Jumat, 30 Januari 2015

Adikku dan Sumpit

Emmmm...
Pulang juga akhirnya *merasa telat, hehe

Adikmu . ................ (blablabla)
Dia itu .................. (blablabla) 

Bagaimana kabar kakaknya yaa?
Apa benar yang perlu dikhawatirkan adalah yang lebih muda.
Jangan-jangan yang lebih tua justru membutuhkan pertolongan.

Lagi-lagi kalo pulang itu selalu merasa malu, karena seorang kakak hanya mendengar kisah perjuangan adiknya. Waktu selalu bergulir memberikan kenyataan bahwa kita seolah seperti pekerja paruh waktu yang waktu kerjanya berbeda; di siang dan malam. Selalu bergantian.

Mbak mendengar kisahmu dari ibu. Merasa malu.
 Kapan kita makan ice cream dan mie ayam bareng (*pake sumpit)?

Dari kakakmu yang benar-benar ingin mengajakmu berantem :D

Selasa, 27 Januari 2015

Bukan Karena Ayah Semata, Tapi Karena Agamaku


kelingking mila masih untuk ayah saat ini... 

"Ayah, laki-laki yang baik menurut Ayah itu yang bagaimana?", tanya anak perempuannya, puteri semata wayangnya. Sambil menggandeng tangan puterinya yang tak lagi kecil itu, sang Ayah berhenti.
"Laki-laki yang layak dipilih mungkin adalah yang selalu khawatir tidak layak jadi pilihan", sang Ayah menjawab sambil matanya melihat ke langit luas.
"Mungkin?", selidik puterinya.
"Iya mungkin, karena itu hanya salah satu yang Ayah tahu. Selebihnya ayah tidak tahu, karena Ayah tidak pernah menjadi selain itu?", sang Ayah menatap wajah puterinya.
"Menjadi selain itu? Apa Ayah dulu merasa tidak layak?",tanya puterinya sambil mengajak ayahnya duduk di bangku taman.
"Iya, waktu ibumu memilih ayah. Ayah hampir tidak percaya bahwa akan ada perempuan di dunia ini yang bisa menerima Ayah kala itu", sang Ayah menjawab parau. Sambil mengeluarkan foto dalam dompetnya. Foto ia bersama sang Istri.
Puterinya merangkul bahu ayahnya. Ikut rindu pada ibunya yang telah lebih dulu tiada.
"Kalau perempuan yang baik itu yang gimana yah?", tanya anaknya untuk mengalihkan kesedihan.
"Perempuan yang baik bagi ayah adalah perempuan yang sulit dimengerti karena penjagaan dirinya yang bagitu rapi, hingga tak ada celah buat orang lain mengetahuinya", kata Ayahnya.
"Apa seperti Ibu?", canda puterinya.
"Iya kayak ibumu, susah banget dimengerti dulu ketika Ayah mendekatinya, haha. Kamu juga susah dimengerti kayaknya sama laki-laki diluar sana, mirip ibumu", jawab ayahnya.
"Hahaha kan yang bisa ngerti aku cuma Ayah", puterinya memeluk Ayahnya dari samping. 
Rumah, 26 Januari 2015 | (c)kurniawangunadi
(Cerpen: Ayah dan Anak Perempuannya Bila Sedang Berdua )


Ayah, mila merindukanmu.
Bagaimana dulu kau mencintai ibu sampai sekarang?
Alasan apa sampai ayah memilih ibu?
Mila benar-benar ingin mendengar cerita ayah tentang hal ini.
Apakah ayah tau betapa anakmu ini sudah cukup dewasa.
Mila ingat pesan sekitar 30 bulan silam, "Kenal oleh nduk, tapi gak oleh cedhak-cedhak." (baca: Kenal boleh nak, tapi tidak boleh dekat-dekat."
Ayah, sejauh mana mila harus menjaga kedekatan dengan seseorang.
Bahkan disini mila mengenal banyak teman; yang beragam, yang banyak rupa.
Dan tak hanya wanita, tapi kaum yang sama seperti ayah.
Ayah, mila masih akan melekatkan kelingkingku dengan ayah.
Mila akan menjaga.
Bukan karena ayah semata, tapi karena Allah.
Karena syari'at islam.
Inilah agama yang mila pilih, agama yang PALING BENAR.
Sangat benar menjaga wanita dengan aturan-aturannya.
Ayah, mila menantikan Ayah berkisah dengan hati ayah yang berlabuh ke ibu.
Mila sudah cukup dewasa untuk mendengarnya. (*muka semakin merah)

Minggu, 25 Januari 2015

Diam-Diam Mereka Lebih Mencintaimu





Suatu Hari Nanti 

Suatu hari akan ada seseorang yang cukup baik budinya untuk membuat tertarik. Cukup luas hatinya untuk tempatmu tinggal. Cukup bijaksana pikirannya untuk kamu ajak bicara. 
Kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk mempertahankan seseorang, tetap jadilah diri sendiri. Kamu pun tidak (dan jangan) menuntut orang lain menerima keadaanmu bila ia memang tidak mampu menerimanya.Karena yang baik belum tentu tepat. Orang baik itu banyak sekali dan hanya ada satu yang tepat. Selebihnya hanyalah ujian. Kamu tidak pernah tahu siapa yang tepat sampai datang hari akad. Tetaplah jaga diri selayaknya menjaga orang yang paling berharga untukmu. Karena kamu sangat berharga untuk seseorang yang sangat berharga buatmu nantinya. 
Suatu hari akan ada orang yang cukup baik dan cukup luas hatinya untuk kamu tinggali. Cukup kuat kakinya untuk kamu ajak jalan bersama. Lebih dari itu, ia mampu menerimamu yang juga serba cukup. 

Bandung, 9 Oktober 2014 | (c)kurniawangunadi



Seberapa Allah memisahkan jarak antara manusia (sesama saudara seiman), maka memang pada kenyataannya bumi ini bulat. Maka akan juga bertemu di satu titik. Bahkan, ketika komitmen untuk menjaga hati itu semakin kuat tetapi justru malah jarak masih bisa dipandang. Maka apa yang terjadi? Apalah daya manusia, berikhtiar atas nama Allah saja. Allah pun sudah mengatur pertemuan dan perpisahan,bahkan kelahiran dan kematian pun sudah terencana dengan apiknya. Subhanallah, itulah kuasa yang teramat sempurna.

Yang tiba-tiba hadir dalam hidup kalian saat ini, mungkin itu sebatas angin lalu, kawan. Bagaimana tidak? Mungkin sebagian kita masih di semester awal kuliah kok udah mikirin jauh kesana. Boleh-boleh saja, dan memang harus difikirkan. Tapi! Yang terfikirkan adalah tentang BERPROSES untuk MEMANTASKAN DIRI. Bukan kok malah sibuk mencari-cari siapa dan dimana. Bahaya kalo setiap orang di perempatan jalan menuju kampus ditanyain tentang hal itu (*kalo ini bercanda hahaha).

Jika merasa sudah siap, ya disegerakan aja. Meminimalisir hubungan yang tidak sepentasnya agar segera halal. Tapi, khususnya bagi yang belum, yaaaa rileks aja kenapa, hehe. Fokus kuliah, trus disambi buat baca-baca buku atau datang ke kajian yang meng-upgrade kapasitas diri untuk siap dengan segala kemungkinan yang akan hadir mengenai hal tersebut.

Dekatkan dirimu kepada Sang Maha Pembolak-balik hati, memohon keistiqomahan dan perlindungan akan segala bentuk zina hati. Tips ampuh agar tidak memikirkan hal itu terus adalah memikirkan sahabat, teman, tetangga, dan keluarga. Bahkan kita juga masih memiliki tanggungjawab untuk berbakti kepada orang tua. Kehadiran kita selalu dinati oleh mereka, maka bahagiakanlah! Jadilah aroma wangi yang tertebar diseisi rumahmu. Biarkan mereka bangga bahwa kehadiranmu adalah bentuk nikmat Allah yang luar biasa. Sebenarnya diam-diam Mereka lebih Mencintaimu.







Sabtu, 24 Januari 2015

Komitmen (–BENTENG-, –BATAS-, dan –BARIER-) untuk Menjaga Hati



Kali ini aku bicara –benteng-,  –batas- , dan –barier-  untuk hati. Ehhh, kok bisa? (*ketawa jahat karena membuat penasaran). Saat seseorang merasakan hal tidak beres. Misalnya saja, saat tiba-tiba badan terasa meriang padahal baru saja beraktivias normal, ketika laptop tiba-tiba berbunyi ketika flashdisk teman terpasang, dan keanehan lainnya. Itu adalah bentuk alarm bahwa pertahanan harus lebih kuat.

Saat bicara tubuh, maka sel imun akan semakin berjuang melawan zat-zat asing yang merusak kekebalan tubuh. Naiknya suhu badan alias meriang, itu salah satu bukti perlawanan sel imun. Makanya, saat kau merasa meriang, maka perlu adanya tindak lanjut agar kondidi badan tidak semakin parah. Begitu pula saat laptop berbunyi kencang, biasanya “tuling-tuling-tuling...” maka indikasi ada virus. Bentuk virus yang menyerang tubuh dan laptop memang bentuknya beda atuh eneng. Tapi mereka sama-sama memberikan respon yang khas agar si empunya menyadari bahwa tubuh atau laptop yang dimiliki dalam kondisi –in dangerous-, dan agar segera mencari titik penyelesaian.

Tapi, gimana kalo yang tidak beres adalah hati?

Bukannya hati juga anggota tubuh ya! Yang kali ini saya maksud adalah –hati- yang merasakan getar-getar rasa yang berbeda. Sesuatu benda yang mudah tersentuh akan sesuatu rasa, yang peka bahwa ada yang menarik di luar sana. Dan ini bahaya jika kau menikmatinya tanpa batasan. Bagaimana tidak? Pasti pikiran akan ikut tidak wajar, berkelana membayangkan sesuatu yang menarik hatinya. Berandai-andai jika rasa ini juga bersahut. Dan berbagai ide gila yang menguasai alam bawah sadar.

Menurut penelitian, alam bawah sadar 80% berpengaruh terhadap tindakan yang dilakukan manusia. Makanya, sadarlah kawan! Fine, kita harus memulai dengan apa yang saya katakan –benteng-, –batas-, dan –barier- untuk bentuk antisipasi. Pasti pagar yang meninggi itu perlu bata dan semen yang ditata meninggi, begitu pula yang saya katakan –benteng-, –batas-dan –barier- tersebut. Bahan membangun pertahanan adalah komitmen untuk menjaga hati. Komitmen yang secara sdar dikerjakan untuk membuat perubahan agar hati baik-baik saja. Istilahnya kalo dalam ilmu psikologi adalah Personal Sense of Commitment (PSC). Secera detail memiliki arti: komitmen terhadap apa yang dikerjakan dan komitmen terhadap perubahan yang terjadi, berkaitan dengan tujuan hidup.

Komitmen untuk menjaga hati ini harus mulai dibangun saat merasa hal yang aneh muncul ketika berinteraksi dengan non muhrim kita. Jangan biarkan tumbuh berkembangbiak rasa yang tidak sepantasnya, jangan dibiarkan membutakan hati, karena akan berakibat zina hati. Jika dibiarkan bertumbuh, berbunga, dan berbuah maka hati akan penuh noda hitam karena belum berani mengikat dengan ikatan pernikahan tapi malah bermain-main dalam ikatan tidak halal (sebut saja pacaran). Maka, setan akan jadi teman saat memang kita asyik bermain dengan Virus Merah Jambu (VMJ) ini. Bagaimana tidak? Alam bawah sadar akan mencari kesukaan dari yang menarik hati, bahkan parahnya kalo sudah jadi stalker dan intens berkomunikasi (*hati-hati kholwat, kan yang ketiga setan lho).

Komitmen untuk menjaga hati itu harus ada, misal dengan cara mengurangi intensitas komunikasi yang tidak penting, menundukkan pandangan (godhul bashor) kalo berhadapan dengannya, jaga jarak (radius 1 km, hehe bercanda), cari aktivitas yang lebih bermanfaat agar pikiran tidak kosong, banyak-banyak beristigfar saja kalo teringat si dia, dan yang paling penting adalah memohon kepada Sang Maha Pembolak-balik hati agar terjaga sampai ikatan yang halal itu datang.

“Kodrat wanita memang perasa dan cinta itu juga fitrah. Maka letakkan di tempat yang tepat dan halal, agar keberkahan itu hadir di setiap pekerjaan yang kita lakukan dalam hidup ini. Terus berproses untuk siapa saja yang hadir menjemputmu suatu hari nanti. Pantaskan dirimu! Jadilah yang paling spesial untuk pasangan halalmu. Buatlah bangga bahwa kau benar-benar menjaga hati dan diri hanya untuknya.”

Yogyakarta, 24 Januari 2014

-Mozaikmila-


SENDIRI atau BERSAMA-SAMA, Lingkungan ini Membutuhkan Kita!



“Lingkungan itu memang indah,
siapa yang bisa hidup -TANPA- nikmat dari Tuhan yang satu ini?”(Tim PKM-M Taman Edukasi)

Mungkin tidak ada orang yang bisa hidup tenang jika sebulan penuh harus hidup di antara air genangan banjir, serta  tak akan mampu bertahan dengan air kotor yang meninggi dan yang telah mengotori rumah megah mereka.

Manusia terkadak teramat picik, mereka sadar bahwa lingkungan itu penting jika wujudnya sudah rusak dan tak sesuai fungsinya. Mereka panik, gelisah, dan mempertanyakan secara serius “Ini tanggungjawab siapa?”. Namun, tidak sedikit orang yang tergerak karena kondisi bumi yang menua ini. Melalui pekerjaan yang sungguh mulia, mereka mengabdi, seperti halnya pihak pengelola limbah, pabrik daur ulang, dan hasta karya dari barang-barang buangan. Itulah wujud dari kepedulian yang nyata, meskipun kecil tapi dedikasi terhadap lingkungan mereka amatlah tinggi.

Kebiasaan sederhana seperti menghemat air untuk keperluan rumah tangga, mematikan lampu ketika siang hari, bersepeda ketika bepergian untuk jarak dekat, meminimalisir penggunaan plastik, dan tidak membuang sampah ke bantaran sungai merupakan contoh kebiasaan yang harus dibangun setiap manusia di bumi. Bukan hanya sekedar mengeksploitasi keberadaan Sumber Daya Alam (SDA) saja. Namun ketika bumi ini rusak, justru saling menyalahkan dan menuding bahwa ini adalah kesalahan pemerintah yang tidak tegas. Setiap dari kita adalah warga di bumi ini kan? Tidak hanya pemerintah, maka setiap dari kita wajib untuk prihatin dan bergerak untuk memperbaiki lingkungan kita.

Salah satu dari Tim PKM-M Taman Edukasi menyaksikan sesorang yang mulia sekali dan memiliki rasa cinta lingkungan yang tinggi. Karena beliau lah, justru tersadar bahwa Jika manusia masih berkeinginan BUMI HIDUP saat ini: dalam kondisi sendiri atau bersama-sama sekalipun, lingkungan ini mebutuhkan kita. Bagaimana kisahnya?

Dialah seorang bapak yang sudah beberapa minggu terakhir (sejak awal Januari) terihat sibuk di selokan yang berlokasi di sebelah timur Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Yogyakarta. Bagaimana tidak sibuk? Beliau bahkan dengan hanya memakai singlet dan celana panjangnya, rela mencelupkan kakinya masuk ke dalam selokan yang baunya cukup tidak sedap. Tangannya tampak keluar masuk mengambil berbagai macam barang yang menyumbat jalannya air, mulai dari batu, pasir, botol bekas, seresah daun, plastik, bahkan sisa sandal jepit yang entah kemana pasangannya.

Sulit dibayangkanbukan? Di sebelah kanan (baca: tempat yang bersih) tampak beberapa perlengkapan yang menunjukkan bahwa beliau itu berkelana. Kemungkinan demikian, karena tampak membawa tikar, sapu kecil, dan beberapa tas yang tertumpuk rapi. Saya tidak tahu apakah bapak ini tidak memiliki rumah, atau memang memutuskan meninggalkan rumahnya untuk pekerjaan mulia yang dilakukan saat ini.

Setiap hari beliau terbiasa dengan aroma air sadah yang menggenang di selokan tersebut. Saya justru salut, beliau ini sendirian padahal. Mungkin orang lain termasuk saya akan malu jika bertindak seperti beliau jika dalam kondisi sendirian. Mungkin di dalam hatinya, beliau ingin memberikan contoh bahwa untuk menjaga lingkungan itu tidak harus muluk-muluk. Dengan masalah yang jelas tampak di depan mata saja kita bisa berkontribusi. Dengan modal niat yang lurus, saluran air yang awalnya menggenang kini sudah mulai lancar karena kebaikan hati beliau. Rambutnya yang sudah memutih pun tak jadi alasan untuk membuktikan “cinta lingkungan”. Sebagai anak muda apa yang sudah kita lakukan?




Itulah kisah yang menjadi penyemangat kami untuk membuktikan pengabdian kami terhadap lingkungan melalui pendidikan. Meskipun memang kami tak sehebat beliau yang berjuang sendirian di tempat itu, kami memulai langkah berlima untuk berkontribusi dengan cara kita. Berusaha memupuk “cinta lingkungan” bersama anak-anak yang nantinya mereka juga mengemban kewajiban penting bagaimana bumi kita ini dibawa. Melalui –TAMAN EDUKASI- kami berjuang!

Yogyakarta, 24 Januari 2015
-Mozaikmila-



Melalui –TAMAN EDUKASI- Kami Mengabdi



“Bila waktu bisa berbalik ke masa lalu:
Sebagai anak-anak,
apakah kami akan memungut daun yang jatuh di halaman rumah
sebagai wujud cinta terhadap lingkungan?”
(Tim PKM-M Taman Edukasi)

Melihat lingkungan yang semakin parah, mungkin timbullah rasa gelisah dari sekumpulan mahasiswa jurusan pendidikan biologi. Sebagai mahasiswa yang memang kesehariannya dituntut untuk dekat dengan alam, maka secara garis besar tak hanya sekedar tahu, akan tetapi cukup faham dengan arti “Cinta Lingkungan”. Kamilah tim yang dipertemukan karena sense yang sama, tergerak untuk memulai langkah kecil sebagai kontribusi kami tehadap lingkungan. Dengan lima anggota yang karakternya beragam, justru kami menyatu atas nama lingkungan, yang dikembangkan melalui dunia pendidikan.

Brand yang menjadi objek pengembangan tim kami adalah –TAMAN EDUKASI- bagi anak Sekolah Dasar, khususnya kelas IV-V. Lingkungan sekolah terkadang justru luput dari ketertarikan anak-anak, karena mungkin kondisinya yang sama sekali tidak menarik bagi mereka. Maka dari itu, kami berlima memiliki gagasan jika taman itu harus dikontruksi untuk lahan belajar sekaligus bermain. Edukasi yang terintegrasi ini bisa melalui pendekatan yang langsung mengajak mereka menanam, merawat, dan mengenal berbagai tanaman.

Tentunya, cinta akan lingkungan itu memiliki berbagai indikator, maka kita juga memiliki garis haluan kerja yang akan dikembangkan. Misalnya saja, kita juga akan memanfaatkan kaleng, botol, batok kelapa, dan berbagai bahan tidak terpakai lainnya untuk digunakan kembali sebagai media tanam dan ornamen yang mendukung pembuatan taman edukasi ini. Prinspip re-use yang kami gunakan agar sepatutnya anak punya kesadaran bahwa barang yang mereka anggap –sampah- itu masih bisa digunakan. Bahkan dengan tangan kecil mereka, nantinya bisa membuat dan turut andil menjaga lingkungan.

Anak-anak SD yang berada di SD Negeri Nanggulan, Maguwoharjo, Sleman lah yang natinya menjadi sasaran kami untuk pengembangan taman edukasi. Usia mereka yang berkisar 10-11 tahun ini, perlu diajarkan bahwasanya kegiatan menanam dan merawat tanaman itu hal yang menyenangkan. Bahkan mengenal tanaman dan fungsinya juga tak kalah penting untuk pemantik rasa cinta lingkungan dalam diri mereka.

Tim kami sangat bersemangat sejak pengumuman tanggal 15 Januari 2015 menyatakan bahwa Program Kretifitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) kami menjadi salah satu penerima Hibah Direktorat Jenderal pendidikan Tinggi (DIKTI) tahun 2014. Semuga amanah ini kami laksanakan dengan semaksimal mungkin sebagai wujud mengabdi kita terhadab bumi yang telah Tuhan berikan kepada kita, para manusia, khalifah fil ‘ard.

Yogyakarta, 24 Januari 2014

-Mozaikmila-

Minggu, 18 Januari 2015

Kesini, Ku Buat Kau Menangis Lagi!



Dhek, Bagaimana kabarmu saat ini?

Fikiran ini terbayang ke beberaa tahun silam.

Saat kau bermain bola di dalam rumah. Itu sangat menyebalkan sekali. Bunyi tendangan yang kau arahkan ke dinding mengusik telinga yang menginginkan ketenangan. Teringat juka ketika rumah penuh dengan kertas, lem, kerangka bambu, benang, pisau, dan atribut yang lain. Itu buat apa? Apalagi kalo bukan seperangkat bahan dan alat untuk sebuah mahakarya, “layang-layang”.

Saat membuatnya saja, kakaknya dicuekin. Tetapi, setelah terikat rapi dan siap diterbangkan kemudian mencari bantuan.

“Mbak, bantu megangin layangan-nya.”, pintanya dengan merengek.

Lalu bergegas ke sepetak tanah yang cukup luas di depan rumah. Sebenarnya itu adalah lahan sisa kebun tebu. Bisa dibayangkan bagaimana tanahnya? Gersang, keras, bongkahannya pun terkadang cukup lancip untuk kaki. Yeah, inilah kebiasaanmu yang aku rindukan.

Kira-kira satu bulan sebelum kau benar-benar memutuskun mondok, bahkan kau tak mau berhenti bermain. Setiap ada waktu senggang di antara kewajiban sholat, pasti yang kau pegang adalah sepeda, layang-layang, remot tv, motor, dan segala mainan yang membuatmu asyik. Yang kau fikir adalah kau melampiaskan segala gairah bermainmu di rumah, sebelum yang kau pegang adalah kitab, buku, pensil, dan perlengkapan yang tak lagi berbunyi seperti mainan tamiya-mu.

Bagaimana kabarmu disana?
Apakah kau menikmati setiap detik dengan rutinitas yang hampir sama. Hampir semua adalah kaum yang sama, semua laki-laki. Jika kau ingin bercerita dan menangis, apakah ada yang bisa memberimu sandaran? Dan, apa mungkin kakakmu disana memberimu tissue atau sapu tangan untuk menyeka linangan air matamu?

Dhek, semakin dewasa kau disana. Justru mbak semakin mengkhawatirkanmu. Sangat khawatir. Jika pulang kau memang tampak utuh, terkadang kurus, bahkan makin cubby juga pernah. Kau tampak sehat secara fisik. Tapi bagaimanan kabar hatimu? Apakah ada yang memperhatikannya?

Aku rasa mungkin ada kakak yang baik hati dan bertanya bagaimana ruhiyahmu, tapi hanya sesekali. Pasti hanya terjadi jika teringat atau bahkan saat kau memang tampak sudah parah dan tak mampu memendamnya.

Mbak sekarang ingin tahu kabar hatimu. Apakah kau masih lurus niatnya di pondok? Apakah semangatmu masih cukup membuatmu bertahan? Atau kau justru bertahan dengan tekanan?

Tapi, mbak masih berkhusnudzon. Kau adalah anak yang kuat. Meskipun terkadang tatapan kamu kosong seperti orang yang tidak terlalu pusing dengan sesuatu, kau adalah anak yang gampang tersentuh. Semuga kau menciptakan formula hidupmu, seperti yang mbak lakukan saat ini.

Mbak percaya, semuga ada kakak yang baik menemani segala keseharianmu.

Maafkan kakakmu yang tak mampu. Tak mampu berjalan jauh hingga menyodorkan tissue jika kau sedang menangis. Tak mampu menutup lukamu jika kau terjatuh dan luka. Tak berdaya untuk membawakanmu pudding, coklat, ice cream, permen, dan kebiasaan yang mungkin mbak bisa berikan ke adhek-adhek mbak di Jogja. Maafkan mbak, tak ada bayangan aku melupakanmu, mengesampingkanmu, atau bahkan menghilangkanmu. Andaikan mbak mampu (*detik ini juga, aku rubah jalanan Jogja-Ponorogo seperti skala peta).

Tetap tangguh seperti yang mbak kenal, tetap visioner untuk MESIR yang kau tuju.

Dhek, biarkan setiap kata yang mbak ketikkan adalah tebusan rasa rindu. Biarkan tetesan-tetesan yang tiba-tiba hadir ini mengurangi sesak, betapa mbak merindukanmu. Merindukan adhek yang sekarang telah dewasa. Meskipun kita jauh, masihkah kau menganggap mbak adalah kakakmu yang dulu. Yang mengajakmu berantem, yang membuatmu menangis.

Kesini dhek, mbak merindukanmu, mbak ingin membuatmu menangis lagi............


Selasa, 13 Januari 2015

Izinkan, di Kota ini Aku Menemukan Islam Lebih Dalam

Akhir semester ganjil, setengah tahun lagi maka aku genap menyudahi tiga tahunku di kota ini.
Kota yang berjuta-juta budaya ada, yang berkembang di antara nafas manusianya.


Berproses, terus ingin ku tempuh.
Bersama setiap langkah dengus nafas.
Aku ingin terus menjadi pembelajar di kota ini.
Bersua dengan siapa saja, yang mereka dengan level sama atau bahkan sudah -dewa-.
Allah, mudahkan hamba berserah.
Terus mencari kenikmatan islam yang memberi nafas ini kian segar.
Menjadikan Islam adalah titik akhir dari setiap perjuangan.


Izinkan, di kota ini aku menemukan Islam lebih dalam...