Sabtu, 09 Mei 2015

Nikmatnya Terpanggil di Jalan-Mu



Menua. Panstilah nyawa-nyawa kita merasapakannya. Semula rona muda bersinar, kini tua sudah menanti di ujung sana. Bertemu dengannya atau berucap salam dengannya kemudian pergi? Sampai tua kutemui dengus nafas kematian. Atau sesak semasa muda lalu mati? Hidup tak hanya memilih bahagia atau derita. Lebih dari itu. Beranilah menggenggam prinsip di setiap deretan usia. Memilih menua dan muda dengan ridha-Nya. Berjuang mati di jalan Allah, kenapa tidak?

Setiap kita adalah pembawa pesan kebaikan agama ini. Islam yang paling benar. Yang mengakui keesaan Tuhan. Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Memberikan bukti Kitab yang tak pernah dirubah dari mulai diwahyukan ke Rasulullah, Utusan Yang Agung. Sampai masa-masa 1400 tahun kemudian, masa dimana generasi ulama sudah bertambah banyak di penjuru bumi ini. Dan, pedoman yang suci itu tidak berubah. Tidak ada revisi, tidak ada editing. Kebenarannya pun mengabadi.

Ya muqallibal quluub, tsabit qalbii 'ala diinik. Wahai zat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu. Hingga menua atau  saat muda kami bertemu dengan kematian. Karena itu kami memenuhi penggilan, maka perindahlan cara kami kembali kepada-Mu. Permudah hembusan nafas kami saat Malaikat pencabut nyawa itu hadir. Izinkan kami menikmati nikmatnya khuznul khotimah, Rabbii. Meski penuh hina, kami mohon pengamunan dari Zat Yang Maha Tinggi.

Ya Allah, izinkan kami terpanggil (meninggal) dalam suasana nikmat memerjuangkan agama-Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar