“Tetes air mata adalah kebahagiaan!”, seru Didi dengan
bersemangat.
_______________________________________________________
Tak
terasa nikmat tiada tara masih diperoleh di tanggal 7 Ramadhan 1435 H, di
kalender Masehi terhitung tanggal 05 Juli 2014. Rabbii, kebahagian ini tak
terukur dengan berbagai tarikan nafas yang seru bersenandung. Rona warna yang tergambar
bersama pandangan akan dunia. Gerak langkah sendi yang mampu mengantarkan
menuju kebaikan. Semua karena atas izinmu, Didi mampu berbenah, memantaskan
diri, mengais ridho-Mu.
Didi
beberapa hari ini terlihat kosong dengan tatapannya. Kedua alisnya yang menyatu
semakin menegaskan memang dia tampak berbeda. Mungkin hanya yang –PEKA- lah yang
mungkin mengerti akan hal itu. Apa karena aura puasa? Dengan tegas itu
bukan penyebabnya.
Binar
bahagia hanya timbul tenggelam dari sorot mata gadis berkulit sawo matang ini.
Lelah karena menahan dahaga dan lapar; bukan itu! Buktinya dari waktu sahur pun
segera hadir rutinitas yang menjalar rapi menghiasi harinya. Kesemuanya rampung
diselesaikan.
Kebahagiaan
sebenarnya muncul dari cara pandang seorang pribadi menyikapi kehidupan.
Takaran naik level itu bukan seperti eskalaor yang tinggal diam kemudian sampai
di puncak. Tanpa peluh, tanpa susah, tanpa mengurangi ATP, bukan perkara
segampang itu. Level meningkat adalah dengan adanya masalah yang tak hanya
sederhana. Kalo setiap manusia mampu menyikapinya dengan bijak, penuh tindakan
solutif; tak hanya keren, tapi justru akan tercetak menjadi seseorang yang
hebat dan tanngguh.
Allah
telah firmankan di dalam Surat Ash-Syarh
ayat 5-6, yang artinya: Maka
sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan
ada kemudahan.
Allah
pun sudah menjelaskan demikian. Pasti setelah adanya lelah pasti ada pelangi
kebahagiaan, yang akan mengundang kebaikan-kebaikan setelahnya. Lelah hanyalah
sementara, bahkan akan segera menguap dan lenyap.
Didi
tampak kumal karena ada sedikit tekanan dengan yang namanya –KEPERCAYAAN-
ternyata. Bulan dimana semua setan dibelenggu dan pintu-pintu neraka ditutup
inilah yang mengajarkan bahwa kepercayaan terhadap saudara bukanlah permainan.
Bukan seperti monopoli yang dilempar, diundi, atau apalah itu. Kepercayaan
bukan sesuatu yang bisa digadaikan juga.
Seperti
gelas bening yang telah tergores, maka kepercayaan itu akan terluka jika
disalahgunakan. Mengemban kepercayaan itu seperi dititipi amanah. Si pemberi
akan dengan rela melimpahkan rasa percaya kepada si penerima, untuk dijaga
sesuai haknya. Tapi memang perlu disadari, jika menaruh harapan terhadap
makhluk itu tidak akan selamanya bisa. Ujungnya ada berbagai prediksi yang
tidak pasti. Salah-salah malah yang ada hanyalah kecewa yang berkepanjangan.
Disinilah
Didi mengerti apa itu menjaga kepercayaan dari saudara. Seharusnya dan
memang sudahlah pasti, harapan disuguhkan kepada Allah. Hanya kepada Allah. Maka tak akan ada rasa kecewa
yang menyudahi di setiap kejadian. Hasilnya sesuai keinginan ataupun tidak,
pasti akan ada hikmah disana. Secara otomatis maka seorang hamba akan menerima
segala kepastian jika memang alasannya adalah Allah, Sang Maha Pembolak-balik
Hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar