Sabtu, 13 Desember 2014

Sehelai Hati Wanita Tua



Tumpukan bata itu mulai retak
Membelah angan yang coba disusun
Seperti wanita tua yang mengucur duka di helaian alis matanya
Tampak selepas pukulan menghujam ketika dia terduduk santai
Sehelai hati yang tertancap adalah kawan karibnya
Hanya ada prasangka yang membuat dunia semakin berwarna
Terpercik tinta aneka rupa jika hati itu bersuara
Tinggal dinanti saja
Dia bicara –BAIK SANGKA- ataukah lawannya

Kini..
Wanita tua yang tumbuh itu; menempuh jalan bersama sehelai hatinya
Percaya bahwa Tuhan selalu hadir
Tanpa keluh yang menggila di depan rupa-rupa
Keriputnya itu pun lupa
Hanya ada bahagia yang diolah
Disemai di balik arakan awan yang megah di atas sana
Bersama sehelai hatinya..






Tidak ada komentar:

Posting Komentar