dan keanehan yang membuat perut terasa sakit karena menahan tawa. KWU: Bapak Hendy kau sangat mendalami, keempat putrimu  (Dwi, Vella, Desi, dan Atul) masih malu-malu ternyata. Tapi keren untuk pembuka. PI: Ada kakak Sari yang membuat puisi reflek dan sampai menyentuh, itu hebat sekali. Kalo ucup mah udah biasa hehe (peace Aulia). Fandy, terimakasih buat genjrengannya. Ayu, jangan bingung saat semua memang serba dadakan dan reflek. ORSENI: Kalian super kocak. Bowo promosi Autin, Rieska dengan Hp-nya, hehe Ihsan dengan Fatogen. Dhanang, Ema, dan Arbi kalian juga berbakat. Keren hehe. BMIJ: ini bidang paling “saru” ada tokoh Roy yang ternyata diperankan oleh Hening yang terkenal diam. Abid yang seperti biasa, bikin ngakak. Mayta, Gahar, dan Nurul, sabar ya nduk. Kalian harus sering mengingatkan kalo dua bapak kalian itu pacaran terus, hahahahaha. BKPO: Pantomim yang ternyata bikin Yono makin eksis, hehe dari mulai gelar mirip bang DJ (Dwi jarot), Boo di kartun sinchan, sampai Jarjit kawannya Upin Ipin (afwan dhek, jika mbak ikut mem-bully). Abang lucu banget jadi bapak. Hehe, Westhi jangan selingkuh sama Adit yaa. Anes dan Yekti, pertahankan keluarga bahagia kalian. HUMAS: Tam, jangan dibiarin anak-anakmu galau terus. Apalagi Riemas, harus move on dhek. Radha, diam-diam kau memakai nama samaran “Yono” demi menggaet cintanya Adit. Nilam, jangan ikutan galau kayak Riemas yaa. KESMA: Naratornya udah keren banget, senggol teh Rini. Desi dan Maya ternyata gaul bingit. Fina, aku ora papa. Hehe, Masna jagain anak-anaknya. Ehh, kok yang paling sholih tapi bendel, Afrizal aktingnya kayak kilat, apa maksudnya dhek? Haha.. Tapi Jargon kalian keren, tambah lagi dramanya paling beresensi. PENALARAN: hehe pantunnya masih saja bernalar ternyata. Waktu nantang Mas Ojan berpantun, Nensi keren banget. Bima, ternyata kamu bisa berpantun. Wulan dan Dwi mah udah ndak diragukan lagi. Hehe Untsa dan Dixy yang akur yaaa, eks-penalaran juga mau dibuatin pantun. Hehe. MPO: mulai dari peniti beras, Ustadz Guntur Boom, Bopak Kastelo, DP, Jupe, dan stand mic yang bisa ngomong. Semua keren, tarik: Mbak Ayas, Mbak Veve, Mas Ojan, Mas Aji, Mas Fajar, Mbak Iput, Mbak Dina, Mbak Ama dan  Mbak Tria. Cukup menghibur.

Bagaimana perasaan anda, Bapak Aulia? Setelah menyaksikan 2 video sebagai kado. Semuga pesan yang ada didalamnya bisa tersampaikan. Monggo, mau dimaknai atau disikapi seperti apa. “Dekap mimpimu. Rangkul saudaramu, nak! Amanah tak akan salah memilih.. Tak akan salah menyangka.. Karena, anakku begitu tangguh merapatkan remigesnya...” 
____________________________________________________

Pagi-pagi sudah dibuat nagis dengan video tentang Ibu. Tambah bumbu semakin melow dari Mas Fajar. Terimaksih untuk MPO yang telah mengingatkan kita mengenai orangtua yang tak pernah lelah berjuang untuk kita. Love your mother, your mother, your mother, and then your father.

It’s time to outbond. Dimulai dengan membagi kelompok menjadi enam. Dengan waktu 4 menit, digunakan untuk membuat nama dan yel-yel. Awalnya mila bergabung bersama kelompok “baik-baik”, tapi maaf mila beralih ke kelompok “sunmor” dengan anggota: Dhanang, Yono, Untsa, Fina, Ayu, dan Wulan. Masih ada kelompok yang lain seperti Mumu7, Woyo Joss, Patogen, dan Chupa Cups.

Kelompok kami diberangkatkan pertama dengan rekor garis terpanjang yang telah dibuat dengan menggunakan tubuh. Kita memberi julukan kelompok “Sunmor Terpanjang”, karena apa? Karena rute outbond kita juga yang paling panjang, hehe tersasar sampai plang Masjid. Entah kita sudah melewati berapa kilo *hehe hiperbola.

Dimanapun, apalagi organisasi, pasti harus ada yang dikorbankan. Dari pos pertama kita sudah langsung mengamalkan apa yang diperoleh. Karena kita tersesat yang pertama, kita membuat kelompok ketiga (Patogen) tidak berjalan sejauh kita. Hehe menghibur diri. Di pos ke-1, kita sempat bermain memindahkan gelas dengan satu leader dan enam yang lain dalam kondisi berpenutup kepala. Mas Ojan dan Mbak Ayas meminta kita menasarikan permainan tadi. Ada banyak jawaban super yang muncul, intinya: kita harus percaya terhadap pemimpin, karena kita sudah memilih maka kita harus mentaati pemimpin, selama itu menuju kebaikan.

Setelah tersasar jauh, teringat lagu Ninja Hatori, “Mendaki gunung lewati lembah.............” Mbak salut sama kalian dhek, kalian tangguh sekali. Saling menguatkan, saling melengkapi dan terus memberi semangat. Tak salah mbak memilih sekelompok bersama kalian. Bertemulah kita dengan pos ke-2, ada Mbak Veve dan Mbak Icha yang tersenyum berusaha menghibur kita. Karena Untsa beristirahat, kita berenam yang memindahkan botol air mineral berisi air dari titik; anggap saja titik A ke titik B tanpa tumpah. Makna permainan ini adalah kita harus memaksimalkan waktu, tetap waspada dan konsisten dengan amanah, dan terus menjaga kekompakan dengan strategi demi mencapai tujuan.

Pos ke-3 kita bermain air bersama Mas Fajar dan Mas Aji. Saya lupa nama permainannya, dan cara mainnya cukup ribet jika dijelaskan dengan tulisan. Makna yang paling keren diungkap oleh Untsa, intinya antara bidang harus saling merasakan, harus menginjak kotak-kotak. Mas Fajar menambahkan bahwa jalan untuk mencapai tujuan itu tidak hanya satu, saat ada salah, kita harus mengulang dengan cara yang lian, strategi yang lain.

Ini adalah keunikan dari setiap manusia, teringat game di pos ke-4 (Mbak Tria dan Mbak Dina), saat setiap dari kita mengambil selembar koran, sebenarnya itulah awal dari –KESAMAAN- kita. Yeah, setiap dari kita adalah sama, sama-sama di Jalan ini, di HIMABIO. Dengan instruksi yang sama, dengan langkah dan prosedur yang sama kita melipat dan berujung dengan sobekan di bagian kiri atas. Kalian juga menerima instruksi yang sama bukan? Dan lihat apa hasilnya? Tak ada satupun lubang di tempat yang sama, setiap sobekan itu bervariasi. Di kelompok “SUNMOR” ada yang paling lucu, milik Safina sobek di bagian bawah, dan itu memanjang. Si sekretaris muda, Ayu lebih lucu lagi, ada kerangka menyerupai kupu-kupu, dan itu 8 pasang. Mbak Dina menyampaikan bahwa setiap dari kita adalah sama, berada di HIMABIO. Selama satu kepengurusan nanti, mungkin Kakak Ucup lah yang akan memimpin kita, dengan intruksi yang sama. Tapi apa hasilnya? Pasti kita punya cara yang berbeda-beda untuk mencapai –TUJUAN YANG SAMA- sesuai dengan batasan GBHK. Setiap manusia adalah unik, tapi cara kita yang membuat kita semakin berwarna. Di jalan ini, Allah mempertemukan kita, di jalan ini pulalah kita berlelah-lelah untuk –KEBERMANFAATAN HIMABIO- dan memperoleh ridho-Nya.

TAO (Training Awal Organisasi) ditutup dengan acara tukar kado dan pengumuman penghargaan. Untuk pengurus teraktif dinobatkan kepada Mayta staff BMIJ, co-card terbaik kepada Bidang KWU, Pensi terbaik pada bidang Orseni, dan Outbound terbaik pada kelompok Sunday Morning alias SUNMOR.
“Bersih bersinar, SUNMOR..”
____________________________________________________

Perjalanan pulang penuh perjuangan, kabut turun mendadak bersama hujan yang membuat jalanan kian licin. Terimakasih buat Rieska cantik, bersedia motornya dipinjamkan buat mbak dan mbak Masna. Maaf buat Abang Anton yang merasa jadi obat nyamuk saat Hendy ngobrol sama Masna, Ayu diskusi dengan Dwi, dan Yono sharing dengan Mila. Maaf abang, mila ndak akan kayak gitu lagi, hikshiks.

Buat adhek-adhek yang masih mempunyai tanggungan laporan di hari senin dan harus berangkat jam tujuh, sungguh kalian lebih hebat dari mbak. –KALIAN TANGGUH- dan aku mengagumi kalian yang tak pernah lelah untuk berproses menuju kebaikan.
Salam cinta Himabio 2014: Berkarya, menembus cakrawala..
____________________________________________________


“Tanggung jawab orang tua, tanggung jawab bangsa, tanggung jawab sebagai makhluk-Nya”
-Anggit Adi Wijaya-

“Bersyukur itu menyibak kabut; menuntun ke jalan-jalan kebaikan yang kadang tersembunyi di balik kemudahan terabaikan dan kesulitan menghadang”
-Ustadz Salim A. Fillah-

“Ada yang bilang kalau takdir di luar kendali kita.
Takdir bukan hanya milik kita.
Tapi aku lebih memahaminya..
Takdir kita, tinggal dalam diri kita.
Kau harus menjadi cukup berani untuk melihatnya.” 
-Putri Merida dalam film Brave-

“Inilah hidup, inilah dunia, dan inilah dewasa..”
-Milatus Sa’diyyah-

Untuk hari ini: Jangan tanyakan kenapa mila online? Kenapa mila malah nonton “Brave”? Kenapa mila nulis sebanyak ini? Dan kenepa mila seaneh ini?
Karena setiap oarang punya alasan untuk melakukan sesuatu. Anda pun patut berspekulasi, namun hanya Allah dan yang menjalaninya lah yang tau sebenarnya. Intinya: SALING PERCAYA

Rumah cinta, 11 Maret 2014
Mozaik19_