Minggu, 06 Juli 2014

Seri Mozaik Didi #3 KEPERCAYAAN, LALU TETES AIR MATA ADALAH KEBAHAGIAAN!

Tetes air mata adalah kebahagiaan!”, seru Didi dengan bersemangat.

_______________________________________________________

Tak terasa nikmat tiada tara masih diperoleh di tanggal 7 Ramadhan 1435 H, di kalender Masehi terhitung tanggal 05 Juli 2014. Rabbii, kebahagian ini tak terukur dengan berbagai tarikan nafas yang seru bersenandung. Rona warna yang tergambar bersama pandangan akan dunia. Gerak langkah sendi yang mampu mengantarkan menuju kebaikan. Semua karena atas izinmu, Didi mampu berbenah, memantaskan diri, mengais ridho-Mu.

Didi beberapa hari ini terlihat kosong dengan tatapannya. Kedua alisnya yang menyatu semakin menegaskan memang dia tampak berbeda. Mungkin hanya yang –PEKA- lah yang mungkin mengerti akan hal itu. Apa karena aura puasa? Dengan tegas itu bukan penyebabnya.

Binar bahagia hanya timbul tenggelam dari sorot mata gadis berkulit sawo matang ini. Lelah karena menahan dahaga dan lapar; bukan itu! Buktinya dari waktu sahur pun segera hadir rutinitas yang menjalar rapi menghiasi harinya. Kesemuanya rampung diselesaikan.

Kebahagiaan sebenarnya muncul dari cara pandang seorang pribadi menyikapi kehidupan. Takaran naik level itu bukan seperti eskalaor yang tinggal diam kemudian sampai di puncak. Tanpa peluh, tanpa susah, tanpa mengurangi ATP, bukan perkara segampang itu. Level meningkat adalah dengan adanya masalah yang tak hanya sederhana. Kalo setiap manusia mampu menyikapinya dengan bijak, penuh tindakan solutif; tak hanya keren, tapi justru akan tercetak menjadi seseorang yang hebat dan tanngguh.

Allah telah firmankan di dalam  Surat Ash-Syarh ayat 5-6, yang artinya: Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Allah pun sudah menjelaskan demikian. Pasti setelah adanya lelah pasti ada pelangi kebahagiaan, yang akan mengundang kebaikan-kebaikan setelahnya. Lelah hanyalah sementara, bahkan akan segera menguap dan lenyap.

Didi tampak kumal karena ada sedikit tekanan dengan yang namanya –KEPERCAYAAN- ternyata. Bulan dimana semua setan dibelenggu dan pintu-pintu neraka ditutup inilah yang mengajarkan bahwa kepercayaan terhadap saudara bukanlah permainan. Bukan seperti monopoli yang dilempar, diundi, atau apalah itu. Kepercayaan bukan sesuatu yang bisa digadaikan juga.

Seperti gelas bening yang telah tergores, maka kepercayaan itu akan terluka jika disalahgunakan. Mengemban kepercayaan itu seperi dititipi amanah. Si pemberi akan dengan rela melimpahkan rasa percaya kepada si penerima, untuk dijaga sesuai haknya. Tapi memang perlu disadari, jika menaruh harapan terhadap makhluk itu tidak akan selamanya bisa. Ujungnya ada berbagai prediksi yang tidak pasti. Salah-salah malah yang ada hanyalah kecewa yang berkepanjangan.


Disinilah Didi mengerti apa itu menjaga kepercayaan dari saudara. Seharusnya dan memang sudahlah pasti, harapan disuguhkan kepada Allah. Hanya kepada Allah. Maka tak akan ada rasa kecewa yang menyudahi di setiap kejadian. Hasilnya sesuai keinginan ataupun tidak, pasti akan ada hikmah disana. Secara otomatis maka seorang hamba akan menerima segala kepastian jika memang alasannya adalah Allah, Sang Maha Pembolak-balik Hati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar