Tampilkan postingan dengan label Memantaskan diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memantaskan diri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Januari 2015

Komitmen (–BENTENG-, –BATAS-, dan –BARIER-) untuk Menjaga Hati



Kali ini aku bicara –benteng-,  –batas- , dan –barier-  untuk hati. Ehhh, kok bisa? (*ketawa jahat karena membuat penasaran). Saat seseorang merasakan hal tidak beres. Misalnya saja, saat tiba-tiba badan terasa meriang padahal baru saja beraktivias normal, ketika laptop tiba-tiba berbunyi ketika flashdisk teman terpasang, dan keanehan lainnya. Itu adalah bentuk alarm bahwa pertahanan harus lebih kuat.

Saat bicara tubuh, maka sel imun akan semakin berjuang melawan zat-zat asing yang merusak kekebalan tubuh. Naiknya suhu badan alias meriang, itu salah satu bukti perlawanan sel imun. Makanya, saat kau merasa meriang, maka perlu adanya tindak lanjut agar kondidi badan tidak semakin parah. Begitu pula saat laptop berbunyi kencang, biasanya “tuling-tuling-tuling...” maka indikasi ada virus. Bentuk virus yang menyerang tubuh dan laptop memang bentuknya beda atuh eneng. Tapi mereka sama-sama memberikan respon yang khas agar si empunya menyadari bahwa tubuh atau laptop yang dimiliki dalam kondisi –in dangerous-, dan agar segera mencari titik penyelesaian.

Tapi, gimana kalo yang tidak beres adalah hati?

Bukannya hati juga anggota tubuh ya! Yang kali ini saya maksud adalah –hati- yang merasakan getar-getar rasa yang berbeda. Sesuatu benda yang mudah tersentuh akan sesuatu rasa, yang peka bahwa ada yang menarik di luar sana. Dan ini bahaya jika kau menikmatinya tanpa batasan. Bagaimana tidak? Pasti pikiran akan ikut tidak wajar, berkelana membayangkan sesuatu yang menarik hatinya. Berandai-andai jika rasa ini juga bersahut. Dan berbagai ide gila yang menguasai alam bawah sadar.

Menurut penelitian, alam bawah sadar 80% berpengaruh terhadap tindakan yang dilakukan manusia. Makanya, sadarlah kawan! Fine, kita harus memulai dengan apa yang saya katakan –benteng-, –batas-, dan –barier- untuk bentuk antisipasi. Pasti pagar yang meninggi itu perlu bata dan semen yang ditata meninggi, begitu pula yang saya katakan –benteng-, –batas-dan –barier- tersebut. Bahan membangun pertahanan adalah komitmen untuk menjaga hati. Komitmen yang secara sdar dikerjakan untuk membuat perubahan agar hati baik-baik saja. Istilahnya kalo dalam ilmu psikologi adalah Personal Sense of Commitment (PSC). Secera detail memiliki arti: komitmen terhadap apa yang dikerjakan dan komitmen terhadap perubahan yang terjadi, berkaitan dengan tujuan hidup.

Komitmen untuk menjaga hati ini harus mulai dibangun saat merasa hal yang aneh muncul ketika berinteraksi dengan non muhrim kita. Jangan biarkan tumbuh berkembangbiak rasa yang tidak sepantasnya, jangan dibiarkan membutakan hati, karena akan berakibat zina hati. Jika dibiarkan bertumbuh, berbunga, dan berbuah maka hati akan penuh noda hitam karena belum berani mengikat dengan ikatan pernikahan tapi malah bermain-main dalam ikatan tidak halal (sebut saja pacaran). Maka, setan akan jadi teman saat memang kita asyik bermain dengan Virus Merah Jambu (VMJ) ini. Bagaimana tidak? Alam bawah sadar akan mencari kesukaan dari yang menarik hati, bahkan parahnya kalo sudah jadi stalker dan intens berkomunikasi (*hati-hati kholwat, kan yang ketiga setan lho).

Komitmen untuk menjaga hati itu harus ada, misal dengan cara mengurangi intensitas komunikasi yang tidak penting, menundukkan pandangan (godhul bashor) kalo berhadapan dengannya, jaga jarak (radius 1 km, hehe bercanda), cari aktivitas yang lebih bermanfaat agar pikiran tidak kosong, banyak-banyak beristigfar saja kalo teringat si dia, dan yang paling penting adalah memohon kepada Sang Maha Pembolak-balik hati agar terjaga sampai ikatan yang halal itu datang.

“Kodrat wanita memang perasa dan cinta itu juga fitrah. Maka letakkan di tempat yang tepat dan halal, agar keberkahan itu hadir di setiap pekerjaan yang kita lakukan dalam hidup ini. Terus berproses untuk siapa saja yang hadir menjemputmu suatu hari nanti. Pantaskan dirimu! Jadilah yang paling spesial untuk pasangan halalmu. Buatlah bangga bahwa kau benar-benar menjaga hati dan diri hanya untuknya.”

Yogyakarta, 24 Januari 2014

-Mozaikmila-


Sabtu, 08 November 2014

Biar Lidah Beda Rasa, Jika Hati Sama Rasa

Beginilah kita yang sedarah, yang mencintai warna biru dan abu-abu. 
Yang sama-sama memantskan diri untuk orang yang sangat berharga buat kita nantinya.


Kedekatan kita adalah ketika kita berlama-lama mengingat diantara kita. 
Tak akan basi karena waktu, tak akan berkurang meski penuh jarak.
Hitungan detik pun mampu mengabadikannya, tapi kita punya cerita di bawah langit yang sama.
Cerita yang tak hingga jika diindra, yang penuh makna, yang terungkap dalam hati-hati kita.


Besar kita penuh pertengkaran, bahkan channel televisi pun kadang berujung tangis karena kita penuh dengan egositas tanpa batas merebutkannya. Saat Ayah pulang membawa sedikit makanan, itu saatnya adikku mulai menakar mana yang sekiranya lebih berat beberapa gram. Hehehe, mungkin saat itu ada beberapa setan yang nimbrung buat ikut mencicipi juga. Jadi kadar ego justru semakin banyak dikultur dan bersemai di setiap momen berbagi kita. Pergi sana setan!

Tapi Ayah tak kalah tegas dengan tingkah kita yang masih saja mementingkan diri sendiri. Bercandaan Ayah kemudian muncul, "Ngawe ring tinju wae kono.." (baca: buat ring tinju aja sana..)
Inilah salah satu bentuk cara Ayah memberikan alarm bahwa yang demikian itu tidak pantas buat sesama saudara.
Belum lagi ibu kita, menyudahi tingkah kita dengan gelengan kepala. Tanda memang ini hal yang tidak patut. Dan seketika itu, mungkin setan mulai melenggang pergi. Masalah selisih beberpa gram tadipun tak lagi diungkit. Kebahagiaan melihat saudara kita kenyang adalah bentuk kekenyangan batin tertinggi.

Saat kita semakin dewasa, bahkan tanah rantau pun semakin membuat kenangan-kenangan perebutan makanan itu datang menampar-nampar. Jogja; adalah kota penuh dengan aneka kuliner, baik yang khas seperti gudeg, atau bahkan yang dari orang pendatang seperti makanan Padang. Belum lagi makanan berbahan pati seperti bakwan kawi, pentol tusuk, siomay, cilok, dan yang lain. Selalu mengingatkan bahwa: DULU KITA SELALU BERBAGI, menyisakan sedikit makanan. Tepatnya menyisihkan sedikit makanan untuk dicicipi masing-masing dari kita. Berbagi; hal rutin yang kita lakukan sebelum 2,5 tahun ini.

Berharap sama-sama merasakan apa yang ada, tapi jarak lah yang membuat lidah kita merasakan rasa yang berbeda. Itu hanya lidah, cukup hanya lidah. Kita sama-sama merasakan manisnya menuntut ilmu. Masih merasakan segar tetesan hujan ketika musim penghujan menjemput.

Allah masih menganugerahkan kenikmatan yang sama, yaitu IMAN. Semuga keteguhan kita meniti jalan-Nya diberikan keistiqomahan yang menuai berkah. Sebagai makhluk yang penuh dengan baluran dosa, semuga iman kita yang menumbuhkan kecintaan tiada tara kepada Allah. Yang menghidupkan kedamaian, cinta dan harapan. Yang nantinya mengantarkan kita untuk saling menjaga sebagai sesama saudara seiman. Ya, hamba memohon ukhuwah ini terjaga sampai ke Surga...

Adik, jaga hatimu untuk seseorang yang berharga dalam hidupmu kelak.
Sekarang dan hingga nanti, kita berjuang untuk Ayah dan Ibu yang tak kalah berharga, karena mereka merupakan anugrah terindah yang Allah kirimkan buat kita.

Hehehe, bersemangat memantaskan diri adikku tersayang; Muhammad Alfian Ikhsan.
Mesir menantimu! Yakinlah! hehe