Kali ini aku bicara –benteng-, –batas- , dan –barier- untuk hati. Ehhh, kok bisa? (*ketawa jahat
karena membuat penasaran). Saat seseorang merasakan hal tidak beres. Misalnya
saja, saat tiba-tiba badan terasa meriang padahal baru saja beraktivias normal,
ketika laptop tiba-tiba berbunyi ketika flashdisk
teman terpasang, dan keanehan lainnya. Itu adalah bentuk alarm bahwa pertahanan
harus lebih kuat.
Saat bicara tubuh, maka sel imun akan semakin
berjuang melawan zat-zat asing yang merusak kekebalan tubuh. Naiknya suhu badan
alias meriang, itu salah satu bukti perlawanan sel imun. Makanya, saat kau
merasa meriang, maka perlu adanya tindak lanjut agar kondidi badan tidak
semakin parah. Begitu pula saat laptop berbunyi kencang, biasanya
“tuling-tuling-tuling...” maka indikasi ada virus. Bentuk virus yang menyerang
tubuh dan laptop memang bentuknya beda atuh
eneng. Tapi mereka sama-sama memberikan respon yang khas agar si empunya menyadari bahwa tubuh atau
laptop yang dimiliki dalam kondisi –in dangerous-,
dan agar segera mencari titik penyelesaian.
Tapi, gimana kalo yang tidak beres adalah hati?
Bukannya hati juga anggota tubuh ya! Yang
kali ini saya maksud adalah –hati- yang merasakan getar-getar rasa yang
berbeda. Sesuatu benda yang mudah tersentuh akan sesuatu rasa, yang peka bahwa
ada yang menarik di luar sana. Dan ini bahaya jika kau menikmatinya tanpa
batasan. Bagaimana tidak? Pasti pikiran akan ikut tidak wajar, berkelana
membayangkan sesuatu yang menarik hatinya. Berandai-andai jika rasa ini juga
bersahut. Dan berbagai ide gila yang menguasai alam bawah sadar.
Menurut penelitian, alam bawah sadar 80%
berpengaruh terhadap tindakan yang dilakukan manusia. Makanya, sadarlah kawan! Fine, kita harus memulai dengan apa yang
saya katakan –benteng-, –batas-, dan –barier- untuk bentuk antisipasi. Pasti
pagar yang meninggi itu perlu bata dan semen yang ditata meninggi, begitu pula
yang saya katakan –benteng-, –batas-dan –barier- tersebut. Bahan membangun
pertahanan adalah komitmen untuk menjaga
hati. Komitmen yang secara sdar dikerjakan untuk membuat perubahan agar
hati baik-baik saja. Istilahnya kalo dalam ilmu psikologi adalah Personal Sense of Commitment (PSC).
Secera detail memiliki arti: komitmen terhadap apa yang dikerjakan dan komitmen
terhadap perubahan yang terjadi, berkaitan dengan tujuan hidup.
Komitmen untuk menjaga hati ini harus
mulai dibangun saat merasa hal yang aneh muncul ketika berinteraksi dengan non muhrim kita. Jangan biarkan tumbuh
berkembangbiak rasa yang tidak sepantasnya, jangan dibiarkan membutakan hati,
karena akan berakibat zina hati. Jika dibiarkan bertumbuh, berbunga, dan
berbuah maka hati akan penuh noda hitam karena belum berani mengikat dengan
ikatan pernikahan tapi malah bermain-main dalam ikatan tidak halal (sebut saja
pacaran). Maka, setan akan jadi teman saat memang kita asyik bermain dengan
Virus Merah Jambu (VMJ) ini. Bagaimana tidak? Alam bawah sadar akan mencari
kesukaan dari yang menarik hati, bahkan parahnya kalo sudah jadi stalker dan intens berkomunikasi
(*hati-hati kholwat, kan yang ketiga
setan lho).
Komitmen untuk menjaga hati itu harus ada,
misal dengan cara mengurangi intensitas komunikasi yang tidak penting,
menundukkan pandangan (godhul bashor)
kalo berhadapan dengannya, jaga jarak (radius 1 km, hehe bercanda), cari
aktivitas yang lebih bermanfaat agar pikiran tidak kosong, banyak-banyak
beristigfar saja kalo teringat si dia,
dan yang paling penting adalah memohon kepada Sang Maha Pembolak-balik hati
agar terjaga sampai ikatan yang halal itu datang.
“Kodrat wanita memang perasa dan cinta itu juga fitrah. Maka letakkan di tempat yang tepat dan halal, agar keberkahan itu hadir di setiap pekerjaan yang kita lakukan dalam hidup ini. Terus berproses untuk siapa saja yang hadir menjemputmu suatu hari nanti. Pantaskan dirimu! Jadilah yang paling spesial untuk pasangan halalmu. Buatlah bangga bahwa kau benar-benar menjaga hati dan diri hanya untuknya.”
Yogyakarta,
24 Januari 2014
-Mozaikmila-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar