Rabu, 25 Maret 2015

[Cukup] Tersipu


Dan haruskah (lagi-lagi tersipu)?
Mencari peti yang tidak ada satupun semut menyusup, tidak ada hembusan udara yang akan berhembus. Ingin semuanya kedap, sunyi senyap, biarkan menggaung dalam hati dan itupun akan berlalu sebelum semuanya halal. Biarkan cinta ini hanya untuk-Nya, Sang Maha Cinta Yang selalu meberi Cinta. Biarkan pipi ini memerah ketika menyebut-Nya, biarkan rona bahagia ini berpendar karena kasih sayang-Nya, hanya Dia, dan cukup Dia untuk saat ini.

[Cukup] tersipu, cukup!

Akan berlalu seperti senandung nananina yang dalam hitungan detik, biarkan menjadi pelangi warna yang kemudian pergi. Karena semua adalah mengenai ketidakpastian, dan yang pasti saat ini adalah aku ingin tersipu hanya karena-Nya. Pantaskan dirimu wahai calon ibu. Kau adalah madrostul ula untuk generasi islam kelak, dimulai dari kamu dan buktikan dengan akhlak putra-putrimu. 

Tulisan: Ada Seseorang 
Ada orang yang tidak kamu sadari perasaannya sedang memerhatikanmu sedemikian rupa, dari jauh. Tidak pernah menyebut namamu, bahkan ia malu mengucapkan namamu karena ia merasa tidak pernah mampu menyamai derajatmu.
Tapi ia keliru, ia lupa bahwa Tuhannya membaca hatinya. Dia mampu mendengar hati, sekalipun namamu tidak pernah diucapkannya. Orang itu kini sedang berusaha mengenalmu meski tidak ada tanya-jawab. Ia sedang berusaha memahamimu meski tidak ada aksi curhat. Ia berusaha mengenali lingkunganmu, cara berpikirmu, temanmu, keluargamu, dengan cara-cara yang mungkin tidak pernah kamu tahu. Cara-cara yang tidak hanya menjagamu tapi juga menghormatimu, karena tidak ada orang yang tahu bila itu sedang terjadi. Dan kamu tetap tidak menyadari.
Hingga suatu hari ia datang mengetuk pintu hatimu dengan kata-katanya. Mengetuknya dengan salam, salam yang penuh penghormatan sekaligus keberanian. Di dalam keberanian itu pula ada kesiapan untuk menerima segala jenis keputusan. Keberanian itu tidak hanya soal mengungkapkan, tapi juga soal menerima segala bentuk kemungkinan.
Ia mengejutkamu. Ia juga membuatmu merasa semua itu terasa khayal. Ia membuatmu merasa bahwa ini bukan waktunya. Tapi, inilah waktu yang ditetapkan-Nya. Bahwa tepat atau tidaknya bukanlah dalam kadar kita yang menentukan.
Entah hari ini atau esok. Kamu akan menyadari bahwa kedatangannya benar-benar ujian. Ujian yang akan menjadi sebuah tanda akan keimanan dan ketaqwaanmu. Seberapa jauh kamu percaya bahwa hidupmu berada di bawah sebuah rencana besar Sang Pencipta. Mungkin ia bukan orang baik, mungkin pula orang baik. Mungkin ia sedang memperbaiki diri, mungkin pula sedang tersesat. Kita berharap yang terbaik tapi sering lupa bahwa yang terbaik itu kadang adalah yang diperbaiki, bersedia diperbaiki.
Esok atau lusa, kamu akan tahu bahwa untuk menerima itu membutuhkan hati yang lebih lapang dan pikiran yang lebih jernih. Bahwa manusia tidak pernah ada yang sempurna, bahwa manusia tidak ada yang bersih dari dosa. Tapi kita diajarkan untuk mengenali mana orang-orang yang sedang bergerak menuju-Nya dan mana yang menjauhi-Nya. Karena Dia akan mempertemukan orang-orang yang sedang dalam tujuan yang sama. Bandung, 21 Maret 2015 | (c)kurniawangunadi

Minggu, 08 Maret 2015

Ada Dia dan Pergilah Dia

Awan panas bercampur semerbak bunga mawar
Bergelora dan mempesona
Tangisan bayi tanpa dosa itu damai, juga mengiris
Ada dan tiada
Dua rupa
Entahlah!
Hanya di waktu yang sama
Ada dia dan pergilah dia

Bercampur dalam bejana
Dibubuhi banyak nada dan alunan cinta
Mengubur nestapa 
Mengangkat bahagia
Mana yang nyata?
Seolah rupa ini berlapi-lapis muka

Rasa apa yang kau pesan?
Bukan coklat yang manis
Bukan lemon yang asam
Bukan juga empedu yang pahit
Lalu, mulai berkicau tanpa rasa
Berlalulah!

Enyah saja jika aku menjadi lupa
Jauh kuinjak dia biar binasa
Balik bercermin untuk diri
Menyusuri langkah yang lurus
Kutuju tangga untuk dia yang pantas

Melahirkanmu sebagai Islam


(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), "Berserah dirilah!" Dia menjawab, "Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam."Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. "Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (Al-Baqarah: 131-132)


Alhamdulillah.. Tak lupa berucap syukur karena kita adalah umat yang dipenuhi dengan nikmat. Nikmat karena terlahir memeluk agama yang benar; ialah Islam. Dari sekian banyak penduduk dunia, kita adalah bagian manusia yang dengan mudah mengenal agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini. Bagaimana tidak? Secara mudah kita terlahir sebagai Islam karena kedua orang tua kita. Mereka tidak menjadikan kita Majusi atau Nasrani. Dengan begitu sabar, kedua orang tua kita mengajarkan tentang kalimat tauhid. Mengajarkan bagaimana cara mengesakan Allah. 


Ketika ilmu kita semakin bertumpuk mengenai agama, akankah kita lupa dengan sosok yang mengenalkan kita dalam agama ini? Akankah kita terlena dan tidak memperhatikan bagaimana tahapan ilmu mereka? Mungkin kebanyakan dari kita dengan sangat angkuh menumpuk ilmu, kemudian lupa menengok kembali kondisi mereka. Apakah agama yang mereka ajarkan sewaktu kita masih ingusan masih tersemat dengan kuat dalam hati mereka? Apakah bunga semakin bermekaran atau justru semakin layu karena tak juga tersentuh hujan?


Beginikah burung yang terbang?

Menembus langit
Tinggi nian ...
Namun lupa daratan
Terlena dengan sayap
Menari bersama bulu-bulu
Sampai bertenggerpun enggan

Tanah yang basah itu terhampar tanpa jejak kaki
Hambar, mungkin layu
Terserak menanti perahu

Sangkanya dermaga itu di pelupuk mata
Padahal dibawa juga terbang


Tetap hidup tapi kering

Belulang adanya
Menanti belas kasihan baginda
Mengais setetes air yang dulunya ditimang

Kini hilang dibawa terbang.



Janganlah kita menjadi kacang yang lupa kulitnya. Habis manis sepah dibuang. Tetaplah berbakti dengan kedua orang tua. Berbagilah dengan ilmu yang bertumpuk. Karena Surga masih terlalu luas untuk dihuni sendiri dan karena mereka melahirkanmu sebagai Islam.