Kamis, 22 Oktober 2015

Ketika Engkau Telah Dewasa



Ketika engkau telah dewasa, 
tuk sekedar mengusap rambut ijukmu itu saja aku malu. 
Dulu telah berlalu. 

Hanya sungkan yang mendaratkan jari ini menyentuh pundakmu. 
Aku geram ketika pertemuanku denganmu hanya berupa pandangan yang dalam. 
Berusaha menyelam, menerobos tebing-tebing sorot mata berhias kedewasaan. 

Teramat lemah diriku. 
Namun, ku tak lanjut menyerah. 
Aku adalah bagian dari aliran darahmu, begitu yakin aku pun mengenalmu. 
Kini, tak cukup hanya sederet detik untuk begitu faham menghadapmu. 
Butuh beberapa rentang waktu di antara keberpisahan kita.

Ketika engkau telah dewasa.
Akankah aku lupa kau yang manja?

Jumat, 22 Mei 2015

Pantaskah Mengajar?

Mungkin karena hati ini yang terlalu compang-camping. Allah membiarkan hati tertampar dan harus terbelalak.

Microteaching usai, sudah pantaskah mengajar?

Sabtu, 16 Mei 2015

BERPERAN


Sejauh mana udara menghargai angin? 
Sejau mana siang menghargai malam?
Sejau mana langit menghargai bumi?

Selisihnya dekat ataukah jauh, kita ini bersaudara. Dicipta untuk saling memberikan tempat berharga. Berbagi kesempatan saling hidup sejahtera.

Allah itu mencipta kita sesama makhluk untuk sumbang peran. Layaknya simbiosis, memang ada yang merasa rugi keduanya, ada yang saling untung, dan ada pula yang bertepuk sebelah tangan. Memang ada fase yang tidak selamanya seperti pinta kita. Namun, bukankah potensi mencerna segala kisah itu ada. Akankah selamanya kita memicu kerugian untuk sesama?

Saat kita penuh dengan kemampuan memberi, biarkan sekitar kita merasa. Merasakan udara segar disaat tekanan kalor panas berada dalam puncaknya. Meski sedikit aliran dingin yang disalurkan. Hal ini akan memantik kelembaban yang berujung homeostatis, nantinya menghidupkan batas imbang kehidupan.

Peran itu tak harus menunggu jabatan menjadi seorang Menteri diemban. Haruskah menunggu tahta-tahta raja dianugerahkan? Mungkin saja kita harus menarik bantal untuk membangun mimpi sejenak jika fikir kita sependek itu. Namun jika saat ini mulai berperan, kenapa tidak? Kepercayaan pada diri itu perlu juga terbangun. Memberi pesan bahwa setiap kita pasti memiliki peran. Setiap kita berhak memberi perubahan.


Bunga, Tetaplah Berbeda...

Memang umumnya bunga itu cantik. Menawan dan anggun. Tapi bunga yang satu ini tak serupa dengan yang lain. Ketika jenis bunga lain tampak cantik untuk ditarik kawanan serangga, yang menghisap cairan manis dari tubuhnya. Bunga yang satu ini seperti enggan untuk dicicipi banyak serangga. Dia tak ingin serangga komunal hadir memburunya. Tak ingin mereka berduyun-duyun datang di setiap musim. Menolak mereka singgah. Kemudian dikatakan manis atau cantik parasmu! Bunga sederhana ini memilih berlalu.

Bunga tak sewajarnya ini bak bersembunyi dari pencitraan umumnya bunga. Dia berbeda. Bukan berarti cairan tubuhnya masam atau pahit. Tapi jika dianggap sudah begitu manis, belumlah pantas. Bukan juga tidak berhias mahkota yang nan enak dipandang. Hanya dia mencari sandang sederhana yang akan mempercantiknya. si Bunga ini seperti berselimut. Hanya pemiliknya lah yang mungkin tau persembunyiannya. Menghalau segala prasangka. Menuju pemberian indah dari penciptanya.

Sesampainya masa berproses. Terkadang memang sendiri. Beradu menanti seekor serangga yang tak hanya melihat rupa. Menanti dalam ujung dimana saat madu-madu itu tepat dirasa manis yang nyata. Memang menanti itu butuh waktu, melawan nada bioritme yang berulang. Sendirian bersama penciptanya begitu didamba saat ini. Memantaskan diri, memantaskan bunga yang sekarang masih sederhana. Menanti serangga yang mengerti keunikannya yang berbeda, yang turut menjaga kehormatannya. Bunga, tetaplah berbeda...


Selasa, 12 Mei 2015

Benarkah "Sebenarnya Cinta"?

Meniti jalan panjang ini mungkin terasa lelah, mengganjal, dan terasa berat. Tak selamanya mata kita itu mampu mengartikan segalanya. Ketika, melangkah menuju dua pilihan, ''cinta sebenarnya'' atau ''sebenarnya cinta''? Terdengar sama pula. Berakhir pada keputusan  dua bejana, nafsu ataukah hati. 

''Cinta sebenarnya'' terkadang semu. Berkoar-koar cinta? Mencari corong suara tetapi ujungnya bukan kesejatian cinta. Ini tentang cinta yang tampak ada tapi hanya sebatas ucapan saja. Semisal, berikrar dan mengaku cinta kepada keberadaan Kholiq. Ehhhh, ketika panggilan cinta-Nya datang, adzan berkumandang masih saja berjibaku dengan rutinitas lain. Bilangnya cinta, tapi masih saja berorientasi dunia tanpa menghiraukan waktu yang seharusnya mendekat dengan yang dicintainya. Itukah namanya cinta? Hanya kata berselimut nafsu yang entahlah hati dipindah alihkan kemana.

''Sebenarnya cinta'', mungkin pengakuan tak muncul dari ucapan. Justru membekas jelas di dalam bejana hati. Tanpa perlu diakui, tanpa perlu diapresiasi oleh manusia. Tujuan akhir hanyalah Allah. Kehinaan dimata manusia mungkin tak jadi hambatan. Mencari kemuliaan dengan "sebenarnya cinta" akan tertuntun ke kebaikan. Mengakui bahwa kasih sayang Allah hadir dibalik semua kejadian. Mungkin bermula dari terasa berat dalam perjalanan hidup ini. Namun itulah bentuk kasih sayang Allah untuk menguatkan dirinya. Jika "sebenarnya cinta", bukan sebatas bualan belaka tapi sikap yang tergambar, begitu juga dengan pengakuan yang terpatri dalam hati. 

Maka, diskusikan dengan hati sejauh mana "cinta" itu ada?
Tak hanya dikuasai nafsu yang sering lupa.
Lupa menyadari janji yang terucap pada Sang Pencipta.
Beranikah melanggarnya?
Dan benarkah "sebenarnya cinta"?

*tulisan untuk menampar diri sendiri
(terinspirasi dari analogi Abi Syatori Abdurrauf dalam Tausiyah "Menata Hati dengan Cinta Jauh dari Kegalauan")



Sabtu, 09 Mei 2015

Nikmatnya Terpanggil di Jalan-Mu



Menua. Panstilah nyawa-nyawa kita merasapakannya. Semula rona muda bersinar, kini tua sudah menanti di ujung sana. Bertemu dengannya atau berucap salam dengannya kemudian pergi? Sampai tua kutemui dengus nafas kematian. Atau sesak semasa muda lalu mati? Hidup tak hanya memilih bahagia atau derita. Lebih dari itu. Beranilah menggenggam prinsip di setiap deretan usia. Memilih menua dan muda dengan ridha-Nya. Berjuang mati di jalan Allah, kenapa tidak?

Setiap kita adalah pembawa pesan kebaikan agama ini. Islam yang paling benar. Yang mengakui keesaan Tuhan. Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Memberikan bukti Kitab yang tak pernah dirubah dari mulai diwahyukan ke Rasulullah, Utusan Yang Agung. Sampai masa-masa 1400 tahun kemudian, masa dimana generasi ulama sudah bertambah banyak di penjuru bumi ini. Dan, pedoman yang suci itu tidak berubah. Tidak ada revisi, tidak ada editing. Kebenarannya pun mengabadi.

Ya muqallibal quluub, tsabit qalbii 'ala diinik. Wahai zat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu. Hingga menua atau  saat muda kami bertemu dengan kematian. Karena itu kami memenuhi penggilan, maka perindahlan cara kami kembali kepada-Mu. Permudah hembusan nafas kami saat Malaikat pencabut nyawa itu hadir. Izinkan kami menikmati nikmatnya khuznul khotimah, Rabbii. Meski penuh hina, kami mohon pengamunan dari Zat Yang Maha Tinggi.

Ya Allah, izinkan kami terpanggil (meninggal) dalam suasana nikmat memerjuangkan agama-Mu.

Saat Genangan [masih] Penuh Cela

Menggenang. Usai hujan membuat bumi basah. Aroma khas semerbak terhirup sebagai candu. Kumpulan tirta dari singgasana langit pun bersaksi. Menjadi dewasa itu sulitkah? Ketika panas datang, gerutu bibir yang mengindera sebuah rasa; "panas!" teriaknya. Ketika tetesan hujan ganti menyambut, mencela hujan pun tak risau. Seolah air yang salah. Siapa suruh menuntut siang tapi udara sedingin ketika hujan? Sungguh, orang dewasa terlalu membingungkan.

Genangan itu berkisah dengan narasi berbeda. Sontak ketika anak kecil mendatanginya, seolah penerimaan itu hadir. Semerbak membawa pesan bahwa dia menikmatinya. Bermain dengan riak-riaknya yang pelan. Membelai dengan tangan, menginjak dengan kaki halusnya. Senyuman lepas serasa mengalir di antara sela-sela kakinya. Genangan merasakan tenang.

Menjadi dewasa itu pasti. Tapi perlulah menjadi rumit? Sederhana itu perlu. Memandang dengan bahagia. Bahwa Tuhan mencipta kumulan nikmat itu untuk manusia. Bukan untuk dicela dan dihina. Sebelum kata dewasa itu basi karena kebutaan mata hati kita. Lihatlah cahaya dari genangan air seusai hujan. Dia bukti akan keberadaan-Nya. Masihkah mencela?
 

Saat genangan [masih] penuh cela, maka menjadi dewasa hanya sia-sia.

Selasa, 05 Mei 2015

Cinta Ayah Tak Hanya Di Indera


[masih] tertegun.

Ya Allah, kasih-Mu mengajarkan banyak hal tentang sebuah ucapan sayang
Cinta itu bukan sebatas mengambang di bibir
Bukan dari sebatang coklat atau mawar berpita merah muda
Cinta itu tidak terumbar
Cinta tidak menuntut pemberian balik
Cinta adalah pembuktian
Pembuktian yang orang lain tidak menyadarinya
Hanya mata hati yang tulus yang terketuk
Hanya kesejatian yang mungkin mengungkapnya suatu hari kelak
Rabbii, cinta-Mu begitu agung
Terlalu picik manusia mengindahkannya
Teramat buta jika menyengaja tak melihatnya
Cinta-Mu lah yang menghadirkan  seseorang yang kau beri cinta
Cinta yang memang tak bisa menyerupai kesempurnaan-Mu
Tapi, dengan hadirnya kini semakin tersadar akan lupa
Bahwa justru cinta-Mu adalah tujuan akhirku

dan [ini] adalah satu dari cinta-Mu.

Ayah....
Bagaimana kau mengajarkan anakmu arti rindu?

Setua ini, kau hanya menunjukkan sikap yang nampak dingin. Terlihat tidak peduli dan acuh. Bahkan, beberapa tahun silam linangan mata tak terbendung ketika harus disuguhi kebahagian anak dengan ayahnya di luar sana. Melihat hal seperti itu membuat sesak. Saat itu aku rindu ayah. Kemanakah engkau? Dekat tapi tak terasa. Hanya harapan untuk tau apa maumu, agar anakmu bisa menyentuhmu.

Kini?
Justru kau membuat rindu ini semakin bertubi-tubi. Tersadar bahwa caramu sungguh tidak normal untuk mengungkapkan cinta. Keberbedaanmu ini yang membuatku semakin rindu. Rindu bahwa cinta itu bukan untuk menuntut diakui. Cinta ialah pembuktian, meski tampak diam, tampak acuh, tampak tak peduli. Cinta bukanlah yang tampak oleh mata! Terkadang cinta itu harus berjaga saat kau tak menyadarinya, menjagamu dari bahaya, menjagamu dari gelap, menjagamu dari kesemuan dunia, dan hal yang mungkin tak mampu indera kita menerkanya.

Menyendiri dan membayangkanmu terlalu asyik daripada tumpukan harianku. Jauh disini membisu, disaat usiamu kini sudah bertambah ayah, anakmu hanya diam. Diam karena jejalan rasa sesal karena sempat mempertanyakan keberadaanmu. Membandingkan bentuk sayangmu yang berbeda dengan orang lain. Maafkan anakmu yang masih juga suka menuntut tanpa malu. Menerka tanpa norma. 

Ayah, barakallah :')
Bukan coklat atau sebuah kue coklat berhias cery. Bukan! 

Tak akan aku berikan hal itu, karena ini bentuk lain yang sebenarnya kau ajarkan. Karena Islam pun tak mengenal hari perayaan kelahiran. Anakmu hanya menuliskan hal yang sebenarnya tidak tergambarkan. Menahannya dalam hati terasa pedih, ingin dilunturkan dengan deretan kata yang saat ini tertulis. Entahlah, ini bentuk dari rasa yang bercampur; sesal, bahagia, rindu, sayang, ataukah cinta? Secantik deretan lima di tanggal 05-05-'15, semuga Allah membangun kebahagian keluarga kita di surga-Nya.

Kini aku semakin tidak faham arti cinta hanya sekedar menggunakan indera. Kelembutan hati, memandangnya lebih dalam, dan atas izin-Nya lah rasa peka akan asumsi cinta itu hadir.



Senin, 04 Mei 2015

Dijaga atuh eneng!


Dijaga atuh eneng!
Dijaga yaaa kakak! *nunjuk hati

Biarkan dia tetap menghitam untuk saat ini. Meski terlihat tidak berwarna, biarlah. Cukup Allah yang mewarna-warnikannya suatu hari nanti. Percayalah dan berproseslah untuk label pantas.


Kamis, 23 April 2015

[Buta] Hati




#luruskanniat
#lillah
#berjuang
#syukur

[Soal] Cinta

Rabbii, ini perkara cinta yang tidak pernah terungkap. Untuk menyimpan rasa itu, yang mencinta pasti menyembunyikan rasa cintanya. Tapi, dalam diamnya, dalam sunyinya, justru gemuruh doa membuncah tanpa henti. Tanpa harap diberi kembali, yang ada hanya pemberian atas nama illahi.


"Bocah kecil yang sekarang meninggi, kau semakin sholih. Dan kakakmu semakin malu. Kau sembunyikan sakitmu untuk berkisah tentang Baghdad, Mesir, dan Madinah. Untuk sekedar menjelaskan mengenai ushul fikih karena pertanyaan yang menyerbumu. Jadilah bagian dari pemimpin negeri ini, berjuanglah untuk Islam, tegakkan nama Allah. "


Akan merindukan tangismu, karena itu adalah titik lemah kau menikam kakakmu.

Rabu, 25 Maret 2015

[Cukup] Tersipu


Dan haruskah (lagi-lagi tersipu)?
Mencari peti yang tidak ada satupun semut menyusup, tidak ada hembusan udara yang akan berhembus. Ingin semuanya kedap, sunyi senyap, biarkan menggaung dalam hati dan itupun akan berlalu sebelum semuanya halal. Biarkan cinta ini hanya untuk-Nya, Sang Maha Cinta Yang selalu meberi Cinta. Biarkan pipi ini memerah ketika menyebut-Nya, biarkan rona bahagia ini berpendar karena kasih sayang-Nya, hanya Dia, dan cukup Dia untuk saat ini.

[Cukup] tersipu, cukup!

Akan berlalu seperti senandung nananina yang dalam hitungan detik, biarkan menjadi pelangi warna yang kemudian pergi. Karena semua adalah mengenai ketidakpastian, dan yang pasti saat ini adalah aku ingin tersipu hanya karena-Nya. Pantaskan dirimu wahai calon ibu. Kau adalah madrostul ula untuk generasi islam kelak, dimulai dari kamu dan buktikan dengan akhlak putra-putrimu. 

Tulisan: Ada Seseorang 
Ada orang yang tidak kamu sadari perasaannya sedang memerhatikanmu sedemikian rupa, dari jauh. Tidak pernah menyebut namamu, bahkan ia malu mengucapkan namamu karena ia merasa tidak pernah mampu menyamai derajatmu.
Tapi ia keliru, ia lupa bahwa Tuhannya membaca hatinya. Dia mampu mendengar hati, sekalipun namamu tidak pernah diucapkannya. Orang itu kini sedang berusaha mengenalmu meski tidak ada tanya-jawab. Ia sedang berusaha memahamimu meski tidak ada aksi curhat. Ia berusaha mengenali lingkunganmu, cara berpikirmu, temanmu, keluargamu, dengan cara-cara yang mungkin tidak pernah kamu tahu. Cara-cara yang tidak hanya menjagamu tapi juga menghormatimu, karena tidak ada orang yang tahu bila itu sedang terjadi. Dan kamu tetap tidak menyadari.
Hingga suatu hari ia datang mengetuk pintu hatimu dengan kata-katanya. Mengetuknya dengan salam, salam yang penuh penghormatan sekaligus keberanian. Di dalam keberanian itu pula ada kesiapan untuk menerima segala jenis keputusan. Keberanian itu tidak hanya soal mengungkapkan, tapi juga soal menerima segala bentuk kemungkinan.
Ia mengejutkamu. Ia juga membuatmu merasa semua itu terasa khayal. Ia membuatmu merasa bahwa ini bukan waktunya. Tapi, inilah waktu yang ditetapkan-Nya. Bahwa tepat atau tidaknya bukanlah dalam kadar kita yang menentukan.
Entah hari ini atau esok. Kamu akan menyadari bahwa kedatangannya benar-benar ujian. Ujian yang akan menjadi sebuah tanda akan keimanan dan ketaqwaanmu. Seberapa jauh kamu percaya bahwa hidupmu berada di bawah sebuah rencana besar Sang Pencipta. Mungkin ia bukan orang baik, mungkin pula orang baik. Mungkin ia sedang memperbaiki diri, mungkin pula sedang tersesat. Kita berharap yang terbaik tapi sering lupa bahwa yang terbaik itu kadang adalah yang diperbaiki, bersedia diperbaiki.
Esok atau lusa, kamu akan tahu bahwa untuk menerima itu membutuhkan hati yang lebih lapang dan pikiran yang lebih jernih. Bahwa manusia tidak pernah ada yang sempurna, bahwa manusia tidak ada yang bersih dari dosa. Tapi kita diajarkan untuk mengenali mana orang-orang yang sedang bergerak menuju-Nya dan mana yang menjauhi-Nya. Karena Dia akan mempertemukan orang-orang yang sedang dalam tujuan yang sama. Bandung, 21 Maret 2015 | (c)kurniawangunadi

Minggu, 08 Maret 2015

Ada Dia dan Pergilah Dia

Awan panas bercampur semerbak bunga mawar
Bergelora dan mempesona
Tangisan bayi tanpa dosa itu damai, juga mengiris
Ada dan tiada
Dua rupa
Entahlah!
Hanya di waktu yang sama
Ada dia dan pergilah dia

Bercampur dalam bejana
Dibubuhi banyak nada dan alunan cinta
Mengubur nestapa 
Mengangkat bahagia
Mana yang nyata?
Seolah rupa ini berlapi-lapis muka

Rasa apa yang kau pesan?
Bukan coklat yang manis
Bukan lemon yang asam
Bukan juga empedu yang pahit
Lalu, mulai berkicau tanpa rasa
Berlalulah!

Enyah saja jika aku menjadi lupa
Jauh kuinjak dia biar binasa
Balik bercermin untuk diri
Menyusuri langkah yang lurus
Kutuju tangga untuk dia yang pantas

Melahirkanmu sebagai Islam


(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), "Berserah dirilah!" Dia menjawab, "Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam."Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. "Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (Al-Baqarah: 131-132)


Alhamdulillah.. Tak lupa berucap syukur karena kita adalah umat yang dipenuhi dengan nikmat. Nikmat karena terlahir memeluk agama yang benar; ialah Islam. Dari sekian banyak penduduk dunia, kita adalah bagian manusia yang dengan mudah mengenal agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini. Bagaimana tidak? Secara mudah kita terlahir sebagai Islam karena kedua orang tua kita. Mereka tidak menjadikan kita Majusi atau Nasrani. Dengan begitu sabar, kedua orang tua kita mengajarkan tentang kalimat tauhid. Mengajarkan bagaimana cara mengesakan Allah. 


Ketika ilmu kita semakin bertumpuk mengenai agama, akankah kita lupa dengan sosok yang mengenalkan kita dalam agama ini? Akankah kita terlena dan tidak memperhatikan bagaimana tahapan ilmu mereka? Mungkin kebanyakan dari kita dengan sangat angkuh menumpuk ilmu, kemudian lupa menengok kembali kondisi mereka. Apakah agama yang mereka ajarkan sewaktu kita masih ingusan masih tersemat dengan kuat dalam hati mereka? Apakah bunga semakin bermekaran atau justru semakin layu karena tak juga tersentuh hujan?


Beginikah burung yang terbang?

Menembus langit
Tinggi nian ...
Namun lupa daratan
Terlena dengan sayap
Menari bersama bulu-bulu
Sampai bertenggerpun enggan

Tanah yang basah itu terhampar tanpa jejak kaki
Hambar, mungkin layu
Terserak menanti perahu

Sangkanya dermaga itu di pelupuk mata
Padahal dibawa juga terbang


Tetap hidup tapi kering

Belulang adanya
Menanti belas kasihan baginda
Mengais setetes air yang dulunya ditimang

Kini hilang dibawa terbang.



Janganlah kita menjadi kacang yang lupa kulitnya. Habis manis sepah dibuang. Tetaplah berbakti dengan kedua orang tua. Berbagilah dengan ilmu yang bertumpuk. Karena Surga masih terlalu luas untuk dihuni sendiri dan karena mereka melahirkanmu sebagai Islam.


Rabu, 18 Februari 2015

Kopi Tak Bergincu

Tentang kopi yang kuteguk dengan penuh rasa haus akan sebuah kasih.
Kepahitan yang hadir menyulut adrenalin yang meningkat.
Sejenis rasa yang hadir seperti bius yang melambungkan angan.
Mengangkat raga ini serasa ringan.
Membuat beberapa centi mengudara di atas lantai.

Jangankan kasih, candu pun menjalar bak aliran air yang menyusuri hilir.
Rasa ini datang di saat yang lain ribut dengan berbagai kegaduhan.
Meski pelan, hangat, dan diam.
Hadir menampar mata hati hingga membuatnya menyala.
Memantik sedikit energi yang semula terpuruk.

Setia yang ada tak perlu diuji.
Memberi sahutan sikap yang lembut.

Biarkan hitam!
Biarlah menghitam!
Biar!
Caramu memberi tak perlu mengumbar warna yang manis.
Wujudmu, tetaplah begitu.
Senja, petang, terik, hingga fajar kembali datang, bertahanlah dengan dirimu.

Meski yang lain bangga dengan berbagai gincu.
Mengira itu cantik.
Toh, hanya sekedar rupa saja.

Hey kopi, sekarang bicara rasa.
Aroma kasihmu dinanti meski kau tetap saja kelam.
Kau tetap saja menghitam tanpa warna-warni bulu mata.

Rendah hati tertimbun dalam kegelapan.
Pandangan buta saja yang percaya bahwa harus mencari cahaya untuk melihatnya.
Perlukah cahaya?
Jika hati kecil itu bersih, segalanya akan nampak.
Mana yang sembunyi dibalik gincu, meski lapuk.
Apa kuat menatap itu hilang?
Atau karena bekas gincu itu menutupi jalanmu.



Rabu, 04 Februari 2015

Mahasiswa, Masihkah Kau!



Hidup memang untuk menentukan kemana gerak ini akan berlabuh. Hari ini terasa terbakar, tersulut api yang tiba-tiba saja berhembus dan hatiku menyala. Kurasa ini bisa dikatakan ambisi, tekat, harapan, dan mimpi. Yang berkobar untuk diperjuangkan.

Anak desa! Benar, inilah diriku. Ketika banyak profesi hadir untuk masyarakat. Mereka mengambil peran masing-masing dengan kinerja yang dibangun untuk membangun bagian di ranahnya. Ada guru yang mendidik anak bangsa, yang kehadirannya memang dilabeli "Pahlawan tanpa tanda jasa". Itulah mereka yang di ranah intelektualitas, mereka berjuang membentuk manusia cerdas dan berkarakter. Lain lagi jika bicara Polisi, termasuk juga Polwan. Tak lupa juga TNI. Mereka memberi harapan bahwa Indonesia akan aman dengan kehadiran mereka. Yang dimaksud aman disini yang jelas terkait geografis. Mereka juga menegakkan keadilan, memberikan layanan berupa pengawasan di jalanan Indonesia dan juga di batas-batas negara. Mereka siaga untuk amannya negeri ini. Di ranah kesehatan ada sekumpulan pejuang yang menginginkan bahwa negeri ini sehat, tidak penuh dengan penyakit. Mereka ialah dokter, bidan, perawat, mantri, apoteker, analis kesehatan, ahli fisioterapi, dan sejenisnya yang bergelut untuk meminimalisir angka sakit di Indonesia. Akan lebih kece lagi jika bicara peneliti. Tampak dari luar mereka sangat smart, terpelajar, dan so serius. Mereka berjibaku dengan hal-hal yang masih belum pasti. Akhirnya bergelut dengan temuan-temuan, dengan harapan memberi manfaat untuk keberlangsungan hidup manusia. Kontribusi mereka memang di jalur ilmiah dengan perjuangan mereka menemukan hal baru yang diteliti di Laboratorium atau observasi langsung di alam. Begitupun dengan profesi mereka yang mulia untuk Negara ini.

Lalu, kembali muncul pertanyaan. Jika ada anak desa, yang menjadi mahasiswa, dan masih akan menginjak semester 6 apa yang bisa diperbuat untuk negeri ini?
Apakah hanya ini semboyan kami:
Kuliah, kuliah, kuliah lagi, lagi-lagi kuliah, dan kuliah lagi kuliah lagi!


Yang jelas tidak hanya itu kawan, justru kitalah HARAPAN kemana Indonesia ini akan dibawa. Jika mahasiswanya saja malas, mudah putus asa, berhura-hura, acuh terhadap negeri ini, dan tidak amanah. Kemana perahu negara ini akan berlabuh?
Ke Pulau yang tidak terjamah dan penuh dengan makhluk mengerikan yang ganas?
Hey, ingat PEMUDA!
Pulau-pulau kita saja sudah banyak yang berpindah kepemilikan. Ini karena pemiliknya pun penuh ketamakan. Bukannya menjaga dengan baik, tapi malah diperjual-belikan untuk oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab.

Bukalah mata hati kalian! Tak hanya sekedar mata, panca indra kalian. Disini kita; para pemuda Indonesia termasuk saya. Seyogyanya harus segera bangkit. Bukan hanya bangkit dari galau akibat cinta. Tapi move on untuk memajukan negeri ini. BANGKIT! Dari hal kecil, dari hal yang kita rasa mengganjal dan itu bisa kita rubah.

Apakah yang paling dekat dengan kalian, wahai pemuda!
Hal yang paling dekat dengan kalian para mahasiswa adalah rutinitas kalian. Yeah, mungkin pekerjaan kita memang kuliah. Lalu kuliah yang seperti apa? Semua yang kita tempuh selama kuliah juga akan ditanyakan sebagai wujud pertanggung jawaban.
Ilmu yang kita dapat dari belasan dosen kita yang sudah 5 semester ini disampaikan, ilmu itu akan menuntut! Pengalaman mereka yang dihaturkan untuk memompa semangat kita. Memberikat tugas agar kita terus membuka kembali apa yang telah diajarkan, agar kita rajin dan haus akan ilmu.
Wahai Pemuda! Kuliah kalian adalah untuk negeri kalian. Sekian tahun kampus yang berdiri dimana pun, swasta ataukah negeri adalah untuk membentuk pribadi kalian yang tangguh, kuat, berkarakter, berakhlak, dan pastinya berilmu. Tidak hanya untuk PRIBADI-mu saja, tapi untuk NEGERI ini, INDONESIA-ku, INDONESIA-kita.

Dan masihkah kau malas?
Masihkah kau banyak tidur dan lupa kewajibanmu?
Masihkah kau bermain-main?
Masihkah kau tidak berjuang membaca untuk Indonesia?
Masihkah kau lupa bahwa kau sudah menjadi "Orang"?
Masihkah kau lupa bahwa pengemudi negeri ini adalah kalian juga?
Masihkah kau berfikir tidak bisa berbuat apa-apa?
Masihkah kau akan bersembunyi?
Masihkah kau akan bermain dengan bom waktu)

Pemuda, masihkah kau!
Mahasiswa, masihkah kau!




Passion, Niat, dan Kadar Suka

Karena -benci- dan -cinta- itu hanya berbeda soal kadar suka.

Dulu suka mata pelajaran eksak layaknya matematika, mungkin suka ilmu sosial juga, atau bahkan suka dengan dunia penyakit (sok jadi analisis kesehatan gitu mungkin, hehe). Dulu -A- dan sekang bisa saja jadi -Z-, berlawanan, bertolak belakang, 180 derajat. Orang bilang yang disukai itu PASSION.

Saat mungkin lupa waktu karena saking asyikna (lupa mandi, lupa maka, ehhh). Yang bertumpuk pun kalo sudah suka, bakal mungkin rampungnya segera. Yang mahal seberapapun, mungkin bakal dikejar. Kalau sudah taat, mungkin akan tunduk seberapapun mengerikan medan perang (tentara Palestine misal), bahkan mereka bukan mengenggap kekuatan fisik atau senjata lah penentu kemenangan. Bukan! Mereka mengaku kuat jika RUHIYAH mereka sudah siap, yaitu ketika DEKAT DENGAN ALLAH. Sudah hadir di mimbar-mimbar cinta-Nya dan sudah ada keikhlasan berperang. Pilihan mereka adalah menang karena Allah atau Mati Syahid juga karena Allah. Inilah bukti cinta mereka. Dan siap dengan hasil akhirnya!

Balik lagi ke PASSION. Berbeda dengan perkara-perkara lainnya karena kadar cintanya berlebih. Yang merasa salah jurusan? Salah ambil profesi? atau salah ambil keputusan? Emm, bukankah dulu rasa suka itu berlebih, rasa cinta itu menumpuk lebih banyak sehingga kau memilih dan memutuskannya.

Seberapapun kalian tidak nyaman dengan apa yang kalian pilih saat ini. Bukankah hati kita sudah terpaut? Dulu kita kan tidak lagi mengigau, tidak lagi sedang tersihir, kita sadar. (khusus: nampar diri sendiri *plaaakkk)

Rasulullah pun berpesan, "Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya". Dan karena niat itu sedetik kemudian saja bisa berubah. Setiap waktu niat itu perlu di sapa, masih benar atau tidak? Jika merasa niatnya dari awal salah, ya dibenerin. Kalo sudah benar tapi ditengah melenceng, maka ya diluruskan. Inilah perlunya kita memohon ke-ISTIQOMAH-an.

Hati ini mudah terbolak-balik, diri ini masih banyak belajar, masih banyak harus menuntut ilmu, masih perlu berguru.
Di bawah langit Ponorogo, hari kelima bulan kedua dari tahun 2015, tepat pukul 09:04 WIB.
#Lillah#Menulis#Membaca#Biologi#Psikologi#Relawan‪#Burning! >_<

Mbak Linda Armitasari ingin memelukmu dari jauh :)
Mbak Rina Septarina, mengingat teori "mencemplungkan diri" >_<
Teman masa kecilku yang sekarang jarang nongol, mana jambu merahnya yang dibelah dua? *ehhh
Teman-teman TK, MI, dan SMP *rinduuuuu :p
Salam XB: Ora ed labora dan Bu Amru :)
XI A 1 dan Bu Ambar :)
XII A 4 dan Pak Taufik :)
OSIS MAN 2 Ponorogo periode 2010 dan 2011 (Sofia, Ninis, dkk)
Kumpul yuk: Trigonometri 2012, Kuantum 2014, dan Citrullus lanatus 2014 :)
Keluarga Penalaran 2013, mumu Himabio 2013 :p
Keluarga LJ 2013, hamasah Haska 2013 :)
Formatur Himabio, Adik-adik, dan Himabio 2014 mengangkasa :3
MPO 2013, kangen kumpul kak :)
Himabio 2015, barakallah :)
Herbiforus, ayuk mulai ;)
KPB Bionic, hhe sudah bersedia menampung yang belum menjadi anggota sekalipun :D
Jurdik Biologi FMIPA UNY dan dosen-dosen yang menginspirasi :)
PBS, lulus bareng 2016 yaaa :3
Keluarga Karangmalang, Timoho, dan IM :) menginspirasi di setiap aksi!
Tim Cocos Lepita mumu :)
Tim Taman Edukasi, perjuangan kita baru dimulai :3
Keluarga B20 :D
Keluarga Ulya (RCU) :P
Mbak Riza Sativani, merindukanmu sangat, kapan balik dari Bone? :)
Yusuf embem, semangat jadi sholih :p
Mbah kung: Margi ingkang leres, yeah :* (mbah putri juga: Ponorogo, Madiun)
Adheeeeeeek, deal Mesir kan? :P
Bapak Ibu, You are my HERO :*

Jazakumullah khoiran katsir :)


Tak Perlu Risau, Pak.

Pagi ini berawal dengan kabut yang aku rasa sulit untuk disibak...

Setelah sedikit mengungkapkan yang menekan di hati ke ibu, akhirnya tersampaikan juga meski dengan satu kalimat, "Nopo bapak khawatir kalih kulo nggeh buk?" (baca: Apakah bapak khawatir dengan mila ya buk?). Bagaimana tidak, justru fikiran ini tak tenang karena bapak terlihat menyembunyikan sesuatu. Nampak diam dan berfikir.

Semalam sempat mau bertanya. Tapi keberanian tak lagi muncul karena saking takutnya aku.

Entah apa yang mengusik ketenangan bapak.
Yang jelas :

Anakmu baik-baik saja pak, Masih utuh :) Alhamdulillah masih memeluk agama yang Bapak ajarkan. Terimakasih karena didikan Bapak, mila mengerti bahwa hidup akan terus berjuang. :)


Jumat, 30 Januari 2015

Adikku dan Sumpit

Emmmm...
Pulang juga akhirnya *merasa telat, hehe

Adikmu . ................ (blablabla)
Dia itu .................. (blablabla) 

Bagaimana kabar kakaknya yaa?
Apa benar yang perlu dikhawatirkan adalah yang lebih muda.
Jangan-jangan yang lebih tua justru membutuhkan pertolongan.

Lagi-lagi kalo pulang itu selalu merasa malu, karena seorang kakak hanya mendengar kisah perjuangan adiknya. Waktu selalu bergulir memberikan kenyataan bahwa kita seolah seperti pekerja paruh waktu yang waktu kerjanya berbeda; di siang dan malam. Selalu bergantian.

Mbak mendengar kisahmu dari ibu. Merasa malu.
 Kapan kita makan ice cream dan mie ayam bareng (*pake sumpit)?

Dari kakakmu yang benar-benar ingin mengajakmu berantem :D

Selasa, 27 Januari 2015

Bukan Karena Ayah Semata, Tapi Karena Agamaku


kelingking mila masih untuk ayah saat ini... 

"Ayah, laki-laki yang baik menurut Ayah itu yang bagaimana?", tanya anak perempuannya, puteri semata wayangnya. Sambil menggandeng tangan puterinya yang tak lagi kecil itu, sang Ayah berhenti.
"Laki-laki yang layak dipilih mungkin adalah yang selalu khawatir tidak layak jadi pilihan", sang Ayah menjawab sambil matanya melihat ke langit luas.
"Mungkin?", selidik puterinya.
"Iya mungkin, karena itu hanya salah satu yang Ayah tahu. Selebihnya ayah tidak tahu, karena Ayah tidak pernah menjadi selain itu?", sang Ayah menatap wajah puterinya.
"Menjadi selain itu? Apa Ayah dulu merasa tidak layak?",tanya puterinya sambil mengajak ayahnya duduk di bangku taman.
"Iya, waktu ibumu memilih ayah. Ayah hampir tidak percaya bahwa akan ada perempuan di dunia ini yang bisa menerima Ayah kala itu", sang Ayah menjawab parau. Sambil mengeluarkan foto dalam dompetnya. Foto ia bersama sang Istri.
Puterinya merangkul bahu ayahnya. Ikut rindu pada ibunya yang telah lebih dulu tiada.
"Kalau perempuan yang baik itu yang gimana yah?", tanya anaknya untuk mengalihkan kesedihan.
"Perempuan yang baik bagi ayah adalah perempuan yang sulit dimengerti karena penjagaan dirinya yang bagitu rapi, hingga tak ada celah buat orang lain mengetahuinya", kata Ayahnya.
"Apa seperti Ibu?", canda puterinya.
"Iya kayak ibumu, susah banget dimengerti dulu ketika Ayah mendekatinya, haha. Kamu juga susah dimengerti kayaknya sama laki-laki diluar sana, mirip ibumu", jawab ayahnya.
"Hahaha kan yang bisa ngerti aku cuma Ayah", puterinya memeluk Ayahnya dari samping. 
Rumah, 26 Januari 2015 | (c)kurniawangunadi
(Cerpen: Ayah dan Anak Perempuannya Bila Sedang Berdua )


Ayah, mila merindukanmu.
Bagaimana dulu kau mencintai ibu sampai sekarang?
Alasan apa sampai ayah memilih ibu?
Mila benar-benar ingin mendengar cerita ayah tentang hal ini.
Apakah ayah tau betapa anakmu ini sudah cukup dewasa.
Mila ingat pesan sekitar 30 bulan silam, "Kenal oleh nduk, tapi gak oleh cedhak-cedhak." (baca: Kenal boleh nak, tapi tidak boleh dekat-dekat."
Ayah, sejauh mana mila harus menjaga kedekatan dengan seseorang.
Bahkan disini mila mengenal banyak teman; yang beragam, yang banyak rupa.
Dan tak hanya wanita, tapi kaum yang sama seperti ayah.
Ayah, mila masih akan melekatkan kelingkingku dengan ayah.
Mila akan menjaga.
Bukan karena ayah semata, tapi karena Allah.
Karena syari'at islam.
Inilah agama yang mila pilih, agama yang PALING BENAR.
Sangat benar menjaga wanita dengan aturan-aturannya.
Ayah, mila menantikan Ayah berkisah dengan hati ayah yang berlabuh ke ibu.
Mila sudah cukup dewasa untuk mendengarnya. (*muka semakin merah)

Minggu, 25 Januari 2015

Diam-Diam Mereka Lebih Mencintaimu





Suatu Hari Nanti 

Suatu hari akan ada seseorang yang cukup baik budinya untuk membuat tertarik. Cukup luas hatinya untuk tempatmu tinggal. Cukup bijaksana pikirannya untuk kamu ajak bicara. 
Kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk mempertahankan seseorang, tetap jadilah diri sendiri. Kamu pun tidak (dan jangan) menuntut orang lain menerima keadaanmu bila ia memang tidak mampu menerimanya.Karena yang baik belum tentu tepat. Orang baik itu banyak sekali dan hanya ada satu yang tepat. Selebihnya hanyalah ujian. Kamu tidak pernah tahu siapa yang tepat sampai datang hari akad. Tetaplah jaga diri selayaknya menjaga orang yang paling berharga untukmu. Karena kamu sangat berharga untuk seseorang yang sangat berharga buatmu nantinya. 
Suatu hari akan ada orang yang cukup baik dan cukup luas hatinya untuk kamu tinggali. Cukup kuat kakinya untuk kamu ajak jalan bersama. Lebih dari itu, ia mampu menerimamu yang juga serba cukup. 

Bandung, 9 Oktober 2014 | (c)kurniawangunadi



Seberapa Allah memisahkan jarak antara manusia (sesama saudara seiman), maka memang pada kenyataannya bumi ini bulat. Maka akan juga bertemu di satu titik. Bahkan, ketika komitmen untuk menjaga hati itu semakin kuat tetapi justru malah jarak masih bisa dipandang. Maka apa yang terjadi? Apalah daya manusia, berikhtiar atas nama Allah saja. Allah pun sudah mengatur pertemuan dan perpisahan,bahkan kelahiran dan kematian pun sudah terencana dengan apiknya. Subhanallah, itulah kuasa yang teramat sempurna.

Yang tiba-tiba hadir dalam hidup kalian saat ini, mungkin itu sebatas angin lalu, kawan. Bagaimana tidak? Mungkin sebagian kita masih di semester awal kuliah kok udah mikirin jauh kesana. Boleh-boleh saja, dan memang harus difikirkan. Tapi! Yang terfikirkan adalah tentang BERPROSES untuk MEMANTASKAN DIRI. Bukan kok malah sibuk mencari-cari siapa dan dimana. Bahaya kalo setiap orang di perempatan jalan menuju kampus ditanyain tentang hal itu (*kalo ini bercanda hahaha).

Jika merasa sudah siap, ya disegerakan aja. Meminimalisir hubungan yang tidak sepentasnya agar segera halal. Tapi, khususnya bagi yang belum, yaaaa rileks aja kenapa, hehe. Fokus kuliah, trus disambi buat baca-baca buku atau datang ke kajian yang meng-upgrade kapasitas diri untuk siap dengan segala kemungkinan yang akan hadir mengenai hal tersebut.

Dekatkan dirimu kepada Sang Maha Pembolak-balik hati, memohon keistiqomahan dan perlindungan akan segala bentuk zina hati. Tips ampuh agar tidak memikirkan hal itu terus adalah memikirkan sahabat, teman, tetangga, dan keluarga. Bahkan kita juga masih memiliki tanggungjawab untuk berbakti kepada orang tua. Kehadiran kita selalu dinati oleh mereka, maka bahagiakanlah! Jadilah aroma wangi yang tertebar diseisi rumahmu. Biarkan mereka bangga bahwa kehadiranmu adalah bentuk nikmat Allah yang luar biasa. Sebenarnya diam-diam Mereka lebih Mencintaimu.







Sabtu, 24 Januari 2015

Komitmen (–BENTENG-, –BATAS-, dan –BARIER-) untuk Menjaga Hati



Kali ini aku bicara –benteng-,  –batas- , dan –barier-  untuk hati. Ehhh, kok bisa? (*ketawa jahat karena membuat penasaran). Saat seseorang merasakan hal tidak beres. Misalnya saja, saat tiba-tiba badan terasa meriang padahal baru saja beraktivias normal, ketika laptop tiba-tiba berbunyi ketika flashdisk teman terpasang, dan keanehan lainnya. Itu adalah bentuk alarm bahwa pertahanan harus lebih kuat.

Saat bicara tubuh, maka sel imun akan semakin berjuang melawan zat-zat asing yang merusak kekebalan tubuh. Naiknya suhu badan alias meriang, itu salah satu bukti perlawanan sel imun. Makanya, saat kau merasa meriang, maka perlu adanya tindak lanjut agar kondidi badan tidak semakin parah. Begitu pula saat laptop berbunyi kencang, biasanya “tuling-tuling-tuling...” maka indikasi ada virus. Bentuk virus yang menyerang tubuh dan laptop memang bentuknya beda atuh eneng. Tapi mereka sama-sama memberikan respon yang khas agar si empunya menyadari bahwa tubuh atau laptop yang dimiliki dalam kondisi –in dangerous-, dan agar segera mencari titik penyelesaian.

Tapi, gimana kalo yang tidak beres adalah hati?

Bukannya hati juga anggota tubuh ya! Yang kali ini saya maksud adalah –hati- yang merasakan getar-getar rasa yang berbeda. Sesuatu benda yang mudah tersentuh akan sesuatu rasa, yang peka bahwa ada yang menarik di luar sana. Dan ini bahaya jika kau menikmatinya tanpa batasan. Bagaimana tidak? Pasti pikiran akan ikut tidak wajar, berkelana membayangkan sesuatu yang menarik hatinya. Berandai-andai jika rasa ini juga bersahut. Dan berbagai ide gila yang menguasai alam bawah sadar.

Menurut penelitian, alam bawah sadar 80% berpengaruh terhadap tindakan yang dilakukan manusia. Makanya, sadarlah kawan! Fine, kita harus memulai dengan apa yang saya katakan –benteng-, –batas-, dan –barier- untuk bentuk antisipasi. Pasti pagar yang meninggi itu perlu bata dan semen yang ditata meninggi, begitu pula yang saya katakan –benteng-, –batas-dan –barier- tersebut. Bahan membangun pertahanan adalah komitmen untuk menjaga hati. Komitmen yang secara sdar dikerjakan untuk membuat perubahan agar hati baik-baik saja. Istilahnya kalo dalam ilmu psikologi adalah Personal Sense of Commitment (PSC). Secera detail memiliki arti: komitmen terhadap apa yang dikerjakan dan komitmen terhadap perubahan yang terjadi, berkaitan dengan tujuan hidup.

Komitmen untuk menjaga hati ini harus mulai dibangun saat merasa hal yang aneh muncul ketika berinteraksi dengan non muhrim kita. Jangan biarkan tumbuh berkembangbiak rasa yang tidak sepantasnya, jangan dibiarkan membutakan hati, karena akan berakibat zina hati. Jika dibiarkan bertumbuh, berbunga, dan berbuah maka hati akan penuh noda hitam karena belum berani mengikat dengan ikatan pernikahan tapi malah bermain-main dalam ikatan tidak halal (sebut saja pacaran). Maka, setan akan jadi teman saat memang kita asyik bermain dengan Virus Merah Jambu (VMJ) ini. Bagaimana tidak? Alam bawah sadar akan mencari kesukaan dari yang menarik hati, bahkan parahnya kalo sudah jadi stalker dan intens berkomunikasi (*hati-hati kholwat, kan yang ketiga setan lho).

Komitmen untuk menjaga hati itu harus ada, misal dengan cara mengurangi intensitas komunikasi yang tidak penting, menundukkan pandangan (godhul bashor) kalo berhadapan dengannya, jaga jarak (radius 1 km, hehe bercanda), cari aktivitas yang lebih bermanfaat agar pikiran tidak kosong, banyak-banyak beristigfar saja kalo teringat si dia, dan yang paling penting adalah memohon kepada Sang Maha Pembolak-balik hati agar terjaga sampai ikatan yang halal itu datang.

“Kodrat wanita memang perasa dan cinta itu juga fitrah. Maka letakkan di tempat yang tepat dan halal, agar keberkahan itu hadir di setiap pekerjaan yang kita lakukan dalam hidup ini. Terus berproses untuk siapa saja yang hadir menjemputmu suatu hari nanti. Pantaskan dirimu! Jadilah yang paling spesial untuk pasangan halalmu. Buatlah bangga bahwa kau benar-benar menjaga hati dan diri hanya untuknya.”

Yogyakarta, 24 Januari 2014

-Mozaikmila-


SENDIRI atau BERSAMA-SAMA, Lingkungan ini Membutuhkan Kita!



“Lingkungan itu memang indah,
siapa yang bisa hidup -TANPA- nikmat dari Tuhan yang satu ini?”(Tim PKM-M Taman Edukasi)

Mungkin tidak ada orang yang bisa hidup tenang jika sebulan penuh harus hidup di antara air genangan banjir, serta  tak akan mampu bertahan dengan air kotor yang meninggi dan yang telah mengotori rumah megah mereka.

Manusia terkadak teramat picik, mereka sadar bahwa lingkungan itu penting jika wujudnya sudah rusak dan tak sesuai fungsinya. Mereka panik, gelisah, dan mempertanyakan secara serius “Ini tanggungjawab siapa?”. Namun, tidak sedikit orang yang tergerak karena kondisi bumi yang menua ini. Melalui pekerjaan yang sungguh mulia, mereka mengabdi, seperti halnya pihak pengelola limbah, pabrik daur ulang, dan hasta karya dari barang-barang buangan. Itulah wujud dari kepedulian yang nyata, meskipun kecil tapi dedikasi terhadap lingkungan mereka amatlah tinggi.

Kebiasaan sederhana seperti menghemat air untuk keperluan rumah tangga, mematikan lampu ketika siang hari, bersepeda ketika bepergian untuk jarak dekat, meminimalisir penggunaan plastik, dan tidak membuang sampah ke bantaran sungai merupakan contoh kebiasaan yang harus dibangun setiap manusia di bumi. Bukan hanya sekedar mengeksploitasi keberadaan Sumber Daya Alam (SDA) saja. Namun ketika bumi ini rusak, justru saling menyalahkan dan menuding bahwa ini adalah kesalahan pemerintah yang tidak tegas. Setiap dari kita adalah warga di bumi ini kan? Tidak hanya pemerintah, maka setiap dari kita wajib untuk prihatin dan bergerak untuk memperbaiki lingkungan kita.

Salah satu dari Tim PKM-M Taman Edukasi menyaksikan sesorang yang mulia sekali dan memiliki rasa cinta lingkungan yang tinggi. Karena beliau lah, justru tersadar bahwa Jika manusia masih berkeinginan BUMI HIDUP saat ini: dalam kondisi sendiri atau bersama-sama sekalipun, lingkungan ini mebutuhkan kita. Bagaimana kisahnya?

Dialah seorang bapak yang sudah beberapa minggu terakhir (sejak awal Januari) terihat sibuk di selokan yang berlokasi di sebelah timur Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Yogyakarta. Bagaimana tidak sibuk? Beliau bahkan dengan hanya memakai singlet dan celana panjangnya, rela mencelupkan kakinya masuk ke dalam selokan yang baunya cukup tidak sedap. Tangannya tampak keluar masuk mengambil berbagai macam barang yang menyumbat jalannya air, mulai dari batu, pasir, botol bekas, seresah daun, plastik, bahkan sisa sandal jepit yang entah kemana pasangannya.

Sulit dibayangkanbukan? Di sebelah kanan (baca: tempat yang bersih) tampak beberapa perlengkapan yang menunjukkan bahwa beliau itu berkelana. Kemungkinan demikian, karena tampak membawa tikar, sapu kecil, dan beberapa tas yang tertumpuk rapi. Saya tidak tahu apakah bapak ini tidak memiliki rumah, atau memang memutuskan meninggalkan rumahnya untuk pekerjaan mulia yang dilakukan saat ini.

Setiap hari beliau terbiasa dengan aroma air sadah yang menggenang di selokan tersebut. Saya justru salut, beliau ini sendirian padahal. Mungkin orang lain termasuk saya akan malu jika bertindak seperti beliau jika dalam kondisi sendirian. Mungkin di dalam hatinya, beliau ingin memberikan contoh bahwa untuk menjaga lingkungan itu tidak harus muluk-muluk. Dengan masalah yang jelas tampak di depan mata saja kita bisa berkontribusi. Dengan modal niat yang lurus, saluran air yang awalnya menggenang kini sudah mulai lancar karena kebaikan hati beliau. Rambutnya yang sudah memutih pun tak jadi alasan untuk membuktikan “cinta lingkungan”. Sebagai anak muda apa yang sudah kita lakukan?




Itulah kisah yang menjadi penyemangat kami untuk membuktikan pengabdian kami terhadap lingkungan melalui pendidikan. Meskipun memang kami tak sehebat beliau yang berjuang sendirian di tempat itu, kami memulai langkah berlima untuk berkontribusi dengan cara kita. Berusaha memupuk “cinta lingkungan” bersama anak-anak yang nantinya mereka juga mengemban kewajiban penting bagaimana bumi kita ini dibawa. Melalui –TAMAN EDUKASI- kami berjuang!

Yogyakarta, 24 Januari 2015
-Mozaikmila-



Melalui –TAMAN EDUKASI- Kami Mengabdi



“Bila waktu bisa berbalik ke masa lalu:
Sebagai anak-anak,
apakah kami akan memungut daun yang jatuh di halaman rumah
sebagai wujud cinta terhadap lingkungan?”
(Tim PKM-M Taman Edukasi)

Melihat lingkungan yang semakin parah, mungkin timbullah rasa gelisah dari sekumpulan mahasiswa jurusan pendidikan biologi. Sebagai mahasiswa yang memang kesehariannya dituntut untuk dekat dengan alam, maka secara garis besar tak hanya sekedar tahu, akan tetapi cukup faham dengan arti “Cinta Lingkungan”. Kamilah tim yang dipertemukan karena sense yang sama, tergerak untuk memulai langkah kecil sebagai kontribusi kami tehadap lingkungan. Dengan lima anggota yang karakternya beragam, justru kami menyatu atas nama lingkungan, yang dikembangkan melalui dunia pendidikan.

Brand yang menjadi objek pengembangan tim kami adalah –TAMAN EDUKASI- bagi anak Sekolah Dasar, khususnya kelas IV-V. Lingkungan sekolah terkadang justru luput dari ketertarikan anak-anak, karena mungkin kondisinya yang sama sekali tidak menarik bagi mereka. Maka dari itu, kami berlima memiliki gagasan jika taman itu harus dikontruksi untuk lahan belajar sekaligus bermain. Edukasi yang terintegrasi ini bisa melalui pendekatan yang langsung mengajak mereka menanam, merawat, dan mengenal berbagai tanaman.

Tentunya, cinta akan lingkungan itu memiliki berbagai indikator, maka kita juga memiliki garis haluan kerja yang akan dikembangkan. Misalnya saja, kita juga akan memanfaatkan kaleng, botol, batok kelapa, dan berbagai bahan tidak terpakai lainnya untuk digunakan kembali sebagai media tanam dan ornamen yang mendukung pembuatan taman edukasi ini. Prinspip re-use yang kami gunakan agar sepatutnya anak punya kesadaran bahwa barang yang mereka anggap –sampah- itu masih bisa digunakan. Bahkan dengan tangan kecil mereka, nantinya bisa membuat dan turut andil menjaga lingkungan.

Anak-anak SD yang berada di SD Negeri Nanggulan, Maguwoharjo, Sleman lah yang natinya menjadi sasaran kami untuk pengembangan taman edukasi. Usia mereka yang berkisar 10-11 tahun ini, perlu diajarkan bahwasanya kegiatan menanam dan merawat tanaman itu hal yang menyenangkan. Bahkan mengenal tanaman dan fungsinya juga tak kalah penting untuk pemantik rasa cinta lingkungan dalam diri mereka.

Tim kami sangat bersemangat sejak pengumuman tanggal 15 Januari 2015 menyatakan bahwa Program Kretifitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) kami menjadi salah satu penerima Hibah Direktorat Jenderal pendidikan Tinggi (DIKTI) tahun 2014. Semuga amanah ini kami laksanakan dengan semaksimal mungkin sebagai wujud mengabdi kita terhadab bumi yang telah Tuhan berikan kepada kita, para manusia, khalifah fil ‘ard.

Yogyakarta, 24 Januari 2014

-Mozaikmila-