Tentang kopi yang kuteguk dengan penuh rasa haus akan sebuah kasih.
Kepahitan yang hadir menyulut adrenalin yang meningkat.
Sejenis rasa yang hadir seperti bius yang melambungkan angan.
Mengangkat raga ini serasa ringan.
Membuat beberapa centi mengudara di atas lantai.
Jangankan kasih, candu pun menjalar bak aliran air yang menyusuri hilir.
Rasa ini datang di saat yang lain ribut dengan berbagai kegaduhan.
Meski pelan, hangat, dan diam.
Hadir menampar mata hati hingga membuatnya menyala.
Memantik sedikit energi yang semula terpuruk.
Setia yang ada tak perlu diuji.
Memberi sahutan sikap yang lembut.
Biarkan hitam!
Biarlah menghitam!
Biar!
Caramu memberi tak perlu mengumbar warna yang manis.
Wujudmu, tetaplah begitu.
Senja, petang, terik, hingga fajar kembali datang, bertahanlah dengan dirimu.
Meski yang lain bangga dengan berbagai gincu.
Mengira itu cantik.
Toh, hanya sekedar rupa saja.
Hey kopi, sekarang bicara rasa.
Aroma kasihmu dinanti meski kau tetap saja kelam.
Kau tetap saja menghitam tanpa warna-warni bulu mata.
Rendah hati tertimbun dalam kegelapan.
Pandangan buta saja yang percaya bahwa harus mencari cahaya untuk melihatnya.
Perlukah cahaya?
Jika hati kecil itu bersih, segalanya akan nampak.
Mana yang sembunyi dibalik gincu, meski lapuk.
Apa kuat menatap itu hilang?
Atau karena bekas gincu itu menutupi jalanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar