Selasa, 12 Mei 2015

Benarkah "Sebenarnya Cinta"?

Meniti jalan panjang ini mungkin terasa lelah, mengganjal, dan terasa berat. Tak selamanya mata kita itu mampu mengartikan segalanya. Ketika, melangkah menuju dua pilihan, ''cinta sebenarnya'' atau ''sebenarnya cinta''? Terdengar sama pula. Berakhir pada keputusan  dua bejana, nafsu ataukah hati. 

''Cinta sebenarnya'' terkadang semu. Berkoar-koar cinta? Mencari corong suara tetapi ujungnya bukan kesejatian cinta. Ini tentang cinta yang tampak ada tapi hanya sebatas ucapan saja. Semisal, berikrar dan mengaku cinta kepada keberadaan Kholiq. Ehhhh, ketika panggilan cinta-Nya datang, adzan berkumandang masih saja berjibaku dengan rutinitas lain. Bilangnya cinta, tapi masih saja berorientasi dunia tanpa menghiraukan waktu yang seharusnya mendekat dengan yang dicintainya. Itukah namanya cinta? Hanya kata berselimut nafsu yang entahlah hati dipindah alihkan kemana.

''Sebenarnya cinta'', mungkin pengakuan tak muncul dari ucapan. Justru membekas jelas di dalam bejana hati. Tanpa perlu diakui, tanpa perlu diapresiasi oleh manusia. Tujuan akhir hanyalah Allah. Kehinaan dimata manusia mungkin tak jadi hambatan. Mencari kemuliaan dengan "sebenarnya cinta" akan tertuntun ke kebaikan. Mengakui bahwa kasih sayang Allah hadir dibalik semua kejadian. Mungkin bermula dari terasa berat dalam perjalanan hidup ini. Namun itulah bentuk kasih sayang Allah untuk menguatkan dirinya. Jika "sebenarnya cinta", bukan sebatas bualan belaka tapi sikap yang tergambar, begitu juga dengan pengakuan yang terpatri dalam hati. 

Maka, diskusikan dengan hati sejauh mana "cinta" itu ada?
Tak hanya dikuasai nafsu yang sering lupa.
Lupa menyadari janji yang terucap pada Sang Pencipta.
Beranikah melanggarnya?
Dan benarkah "sebenarnya cinta"?

*tulisan untuk menampar diri sendiri
(terinspirasi dari analogi Abi Syatori Abdurrauf dalam Tausiyah "Menata Hati dengan Cinta Jauh dari Kegalauan")



Tidak ada komentar:

Posting Komentar