Tampilkan postingan dengan label Saudara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saudara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 November 2014

Biar Lidah Beda Rasa, Jika Hati Sama Rasa

Beginilah kita yang sedarah, yang mencintai warna biru dan abu-abu. 
Yang sama-sama memantskan diri untuk orang yang sangat berharga buat kita nantinya.


Kedekatan kita adalah ketika kita berlama-lama mengingat diantara kita. 
Tak akan basi karena waktu, tak akan berkurang meski penuh jarak.
Hitungan detik pun mampu mengabadikannya, tapi kita punya cerita di bawah langit yang sama.
Cerita yang tak hingga jika diindra, yang penuh makna, yang terungkap dalam hati-hati kita.


Besar kita penuh pertengkaran, bahkan channel televisi pun kadang berujung tangis karena kita penuh dengan egositas tanpa batas merebutkannya. Saat Ayah pulang membawa sedikit makanan, itu saatnya adikku mulai menakar mana yang sekiranya lebih berat beberapa gram. Hehehe, mungkin saat itu ada beberapa setan yang nimbrung buat ikut mencicipi juga. Jadi kadar ego justru semakin banyak dikultur dan bersemai di setiap momen berbagi kita. Pergi sana setan!

Tapi Ayah tak kalah tegas dengan tingkah kita yang masih saja mementingkan diri sendiri. Bercandaan Ayah kemudian muncul, "Ngawe ring tinju wae kono.." (baca: buat ring tinju aja sana..)
Inilah salah satu bentuk cara Ayah memberikan alarm bahwa yang demikian itu tidak pantas buat sesama saudara.
Belum lagi ibu kita, menyudahi tingkah kita dengan gelengan kepala. Tanda memang ini hal yang tidak patut. Dan seketika itu, mungkin setan mulai melenggang pergi. Masalah selisih beberpa gram tadipun tak lagi diungkit. Kebahagiaan melihat saudara kita kenyang adalah bentuk kekenyangan batin tertinggi.

Saat kita semakin dewasa, bahkan tanah rantau pun semakin membuat kenangan-kenangan perebutan makanan itu datang menampar-nampar. Jogja; adalah kota penuh dengan aneka kuliner, baik yang khas seperti gudeg, atau bahkan yang dari orang pendatang seperti makanan Padang. Belum lagi makanan berbahan pati seperti bakwan kawi, pentol tusuk, siomay, cilok, dan yang lain. Selalu mengingatkan bahwa: DULU KITA SELALU BERBAGI, menyisakan sedikit makanan. Tepatnya menyisihkan sedikit makanan untuk dicicipi masing-masing dari kita. Berbagi; hal rutin yang kita lakukan sebelum 2,5 tahun ini.

Berharap sama-sama merasakan apa yang ada, tapi jarak lah yang membuat lidah kita merasakan rasa yang berbeda. Itu hanya lidah, cukup hanya lidah. Kita sama-sama merasakan manisnya menuntut ilmu. Masih merasakan segar tetesan hujan ketika musim penghujan menjemput.

Allah masih menganugerahkan kenikmatan yang sama, yaitu IMAN. Semuga keteguhan kita meniti jalan-Nya diberikan keistiqomahan yang menuai berkah. Sebagai makhluk yang penuh dengan baluran dosa, semuga iman kita yang menumbuhkan kecintaan tiada tara kepada Allah. Yang menghidupkan kedamaian, cinta dan harapan. Yang nantinya mengantarkan kita untuk saling menjaga sebagai sesama saudara seiman. Ya, hamba memohon ukhuwah ini terjaga sampai ke Surga...

Adik, jaga hatimu untuk seseorang yang berharga dalam hidupmu kelak.
Sekarang dan hingga nanti, kita berjuang untuk Ayah dan Ibu yang tak kalah berharga, karena mereka merupakan anugrah terindah yang Allah kirimkan buat kita.

Hehehe, bersemangat memantaskan diri adikku tersayang; Muhammad Alfian Ikhsan.
Mesir menantimu! Yakinlah! hehe


Minggu, 06 Juli 2014

Seri Mozaik Didi #3 KEPERCAYAAN, LALU TETES AIR MATA ADALAH KEBAHAGIAAN!

Tetes air mata adalah kebahagiaan!”, seru Didi dengan bersemangat.

_______________________________________________________

Tak terasa nikmat tiada tara masih diperoleh di tanggal 7 Ramadhan 1435 H, di kalender Masehi terhitung tanggal 05 Juli 2014. Rabbii, kebahagian ini tak terukur dengan berbagai tarikan nafas yang seru bersenandung. Rona warna yang tergambar bersama pandangan akan dunia. Gerak langkah sendi yang mampu mengantarkan menuju kebaikan. Semua karena atas izinmu, Didi mampu berbenah, memantaskan diri, mengais ridho-Mu.

Didi beberapa hari ini terlihat kosong dengan tatapannya. Kedua alisnya yang menyatu semakin menegaskan memang dia tampak berbeda. Mungkin hanya yang –PEKA- lah yang mungkin mengerti akan hal itu. Apa karena aura puasa? Dengan tegas itu bukan penyebabnya.

Binar bahagia hanya timbul tenggelam dari sorot mata gadis berkulit sawo matang ini. Lelah karena menahan dahaga dan lapar; bukan itu! Buktinya dari waktu sahur pun segera hadir rutinitas yang menjalar rapi menghiasi harinya. Kesemuanya rampung diselesaikan.

Kebahagiaan sebenarnya muncul dari cara pandang seorang pribadi menyikapi kehidupan. Takaran naik level itu bukan seperti eskalaor yang tinggal diam kemudian sampai di puncak. Tanpa peluh, tanpa susah, tanpa mengurangi ATP, bukan perkara segampang itu. Level meningkat adalah dengan adanya masalah yang tak hanya sederhana. Kalo setiap manusia mampu menyikapinya dengan bijak, penuh tindakan solutif; tak hanya keren, tapi justru akan tercetak menjadi seseorang yang hebat dan tanngguh.

Allah telah firmankan di dalam  Surat Ash-Syarh ayat 5-6, yang artinya: Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Allah pun sudah menjelaskan demikian. Pasti setelah adanya lelah pasti ada pelangi kebahagiaan, yang akan mengundang kebaikan-kebaikan setelahnya. Lelah hanyalah sementara, bahkan akan segera menguap dan lenyap.

Didi tampak kumal karena ada sedikit tekanan dengan yang namanya –KEPERCAYAAN- ternyata. Bulan dimana semua setan dibelenggu dan pintu-pintu neraka ditutup inilah yang mengajarkan bahwa kepercayaan terhadap saudara bukanlah permainan. Bukan seperti monopoli yang dilempar, diundi, atau apalah itu. Kepercayaan bukan sesuatu yang bisa digadaikan juga.

Seperti gelas bening yang telah tergores, maka kepercayaan itu akan terluka jika disalahgunakan. Mengemban kepercayaan itu seperi dititipi amanah. Si pemberi akan dengan rela melimpahkan rasa percaya kepada si penerima, untuk dijaga sesuai haknya. Tapi memang perlu disadari, jika menaruh harapan terhadap makhluk itu tidak akan selamanya bisa. Ujungnya ada berbagai prediksi yang tidak pasti. Salah-salah malah yang ada hanyalah kecewa yang berkepanjangan.


Disinilah Didi mengerti apa itu menjaga kepercayaan dari saudara. Seharusnya dan memang sudahlah pasti, harapan disuguhkan kepada Allah. Hanya kepada Allah. Maka tak akan ada rasa kecewa yang menyudahi di setiap kejadian. Hasilnya sesuai keinginan ataupun tidak, pasti akan ada hikmah disana. Secara otomatis maka seorang hamba akan menerima segala kepastian jika memang alasannya adalah Allah, Sang Maha Pembolak-balik Hati.