Sabtu, 09 Mei 2015

Saat Genangan [masih] Penuh Cela

Menggenang. Usai hujan membuat bumi basah. Aroma khas semerbak terhirup sebagai candu. Kumpulan tirta dari singgasana langit pun bersaksi. Menjadi dewasa itu sulitkah? Ketika panas datang, gerutu bibir yang mengindera sebuah rasa; "panas!" teriaknya. Ketika tetesan hujan ganti menyambut, mencela hujan pun tak risau. Seolah air yang salah. Siapa suruh menuntut siang tapi udara sedingin ketika hujan? Sungguh, orang dewasa terlalu membingungkan.

Genangan itu berkisah dengan narasi berbeda. Sontak ketika anak kecil mendatanginya, seolah penerimaan itu hadir. Semerbak membawa pesan bahwa dia menikmatinya. Bermain dengan riak-riaknya yang pelan. Membelai dengan tangan, menginjak dengan kaki halusnya. Senyuman lepas serasa mengalir di antara sela-sela kakinya. Genangan merasakan tenang.

Menjadi dewasa itu pasti. Tapi perlulah menjadi rumit? Sederhana itu perlu. Memandang dengan bahagia. Bahwa Tuhan mencipta kumulan nikmat itu untuk manusia. Bukan untuk dicela dan dihina. Sebelum kata dewasa itu basi karena kebutaan mata hati kita. Lihatlah cahaya dari genangan air seusai hujan. Dia bukti akan keberadaan-Nya. Masihkah mencela?
 

Saat genangan [masih] penuh cela, maka menjadi dewasa hanya sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar