Sabtu, 24 Januari 2015

SENDIRI atau BERSAMA-SAMA, Lingkungan ini Membutuhkan Kita!



“Lingkungan itu memang indah,
siapa yang bisa hidup -TANPA- nikmat dari Tuhan yang satu ini?”(Tim PKM-M Taman Edukasi)

Mungkin tidak ada orang yang bisa hidup tenang jika sebulan penuh harus hidup di antara air genangan banjir, serta  tak akan mampu bertahan dengan air kotor yang meninggi dan yang telah mengotori rumah megah mereka.

Manusia terkadak teramat picik, mereka sadar bahwa lingkungan itu penting jika wujudnya sudah rusak dan tak sesuai fungsinya. Mereka panik, gelisah, dan mempertanyakan secara serius “Ini tanggungjawab siapa?”. Namun, tidak sedikit orang yang tergerak karena kondisi bumi yang menua ini. Melalui pekerjaan yang sungguh mulia, mereka mengabdi, seperti halnya pihak pengelola limbah, pabrik daur ulang, dan hasta karya dari barang-barang buangan. Itulah wujud dari kepedulian yang nyata, meskipun kecil tapi dedikasi terhadap lingkungan mereka amatlah tinggi.

Kebiasaan sederhana seperti menghemat air untuk keperluan rumah tangga, mematikan lampu ketika siang hari, bersepeda ketika bepergian untuk jarak dekat, meminimalisir penggunaan plastik, dan tidak membuang sampah ke bantaran sungai merupakan contoh kebiasaan yang harus dibangun setiap manusia di bumi. Bukan hanya sekedar mengeksploitasi keberadaan Sumber Daya Alam (SDA) saja. Namun ketika bumi ini rusak, justru saling menyalahkan dan menuding bahwa ini adalah kesalahan pemerintah yang tidak tegas. Setiap dari kita adalah warga di bumi ini kan? Tidak hanya pemerintah, maka setiap dari kita wajib untuk prihatin dan bergerak untuk memperbaiki lingkungan kita.

Salah satu dari Tim PKM-M Taman Edukasi menyaksikan sesorang yang mulia sekali dan memiliki rasa cinta lingkungan yang tinggi. Karena beliau lah, justru tersadar bahwa Jika manusia masih berkeinginan BUMI HIDUP saat ini: dalam kondisi sendiri atau bersama-sama sekalipun, lingkungan ini mebutuhkan kita. Bagaimana kisahnya?

Dialah seorang bapak yang sudah beberapa minggu terakhir (sejak awal Januari) terihat sibuk di selokan yang berlokasi di sebelah timur Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Yogyakarta. Bagaimana tidak sibuk? Beliau bahkan dengan hanya memakai singlet dan celana panjangnya, rela mencelupkan kakinya masuk ke dalam selokan yang baunya cukup tidak sedap. Tangannya tampak keluar masuk mengambil berbagai macam barang yang menyumbat jalannya air, mulai dari batu, pasir, botol bekas, seresah daun, plastik, bahkan sisa sandal jepit yang entah kemana pasangannya.

Sulit dibayangkanbukan? Di sebelah kanan (baca: tempat yang bersih) tampak beberapa perlengkapan yang menunjukkan bahwa beliau itu berkelana. Kemungkinan demikian, karena tampak membawa tikar, sapu kecil, dan beberapa tas yang tertumpuk rapi. Saya tidak tahu apakah bapak ini tidak memiliki rumah, atau memang memutuskan meninggalkan rumahnya untuk pekerjaan mulia yang dilakukan saat ini.

Setiap hari beliau terbiasa dengan aroma air sadah yang menggenang di selokan tersebut. Saya justru salut, beliau ini sendirian padahal. Mungkin orang lain termasuk saya akan malu jika bertindak seperti beliau jika dalam kondisi sendirian. Mungkin di dalam hatinya, beliau ingin memberikan contoh bahwa untuk menjaga lingkungan itu tidak harus muluk-muluk. Dengan masalah yang jelas tampak di depan mata saja kita bisa berkontribusi. Dengan modal niat yang lurus, saluran air yang awalnya menggenang kini sudah mulai lancar karena kebaikan hati beliau. Rambutnya yang sudah memutih pun tak jadi alasan untuk membuktikan “cinta lingkungan”. Sebagai anak muda apa yang sudah kita lakukan?




Itulah kisah yang menjadi penyemangat kami untuk membuktikan pengabdian kami terhadap lingkungan melalui pendidikan. Meskipun memang kami tak sehebat beliau yang berjuang sendirian di tempat itu, kami memulai langkah berlima untuk berkontribusi dengan cara kita. Berusaha memupuk “cinta lingkungan” bersama anak-anak yang nantinya mereka juga mengemban kewajiban penting bagaimana bumi kita ini dibawa. Melalui –TAMAN EDUKASI- kami berjuang!

Yogyakarta, 24 Januari 2015
-Mozaikmila-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar