[masih] tertegun.
Ya Allah, kasih-Mu mengajarkan banyak hal tentang sebuah ucapan sayang
Cinta itu bukan sebatas mengambang di bibir
Bukan dari sebatang coklat atau mawar berpita merah muda
Cinta itu tidak terumbar
Cinta tidak menuntut pemberian balik
Cinta adalah pembuktian
Pembuktian yang orang lain tidak menyadarinya
Hanya mata hati yang tulus yang terketuk
Hanya kesejatian yang mungkin mengungkapnya suatu hari kelak
Rabbii, cinta-Mu begitu agung
Terlalu picik manusia mengindahkannya
Teramat buta jika menyengaja tak melihatnya
Cinta-Mu lah yang menghadirkan seseorang yang kau beri cinta
Cinta yang memang tak bisa menyerupai kesempurnaan-Mu
Tapi, dengan hadirnya kini semakin tersadar akan lupa
Bahwa justru cinta-Mu adalah tujuan akhirku
dan [ini] adalah satu dari cinta-Mu.
Ayah....
Bagaimana kau mengajarkan anakmu arti rindu?
Setua ini, kau hanya menunjukkan sikap yang nampak dingin. Terlihat tidak peduli dan acuh. Bahkan, beberapa tahun silam linangan mata tak terbendung ketika harus disuguhi kebahagian anak dengan ayahnya di luar sana. Melihat hal seperti itu membuat sesak. Saat itu aku rindu ayah. Kemanakah engkau? Dekat tapi tak terasa. Hanya harapan untuk tau apa maumu, agar anakmu bisa menyentuhmu.
Kini?
Justru kau membuat rindu ini semakin bertubi-tubi. Tersadar bahwa caramu sungguh tidak normal untuk mengungkapkan cinta. Keberbedaanmu ini yang membuatku semakin rindu. Rindu bahwa cinta itu bukan untuk menuntut diakui. Cinta ialah pembuktian, meski tampak diam, tampak acuh, tampak tak peduli. Cinta bukanlah yang tampak oleh mata! Terkadang cinta itu harus berjaga saat kau tak menyadarinya, menjagamu dari bahaya, menjagamu dari gelap, menjagamu dari kesemuan dunia, dan hal yang mungkin tak mampu indera kita menerkanya.
Menyendiri dan membayangkanmu terlalu asyik daripada tumpukan harianku. Jauh disini membisu, disaat usiamu kini sudah bertambah ayah, anakmu hanya diam. Diam karena jejalan rasa sesal karena sempat mempertanyakan keberadaanmu. Membandingkan bentuk sayangmu yang berbeda dengan orang lain. Maafkan anakmu yang masih juga suka menuntut tanpa malu. Menerka tanpa norma.
Ayah, barakallah :')
Bukan coklat atau sebuah kue coklat berhias cery. Bukan!
Tak akan aku berikan hal itu, karena ini bentuk lain yang sebenarnya kau ajarkan. Karena Islam pun tak mengenal hari perayaan kelahiran. Anakmu hanya menuliskan hal yang sebenarnya tidak tergambarkan. Menahannya dalam hati terasa pedih, ingin dilunturkan dengan deretan kata yang saat ini tertulis. Entahlah, ini bentuk dari rasa yang bercampur; sesal, bahagia, rindu, sayang, ataukah cinta? Secantik deretan lima di tanggal 05-05-'15, semuga Allah membangun kebahagian keluarga kita di surga-Nya.
Kini aku semakin tidak faham arti cinta hanya sekedar menggunakan indera. Kelembutan hati, memandangnya lebih dalam, dan atas izin-Nya lah rasa peka akan asumsi cinta itu hadir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar