Sabtu, 16 Mei 2015

BERPERAN


Sejauh mana udara menghargai angin? 
Sejau mana siang menghargai malam?
Sejau mana langit menghargai bumi?

Selisihnya dekat ataukah jauh, kita ini bersaudara. Dicipta untuk saling memberikan tempat berharga. Berbagi kesempatan saling hidup sejahtera.

Allah itu mencipta kita sesama makhluk untuk sumbang peran. Layaknya simbiosis, memang ada yang merasa rugi keduanya, ada yang saling untung, dan ada pula yang bertepuk sebelah tangan. Memang ada fase yang tidak selamanya seperti pinta kita. Namun, bukankah potensi mencerna segala kisah itu ada. Akankah selamanya kita memicu kerugian untuk sesama?

Saat kita penuh dengan kemampuan memberi, biarkan sekitar kita merasa. Merasakan udara segar disaat tekanan kalor panas berada dalam puncaknya. Meski sedikit aliran dingin yang disalurkan. Hal ini akan memantik kelembaban yang berujung homeostatis, nantinya menghidupkan batas imbang kehidupan.

Peran itu tak harus menunggu jabatan menjadi seorang Menteri diemban. Haruskah menunggu tahta-tahta raja dianugerahkan? Mungkin saja kita harus menarik bantal untuk membangun mimpi sejenak jika fikir kita sependek itu. Namun jika saat ini mulai berperan, kenapa tidak? Kepercayaan pada diri itu perlu juga terbangun. Memberi pesan bahwa setiap kita pasti memiliki peran. Setiap kita berhak memberi perubahan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar