Minggu, 18 Januari 2015

Kesini, Ku Buat Kau Menangis Lagi!



Dhek, Bagaimana kabarmu saat ini?

Fikiran ini terbayang ke beberaa tahun silam.

Saat kau bermain bola di dalam rumah. Itu sangat menyebalkan sekali. Bunyi tendangan yang kau arahkan ke dinding mengusik telinga yang menginginkan ketenangan. Teringat juka ketika rumah penuh dengan kertas, lem, kerangka bambu, benang, pisau, dan atribut yang lain. Itu buat apa? Apalagi kalo bukan seperangkat bahan dan alat untuk sebuah mahakarya, “layang-layang”.

Saat membuatnya saja, kakaknya dicuekin. Tetapi, setelah terikat rapi dan siap diterbangkan kemudian mencari bantuan.

“Mbak, bantu megangin layangan-nya.”, pintanya dengan merengek.

Lalu bergegas ke sepetak tanah yang cukup luas di depan rumah. Sebenarnya itu adalah lahan sisa kebun tebu. Bisa dibayangkan bagaimana tanahnya? Gersang, keras, bongkahannya pun terkadang cukup lancip untuk kaki. Yeah, inilah kebiasaanmu yang aku rindukan.

Kira-kira satu bulan sebelum kau benar-benar memutuskun mondok, bahkan kau tak mau berhenti bermain. Setiap ada waktu senggang di antara kewajiban sholat, pasti yang kau pegang adalah sepeda, layang-layang, remot tv, motor, dan segala mainan yang membuatmu asyik. Yang kau fikir adalah kau melampiaskan segala gairah bermainmu di rumah, sebelum yang kau pegang adalah kitab, buku, pensil, dan perlengkapan yang tak lagi berbunyi seperti mainan tamiya-mu.

Bagaimana kabarmu disana?
Apakah kau menikmati setiap detik dengan rutinitas yang hampir sama. Hampir semua adalah kaum yang sama, semua laki-laki. Jika kau ingin bercerita dan menangis, apakah ada yang bisa memberimu sandaran? Dan, apa mungkin kakakmu disana memberimu tissue atau sapu tangan untuk menyeka linangan air matamu?

Dhek, semakin dewasa kau disana. Justru mbak semakin mengkhawatirkanmu. Sangat khawatir. Jika pulang kau memang tampak utuh, terkadang kurus, bahkan makin cubby juga pernah. Kau tampak sehat secara fisik. Tapi bagaimanan kabar hatimu? Apakah ada yang memperhatikannya?

Aku rasa mungkin ada kakak yang baik hati dan bertanya bagaimana ruhiyahmu, tapi hanya sesekali. Pasti hanya terjadi jika teringat atau bahkan saat kau memang tampak sudah parah dan tak mampu memendamnya.

Mbak sekarang ingin tahu kabar hatimu. Apakah kau masih lurus niatnya di pondok? Apakah semangatmu masih cukup membuatmu bertahan? Atau kau justru bertahan dengan tekanan?

Tapi, mbak masih berkhusnudzon. Kau adalah anak yang kuat. Meskipun terkadang tatapan kamu kosong seperti orang yang tidak terlalu pusing dengan sesuatu, kau adalah anak yang gampang tersentuh. Semuga kau menciptakan formula hidupmu, seperti yang mbak lakukan saat ini.

Mbak percaya, semuga ada kakak yang baik menemani segala keseharianmu.

Maafkan kakakmu yang tak mampu. Tak mampu berjalan jauh hingga menyodorkan tissue jika kau sedang menangis. Tak mampu menutup lukamu jika kau terjatuh dan luka. Tak berdaya untuk membawakanmu pudding, coklat, ice cream, permen, dan kebiasaan yang mungkin mbak bisa berikan ke adhek-adhek mbak di Jogja. Maafkan mbak, tak ada bayangan aku melupakanmu, mengesampingkanmu, atau bahkan menghilangkanmu. Andaikan mbak mampu (*detik ini juga, aku rubah jalanan Jogja-Ponorogo seperti skala peta).

Tetap tangguh seperti yang mbak kenal, tetap visioner untuk MESIR yang kau tuju.

Dhek, biarkan setiap kata yang mbak ketikkan adalah tebusan rasa rindu. Biarkan tetesan-tetesan yang tiba-tiba hadir ini mengurangi sesak, betapa mbak merindukanmu. Merindukan adhek yang sekarang telah dewasa. Meskipun kita jauh, masihkah kau menganggap mbak adalah kakakmu yang dulu. Yang mengajakmu berantem, yang membuatmu menangis.

Kesini dhek, mbak merindukanmu, mbak ingin membuatmu menangis lagi............


Tidak ada komentar:

Posting Komentar