Beginilah kita yang sedarah, yang mencintai warna biru dan abu-abu.
Yang sama-sama memantskan diri untuk orang yang sangat berharga buat kita nantinya.
Kedekatan kita adalah ketika kita berlama-lama mengingat diantara kita.
Tak akan basi karena waktu, tak akan berkurang meski penuh jarak.
Hitungan detik pun mampu mengabadikannya, tapi kita punya cerita di bawah langit yang sama.
Cerita yang tak hingga jika diindra, yang penuh makna, yang terungkap dalam hati-hati kita.
Cerita yang tak hingga jika diindra, yang penuh makna, yang terungkap dalam hati-hati kita.
Besar kita penuh pertengkaran, bahkan channel televisi pun kadang berujung tangis karena kita penuh dengan egositas tanpa batas merebutkannya. Saat Ayah pulang membawa sedikit makanan, itu saatnya adikku mulai menakar mana yang sekiranya lebih berat beberapa gram. Hehehe, mungkin saat itu ada beberapa setan yang nimbrung buat ikut mencicipi juga. Jadi kadar ego justru semakin banyak dikultur dan bersemai di setiap momen berbagi kita. Pergi sana setan!
Tapi Ayah tak kalah tegas dengan tingkah kita yang masih saja mementingkan diri sendiri. Bercandaan Ayah kemudian muncul, "Ngawe ring tinju wae kono.." (baca: buat ring tinju aja sana..)
Inilah salah satu bentuk cara Ayah memberikan alarm bahwa yang demikian itu tidak pantas buat sesama saudara.
Belum lagi ibu kita, menyudahi tingkah kita dengan gelengan kepala. Tanda memang ini hal yang tidak patut. Dan seketika itu, mungkin setan mulai melenggang pergi. Masalah selisih beberpa gram tadipun tak lagi diungkit. Kebahagiaan melihat saudara kita kenyang adalah bentuk kekenyangan batin tertinggi.Tapi Ayah tak kalah tegas dengan tingkah kita yang masih saja mementingkan diri sendiri. Bercandaan Ayah kemudian muncul, "Ngawe ring tinju wae kono.." (baca: buat ring tinju aja sana..)
Inilah salah satu bentuk cara Ayah memberikan alarm bahwa yang demikian itu tidak pantas buat sesama saudara.
Saat kita semakin dewasa, bahkan tanah rantau pun semakin membuat kenangan-kenangan perebutan makanan itu datang menampar-nampar. Jogja; adalah kota penuh dengan aneka kuliner, baik yang khas seperti gudeg, atau bahkan yang dari orang pendatang seperti makanan Padang. Belum lagi makanan berbahan pati seperti bakwan kawi, pentol tusuk, siomay, cilok, dan yang lain. Selalu mengingatkan bahwa: DULU KITA SELALU BERBAGI, menyisakan sedikit makanan. Tepatnya menyisihkan sedikit makanan untuk dicicipi masing-masing dari kita. Berbagi; hal rutin yang kita lakukan sebelum 2,5 tahun ini.
Berharap sama-sama merasakan apa yang ada, tapi jarak lah yang membuat lidah kita merasakan rasa yang berbeda. Itu hanya lidah, cukup hanya lidah. Kita sama-sama merasakan manisnya menuntut ilmu. Masih merasakan segar tetesan hujan ketika musim penghujan menjemput.
Allah masih menganugerahkan kenikmatan yang sama, yaitu IMAN. Semuga keteguhan kita meniti jalan-Nya diberikan keistiqomahan yang menuai berkah. Sebagai makhluk yang penuh dengan baluran dosa, semuga iman kita yang menumbuhkan kecintaan tiada tara kepada Allah. Yang menghidupkan kedamaian, cinta dan harapan. Yang nantinya mengantarkan kita untuk saling menjaga sebagai sesama saudara seiman. Ya, hamba memohon ukhuwah ini terjaga sampai ke Surga...
Adik, jaga hatimu untuk seseorang yang berharga dalam hidupmu kelak.
Sekarang dan hingga nanti, kita berjuang untuk Ayah dan Ibu yang tak kalah berharga, karena mereka merupakan anugrah terindah yang Allah kirimkan buat kita.
Hehehe, bersemangat memantaskan diri adikku tersayang; Muhammad Alfian Ikhsan.
Mesir menantimu! Yakinlah! hehe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar