Selasa, 15 April 2014

Keanehanmu, Ayah..

Semakin ku tau kau memang ciptaan-Nya yang aneh, teramat aneh untuk diungkapkan.
Sesorean saja terfikir tentangmu, bunyi dering telfon genggam menjawab lantang.
Dan ini aneh, menyambut “Sehat nduk?”
Bagai hembusan angin sepoi di siang terik.
Bagai rintik air di tengah gersangnya gurun.
Bagai cekikik burung yang riuh di pagi buta.
Dan segala keanehanmu penuh misteri.
Bermula dari persepsi akan monster, yang dulunya hampir telinga ini tersumbat oleh dua kepalan mungil yang ketakutan. Bersembunyi di balik bantal bermotif catur terisikan animasi kartun, kapankah itu?
Pintu kamarpun enggan menganga mengintip dunia luar, dan yang ada; hening. Yang ada hanyalah ketakutan akan badai yang terus menghujam karena salahku, khilafku, futurku, lalaiku, dan tabiat burukku.
Ayah.....
Kau tawarkan kedamaian dibalik caramu.
Kau hadiahkan kebahagiaan dibalik lakumu.
Kau suguhkan senyum dibalik tuduhmu.
Kau hamparkan panorama senja yang mendamaikan.
Dan itulah engkau, lelaki aneh yang sangat aneh.
Bagiamana mungkin kau rela dicap galak untuk membuatku bahagia sekarang?
Bagaimana mungkin kau bersedia dijuluki tempramen karena untuk membuatku tegar?
Caramu tak habis fikir membuatku gila..
Menyesali dengan usiaku yang semakin tua, bahkan tuaku ini karena kasihmu, karena engkaulah aku  belajar menikmati hidup sampai setua ini.
Kapan giliranku?
Kapan anakmu menebus keanehan itu?
Kapan aku berlaga menjadi Hero yang sebenar-benarnya?
Pahlawan nyata untukmu, ayah!
Kapan?
Hingga kini, aku merantau..
Tak menyaksikan bagaimana engkau berlelah-lelah.
Tak menyentuh urat kakimu yang pegal karena mengayuh hidup.
Tak juga mengobati lecet lenganmu karena terus menikam ganas dunia.
Ayah, seperti yang pernah ku kenal.
Engkau adalah makhluk dengan berjuta kelebihan, tak kan mampu orang menduplikasi.
Untuk sekedar menyerupaimu sedetik secara sempurna, tak akan mungkin bisa.
Biarlah aku yang merekam ketangguhan dari pangeran hidupku.
Hingga usiaku mencapai 20 tahun kurang 6 hari, kau tetaplah lelaki idola idamanku.
Allah..
Jikalau nanti kau hadirkan seorang imam dalam hidupku, buatlah aku untuk semakin ingat kepeda-Mu.
Karena kehadirannya, semuga ayahku semakin aku horamati dan aku penuhi segala jerih payahnya.
Tak ada tuntutan dariku untuk dia menjadi aneh seperti ayahku.
Biarlah kau aneh menjadi dirimu, karena setiap dari kita adalah aneh dengan cara kita.
Begitu picik jika kita menuntut sempurna seperti teori yang sduah ada.
Semua adalah mozaik, berubah, berbenah...
Orintasi kebaikan menuju kekekalan surga.

Kelingkingku terlihat aneh, dan itu kau turunkan untukku, ayah.
Anakmu bangga, bangga karena anehmu adalah karena rasa cinta kepada Sang Pemberi Hidup, Allah Yang Maha Esa. Karena-Nya, kau rela, kau bersedia untuk berpura-pura seperti raungan singa, padahal hatimu lebih lembut dari terbangan bunga dandelion. Indah, ayah..
Allah, izinkan ikatan ini berlanjut sampai Surga.
Karena aku percaya kita akan segera terpisah di dunia, entah ayah, atau anakmu lebih dulu..
Kita bertemu karena Allah, dan berpisahpun karena-Nya, ayah..

Ayah, ayah, terimakasih, kau beri aku cinta..
Ayah, ayah terimaksih, ajarkan aku hidup..
(Ayah by Opick feat. Adiba)


Rumah Cinta, 05 April 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar