Jumat, 27 Juni 2014

“NORMAL” DENGAN PEKA

Peka?
Apa itu peka..
Apa aku sudah mati rasa, apa aku sudah tak berdaya.

Kemarin, aku terhantui.
Hingga aku bungkam dan enyah dengan ketakutan itu.
Menghilangkan diriku untuk mancari tahta ”NORMAL” sebagai manusia.
Belum juga selesai, dan...
Kembali dihujat.
“Dasar tidak peka!”

Ketakutan ini belum juga aku muntahkan semua,
Bahkan masih ada yang tega menusuk pita suaraku..
Dan apa?
Kau memaksaku menelannya lagi, hingga..
Mungkin kerongkongan ini sobek, koyak compang-camping.
Ingin kucari kain perca.
Berlari!
Mengais kain rombeng dengan kawat berkarat untuk menjahitnya.

. P . E . K . A .
Biarkan aku hilang mencari yang kucari.
Mengartikan sebenarnya kapan kita bersahabat?
Damai dengan sewajarnya.
Normal seperti yang bernyawa lain.
Ku tak ingin dirutuki takut karena aku terlampau menyandangmu.
Ku tak ingin merintih dengan cibiran karena aku kosong tanpamu.

Terimakasih..
Wahai penyandang peka yang sewajarnya.
Kau hanya melihat buliran senyum yang tergerai, bukan kubangan darah yang perih mengiris.
Cukup belajar darimu!
Belajar bahwa kepekaan itu bukan ada untuk berkicau tentang yang terlihat.
Tapi dengan mata tertutup pun, kau mampu rasakan.
Tentang kepedasan hidup, kesantunan tutur, dan kelembutan sangka.


Kepekaan justru akan bijaksana mengindra saudaranya...


3 komentar:

  1. Kepekaan sekali lagi tersamarkan ketika tak terungkap.
    walaupun sebegitu hebatnnya dia membadai di dalam sana..

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Kepekaan akan dengan kelembutannya mengeluarkan sangka, menelaah apa yang sepantasnya menjadi tindak dalam setiap ujungnya..

    *ayu, kamu harus jadi ibu yang hebat untuk sekitarmu ;)

    BalasHapus