Hidup memang untuk menentukan kemana gerak ini akan berlabuh. Hari ini terasa terbakar, tersulut api yang tiba-tiba saja berhembus dan hatiku menyala. Kurasa ini bisa dikatakan ambisi, tekat, harapan, dan mimpi. Yang berkobar untuk diperjuangkan.
Anak desa! Benar, inilah diriku. Ketika banyak profesi hadir untuk masyarakat. Mereka mengambil peran masing-masing dengan kinerja yang dibangun untuk membangun bagian di ranahnya. Ada guru yang mendidik anak bangsa, yang kehadirannya memang dilabeli "Pahlawan tanpa tanda jasa". Itulah mereka yang di ranah intelektualitas, mereka berjuang membentuk manusia cerdas dan berkarakter. Lain lagi jika bicara Polisi, termasuk juga Polwan. Tak lupa juga TNI. Mereka memberi harapan bahwa Indonesia akan aman dengan kehadiran mereka. Yang dimaksud aman disini yang jelas terkait geografis. Mereka juga menegakkan keadilan, memberikan layanan berupa pengawasan di jalanan Indonesia dan juga di batas-batas negara. Mereka siaga untuk amannya negeri ini. Di ranah kesehatan ada sekumpulan pejuang yang menginginkan bahwa negeri ini sehat, tidak penuh dengan penyakit. Mereka ialah dokter, bidan, perawat, mantri, apoteker, analis kesehatan, ahli fisioterapi, dan sejenisnya yang bergelut untuk meminimalisir angka sakit di Indonesia. Akan lebih kece lagi jika bicara peneliti. Tampak dari luar mereka sangat smart, terpelajar, dan so serius. Mereka berjibaku dengan hal-hal yang masih belum pasti. Akhirnya bergelut dengan temuan-temuan, dengan harapan memberi manfaat untuk keberlangsungan hidup manusia. Kontribusi mereka memang di jalur ilmiah dengan perjuangan mereka menemukan hal baru yang diteliti di Laboratorium atau observasi langsung di alam. Begitupun dengan profesi mereka yang mulia untuk Negara ini.
Lalu, kembali muncul pertanyaan. Jika ada anak desa, yang menjadi mahasiswa, dan masih akan menginjak semester 6 apa yang bisa diperbuat untuk negeri ini?
Apakah hanya ini semboyan kami:
Kuliah, kuliah, kuliah lagi, lagi-lagi kuliah, dan kuliah lagi kuliah lagi!
Yang jelas tidak hanya itu kawan, justru kitalah HARAPAN kemana Indonesia ini akan dibawa. Jika mahasiswanya saja malas, mudah putus asa, berhura-hura, acuh terhadap negeri ini, dan tidak amanah. Kemana perahu negara ini akan berlabuh?
Ke Pulau yang tidak terjamah dan penuh dengan makhluk mengerikan yang ganas?
Hey, ingat PEMUDA!
Pulau-pulau kita saja sudah banyak yang berpindah kepemilikan. Ini karena pemiliknya pun penuh ketamakan. Bukannya menjaga dengan baik, tapi malah diperjual-belikan untuk oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab.
Bukalah mata hati kalian! Tak hanya sekedar mata, panca indra kalian. Disini kita; para pemuda Indonesia termasuk saya. Seyogyanya harus segera bangkit. Bukan hanya bangkit dari galau akibat cinta. Tapi move on untuk memajukan negeri ini. BANGKIT! Dari hal kecil, dari hal yang kita rasa mengganjal dan itu bisa kita rubah.
Apakah yang paling dekat dengan kalian, wahai pemuda!
Hal yang paling dekat dengan kalian para mahasiswa adalah rutinitas kalian. Yeah, mungkin pekerjaan kita memang kuliah. Lalu kuliah yang seperti apa? Semua yang kita tempuh selama kuliah juga akan ditanyakan sebagai wujud pertanggung jawaban.
Ilmu yang kita dapat dari belasan dosen kita yang sudah 5 semester ini disampaikan, ilmu itu akan menuntut! Pengalaman mereka yang dihaturkan untuk memompa semangat kita. Memberikat tugas agar kita terus membuka kembali apa yang telah diajarkan, agar kita rajin dan haus akan ilmu.
Wahai Pemuda! Kuliah kalian adalah untuk negeri kalian. Sekian tahun kampus yang berdiri dimana pun, swasta ataukah negeri adalah untuk membentuk pribadi kalian yang tangguh, kuat, berkarakter, berakhlak, dan pastinya berilmu. Tidak hanya untuk PRIBADI-mu saja, tapi untuk NEGERI ini, INDONESIA-ku, INDONESIA-kita.
Dan masihkah kau malas?
Masihkah kau banyak tidur dan lupa kewajibanmu?
Masihkah kau bermain-main?
Masihkah kau tidak berjuang membaca untuk Indonesia?
Masihkah kau lupa bahwa kau sudah menjadi "Orang"?
Masihkah kau lupa bahwa pengemudi negeri ini adalah kalian juga?
Masihkah kau berfikir tidak bisa berbuat apa-apa?
Masihkah kau akan bersembunyi?
Masihkah kau akan bermain dengan bom waktu)
Pemuda, masihkah kau!
Mahasiswa, masihkah kau!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar