“Lingkungan itu memang indah,
siapa yang bisa hidup -TANPA- nikmat dari Tuhan yang satu ini?”(Tim PKM-M Taman Edukasi)
Mungkin tidak ada orang yang bisa hidup
tenang jika sebulan penuh harus hidup di antara air genangan banjir, serta tak akan mampu bertahan dengan air kotor yang
meninggi dan yang telah mengotori rumah megah mereka.
Manusia terkadak teramat picik, mereka
sadar bahwa lingkungan itu penting jika wujudnya sudah rusak dan tak sesuai
fungsinya. Mereka panik, gelisah, dan mempertanyakan secara serius “Ini
tanggungjawab siapa?”. Namun, tidak sedikit orang yang tergerak karena kondisi
bumi yang menua ini. Melalui pekerjaan yang sungguh mulia, mereka mengabdi,
seperti halnya pihak pengelola limbah, pabrik daur ulang, dan hasta karya dari
barang-barang buangan. Itulah wujud dari kepedulian yang nyata, meskipun kecil
tapi dedikasi terhadap lingkungan mereka amatlah tinggi.
Kebiasaan sederhana seperti menghemat air
untuk keperluan rumah tangga, mematikan lampu ketika siang hari, bersepeda
ketika bepergian untuk jarak dekat, meminimalisir penggunaan plastik, dan tidak
membuang sampah ke bantaran sungai merupakan contoh kebiasaan yang harus
dibangun setiap manusia di bumi. Bukan hanya sekedar mengeksploitasi keberadaan
Sumber Daya Alam (SDA) saja. Namun ketika bumi ini rusak, justru saling
menyalahkan dan menuding bahwa ini adalah kesalahan pemerintah yang tidak
tegas. Setiap dari kita adalah warga di bumi ini kan? Tidak hanya pemerintah,
maka setiap dari kita wajib untuk prihatin dan bergerak untuk memperbaiki
lingkungan kita.
Salah satu dari Tim PKM-M Taman Edukasi
menyaksikan sesorang yang mulia sekali dan memiliki rasa cinta lingkungan yang
tinggi. Karena beliau lah, justru tersadar bahwa Jika manusia masih berkeinginan BUMI HIDUP saat ini: dalam kondisi
sendiri atau bersama-sama sekalipun, lingkungan ini mebutuhkan kita.
Bagaimana kisahnya?
Dialah
seorang bapak yang sudah beberapa minggu terakhir (sejak awal Januari) terihat sibuk
di selokan yang berlokasi di sebelah timur Fakultas Teknik (FT) Universitas
Negeri Yogyakarta. Bagaimana tidak sibuk? Beliau bahkan dengan hanya memakai
singlet dan celana panjangnya, rela mencelupkan kakinya masuk ke dalam selokan yang
baunya cukup tidak sedap. Tangannya tampak keluar masuk mengambil berbagai
macam barang yang menyumbat jalannya air, mulai dari batu, pasir, botol bekas,
seresah daun, plastik, bahkan sisa sandal jepit yang entah kemana pasangannya.
Sulit
dibayangkanbukan? Di sebelah kanan (baca: tempat yang bersih) tampak beberapa
perlengkapan yang menunjukkan bahwa beliau itu berkelana. Kemungkinan demikian,
karena tampak membawa tikar, sapu kecil, dan beberapa tas yang tertumpuk rapi. Saya
tidak tahu apakah bapak ini tidak memiliki rumah, atau memang memutuskan
meninggalkan rumahnya untuk pekerjaan mulia yang dilakukan saat ini.
Setiap
hari beliau terbiasa dengan aroma air sadah yang menggenang di selokan
tersebut. Saya justru salut, beliau ini sendirian padahal. Mungkin orang lain
termasuk saya akan malu jika bertindak seperti beliau jika dalam kondisi
sendirian. Mungkin di dalam hatinya, beliau ingin memberikan contoh bahwa untuk
menjaga lingkungan itu tidak harus muluk-muluk. Dengan masalah yang jelas
tampak di depan mata saja kita bisa berkontribusi. Dengan modal niat yang
lurus, saluran air yang awalnya menggenang kini sudah mulai lancar karena
kebaikan hati beliau. Rambutnya yang sudah memutih pun tak jadi alasan untuk
membuktikan “cinta lingkungan”. Sebagai
anak muda apa yang sudah kita lakukan?
Itulah kisah yang menjadi penyemangat kami
untuk membuktikan pengabdian kami terhadap lingkungan melalui pendidikan.
Meskipun memang kami tak sehebat beliau yang berjuang sendirian di tempat itu,
kami memulai langkah berlima untuk berkontribusi dengan cara kita. Berusaha
memupuk “cinta lingkungan” bersama anak-anak yang nantinya mereka juga
mengemban kewajiban penting bagaimana bumi kita ini dibawa. Melalui –TAMAN
EDUKASI- kami berjuang!
Yogyakarta,
24 Januari 2015
-Mozaikmila-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar