Rabu, 04 Februari 2015

Passion, Niat, dan Kadar Suka

Karena -benci- dan -cinta- itu hanya berbeda soal kadar suka.

Dulu suka mata pelajaran eksak layaknya matematika, mungkin suka ilmu sosial juga, atau bahkan suka dengan dunia penyakit (sok jadi analisis kesehatan gitu mungkin, hehe). Dulu -A- dan sekang bisa saja jadi -Z-, berlawanan, bertolak belakang, 180 derajat. Orang bilang yang disukai itu PASSION.

Saat mungkin lupa waktu karena saking asyikna (lupa mandi, lupa maka, ehhh). Yang bertumpuk pun kalo sudah suka, bakal mungkin rampungnya segera. Yang mahal seberapapun, mungkin bakal dikejar. Kalau sudah taat, mungkin akan tunduk seberapapun mengerikan medan perang (tentara Palestine misal), bahkan mereka bukan mengenggap kekuatan fisik atau senjata lah penentu kemenangan. Bukan! Mereka mengaku kuat jika RUHIYAH mereka sudah siap, yaitu ketika DEKAT DENGAN ALLAH. Sudah hadir di mimbar-mimbar cinta-Nya dan sudah ada keikhlasan berperang. Pilihan mereka adalah menang karena Allah atau Mati Syahid juga karena Allah. Inilah bukti cinta mereka. Dan siap dengan hasil akhirnya!

Balik lagi ke PASSION. Berbeda dengan perkara-perkara lainnya karena kadar cintanya berlebih. Yang merasa salah jurusan? Salah ambil profesi? atau salah ambil keputusan? Emm, bukankah dulu rasa suka itu berlebih, rasa cinta itu menumpuk lebih banyak sehingga kau memilih dan memutuskannya.

Seberapapun kalian tidak nyaman dengan apa yang kalian pilih saat ini. Bukankah hati kita sudah terpaut? Dulu kita kan tidak lagi mengigau, tidak lagi sedang tersihir, kita sadar. (khusus: nampar diri sendiri *plaaakkk)

Rasulullah pun berpesan, "Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya". Dan karena niat itu sedetik kemudian saja bisa berubah. Setiap waktu niat itu perlu di sapa, masih benar atau tidak? Jika merasa niatnya dari awal salah, ya dibenerin. Kalo sudah benar tapi ditengah melenceng, maka ya diluruskan. Inilah perlunya kita memohon ke-ISTIQOMAH-an.

Hati ini mudah terbolak-balik, diri ini masih banyak belajar, masih banyak harus menuntut ilmu, masih perlu berguru.
Di bawah langit Ponorogo, hari kelima bulan kedua dari tahun 2015, tepat pukul 09:04 WIB.
#Lillah#Menulis#Membaca#Biologi#Psikologi#Relawan‪#Burning! >_<

Mbak Linda Armitasari ingin memelukmu dari jauh :)
Mbak Rina Septarina, mengingat teori "mencemplungkan diri" >_<
Teman masa kecilku yang sekarang jarang nongol, mana jambu merahnya yang dibelah dua? *ehhh
Teman-teman TK, MI, dan SMP *rinduuuuu :p
Salam XB: Ora ed labora dan Bu Amru :)
XI A 1 dan Bu Ambar :)
XII A 4 dan Pak Taufik :)
OSIS MAN 2 Ponorogo periode 2010 dan 2011 (Sofia, Ninis, dkk)
Kumpul yuk: Trigonometri 2012, Kuantum 2014, dan Citrullus lanatus 2014 :)
Keluarga Penalaran 2013, mumu Himabio 2013 :p
Keluarga LJ 2013, hamasah Haska 2013 :)
Formatur Himabio, Adik-adik, dan Himabio 2014 mengangkasa :3
MPO 2013, kangen kumpul kak :)
Himabio 2015, barakallah :)
Herbiforus, ayuk mulai ;)
KPB Bionic, hhe sudah bersedia menampung yang belum menjadi anggota sekalipun :D
Jurdik Biologi FMIPA UNY dan dosen-dosen yang menginspirasi :)
PBS, lulus bareng 2016 yaaa :3
Keluarga Karangmalang, Timoho, dan IM :) menginspirasi di setiap aksi!
Tim Cocos Lepita mumu :)
Tim Taman Edukasi, perjuangan kita baru dimulai :3
Keluarga B20 :D
Keluarga Ulya (RCU) :P
Mbak Riza Sativani, merindukanmu sangat, kapan balik dari Bone? :)
Yusuf embem, semangat jadi sholih :p
Mbah kung: Margi ingkang leres, yeah :* (mbah putri juga: Ponorogo, Madiun)
Adheeeeeeek, deal Mesir kan? :P
Bapak Ibu, You are my HERO :*

Jazakumullah khoiran katsir :)


Tak Perlu Risau, Pak.

Pagi ini berawal dengan kabut yang aku rasa sulit untuk disibak...

Setelah sedikit mengungkapkan yang menekan di hati ke ibu, akhirnya tersampaikan juga meski dengan satu kalimat, "Nopo bapak khawatir kalih kulo nggeh buk?" (baca: Apakah bapak khawatir dengan mila ya buk?). Bagaimana tidak, justru fikiran ini tak tenang karena bapak terlihat menyembunyikan sesuatu. Nampak diam dan berfikir.

Semalam sempat mau bertanya. Tapi keberanian tak lagi muncul karena saking takutnya aku.

Entah apa yang mengusik ketenangan bapak.
Yang jelas :

Anakmu baik-baik saja pak, Masih utuh :) Alhamdulillah masih memeluk agama yang Bapak ajarkan. Terimakasih karena didikan Bapak, mila mengerti bahwa hidup akan terus berjuang. :)


Jumat, 30 Januari 2015

Adikku dan Sumpit

Emmmm...
Pulang juga akhirnya *merasa telat, hehe

Adikmu . ................ (blablabla)
Dia itu .................. (blablabla) 

Bagaimana kabar kakaknya yaa?
Apa benar yang perlu dikhawatirkan adalah yang lebih muda.
Jangan-jangan yang lebih tua justru membutuhkan pertolongan.

Lagi-lagi kalo pulang itu selalu merasa malu, karena seorang kakak hanya mendengar kisah perjuangan adiknya. Waktu selalu bergulir memberikan kenyataan bahwa kita seolah seperti pekerja paruh waktu yang waktu kerjanya berbeda; di siang dan malam. Selalu bergantian.

Mbak mendengar kisahmu dari ibu. Merasa malu.
 Kapan kita makan ice cream dan mie ayam bareng (*pake sumpit)?

Dari kakakmu yang benar-benar ingin mengajakmu berantem :D

Selasa, 27 Januari 2015

Bukan Karena Ayah Semata, Tapi Karena Agamaku


kelingking mila masih untuk ayah saat ini... 

"Ayah, laki-laki yang baik menurut Ayah itu yang bagaimana?", tanya anak perempuannya, puteri semata wayangnya. Sambil menggandeng tangan puterinya yang tak lagi kecil itu, sang Ayah berhenti.
"Laki-laki yang layak dipilih mungkin adalah yang selalu khawatir tidak layak jadi pilihan", sang Ayah menjawab sambil matanya melihat ke langit luas.
"Mungkin?", selidik puterinya.
"Iya mungkin, karena itu hanya salah satu yang Ayah tahu. Selebihnya ayah tidak tahu, karena Ayah tidak pernah menjadi selain itu?", sang Ayah menatap wajah puterinya.
"Menjadi selain itu? Apa Ayah dulu merasa tidak layak?",tanya puterinya sambil mengajak ayahnya duduk di bangku taman.
"Iya, waktu ibumu memilih ayah. Ayah hampir tidak percaya bahwa akan ada perempuan di dunia ini yang bisa menerima Ayah kala itu", sang Ayah menjawab parau. Sambil mengeluarkan foto dalam dompetnya. Foto ia bersama sang Istri.
Puterinya merangkul bahu ayahnya. Ikut rindu pada ibunya yang telah lebih dulu tiada.
"Kalau perempuan yang baik itu yang gimana yah?", tanya anaknya untuk mengalihkan kesedihan.
"Perempuan yang baik bagi ayah adalah perempuan yang sulit dimengerti karena penjagaan dirinya yang bagitu rapi, hingga tak ada celah buat orang lain mengetahuinya", kata Ayahnya.
"Apa seperti Ibu?", canda puterinya.
"Iya kayak ibumu, susah banget dimengerti dulu ketika Ayah mendekatinya, haha. Kamu juga susah dimengerti kayaknya sama laki-laki diluar sana, mirip ibumu", jawab ayahnya.
"Hahaha kan yang bisa ngerti aku cuma Ayah", puterinya memeluk Ayahnya dari samping. 
Rumah, 26 Januari 2015 | (c)kurniawangunadi
(Cerpen: Ayah dan Anak Perempuannya Bila Sedang Berdua )


Ayah, mila merindukanmu.
Bagaimana dulu kau mencintai ibu sampai sekarang?
Alasan apa sampai ayah memilih ibu?
Mila benar-benar ingin mendengar cerita ayah tentang hal ini.
Apakah ayah tau betapa anakmu ini sudah cukup dewasa.
Mila ingat pesan sekitar 30 bulan silam, "Kenal oleh nduk, tapi gak oleh cedhak-cedhak." (baca: Kenal boleh nak, tapi tidak boleh dekat-dekat."
Ayah, sejauh mana mila harus menjaga kedekatan dengan seseorang.
Bahkan disini mila mengenal banyak teman; yang beragam, yang banyak rupa.
Dan tak hanya wanita, tapi kaum yang sama seperti ayah.
Ayah, mila masih akan melekatkan kelingkingku dengan ayah.
Mila akan menjaga.
Bukan karena ayah semata, tapi karena Allah.
Karena syari'at islam.
Inilah agama yang mila pilih, agama yang PALING BENAR.
Sangat benar menjaga wanita dengan aturan-aturannya.
Ayah, mila menantikan Ayah berkisah dengan hati ayah yang berlabuh ke ibu.
Mila sudah cukup dewasa untuk mendengarnya. (*muka semakin merah)

Minggu, 25 Januari 2015

Diam-Diam Mereka Lebih Mencintaimu





Suatu Hari Nanti 

Suatu hari akan ada seseorang yang cukup baik budinya untuk membuat tertarik. Cukup luas hatinya untuk tempatmu tinggal. Cukup bijaksana pikirannya untuk kamu ajak bicara. 
Kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk mempertahankan seseorang, tetap jadilah diri sendiri. Kamu pun tidak (dan jangan) menuntut orang lain menerima keadaanmu bila ia memang tidak mampu menerimanya.Karena yang baik belum tentu tepat. Orang baik itu banyak sekali dan hanya ada satu yang tepat. Selebihnya hanyalah ujian. Kamu tidak pernah tahu siapa yang tepat sampai datang hari akad. Tetaplah jaga diri selayaknya menjaga orang yang paling berharga untukmu. Karena kamu sangat berharga untuk seseorang yang sangat berharga buatmu nantinya. 
Suatu hari akan ada orang yang cukup baik dan cukup luas hatinya untuk kamu tinggali. Cukup kuat kakinya untuk kamu ajak jalan bersama. Lebih dari itu, ia mampu menerimamu yang juga serba cukup. 

Bandung, 9 Oktober 2014 | (c)kurniawangunadi



Seberapa Allah memisahkan jarak antara manusia (sesama saudara seiman), maka memang pada kenyataannya bumi ini bulat. Maka akan juga bertemu di satu titik. Bahkan, ketika komitmen untuk menjaga hati itu semakin kuat tetapi justru malah jarak masih bisa dipandang. Maka apa yang terjadi? Apalah daya manusia, berikhtiar atas nama Allah saja. Allah pun sudah mengatur pertemuan dan perpisahan,bahkan kelahiran dan kematian pun sudah terencana dengan apiknya. Subhanallah, itulah kuasa yang teramat sempurna.

Yang tiba-tiba hadir dalam hidup kalian saat ini, mungkin itu sebatas angin lalu, kawan. Bagaimana tidak? Mungkin sebagian kita masih di semester awal kuliah kok udah mikirin jauh kesana. Boleh-boleh saja, dan memang harus difikirkan. Tapi! Yang terfikirkan adalah tentang BERPROSES untuk MEMANTASKAN DIRI. Bukan kok malah sibuk mencari-cari siapa dan dimana. Bahaya kalo setiap orang di perempatan jalan menuju kampus ditanyain tentang hal itu (*kalo ini bercanda hahaha).

Jika merasa sudah siap, ya disegerakan aja. Meminimalisir hubungan yang tidak sepentasnya agar segera halal. Tapi, khususnya bagi yang belum, yaaaa rileks aja kenapa, hehe. Fokus kuliah, trus disambi buat baca-baca buku atau datang ke kajian yang meng-upgrade kapasitas diri untuk siap dengan segala kemungkinan yang akan hadir mengenai hal tersebut.

Dekatkan dirimu kepada Sang Maha Pembolak-balik hati, memohon keistiqomahan dan perlindungan akan segala bentuk zina hati. Tips ampuh agar tidak memikirkan hal itu terus adalah memikirkan sahabat, teman, tetangga, dan keluarga. Bahkan kita juga masih memiliki tanggungjawab untuk berbakti kepada orang tua. Kehadiran kita selalu dinati oleh mereka, maka bahagiakanlah! Jadilah aroma wangi yang tertebar diseisi rumahmu. Biarkan mereka bangga bahwa kehadiranmu adalah bentuk nikmat Allah yang luar biasa. Sebenarnya diam-diam Mereka lebih Mencintaimu.







Sabtu, 24 Januari 2015

Komitmen (–BENTENG-, –BATAS-, dan –BARIER-) untuk Menjaga Hati



Kali ini aku bicara –benteng-,  –batas- , dan –barier-  untuk hati. Ehhh, kok bisa? (*ketawa jahat karena membuat penasaran). Saat seseorang merasakan hal tidak beres. Misalnya saja, saat tiba-tiba badan terasa meriang padahal baru saja beraktivias normal, ketika laptop tiba-tiba berbunyi ketika flashdisk teman terpasang, dan keanehan lainnya. Itu adalah bentuk alarm bahwa pertahanan harus lebih kuat.

Saat bicara tubuh, maka sel imun akan semakin berjuang melawan zat-zat asing yang merusak kekebalan tubuh. Naiknya suhu badan alias meriang, itu salah satu bukti perlawanan sel imun. Makanya, saat kau merasa meriang, maka perlu adanya tindak lanjut agar kondidi badan tidak semakin parah. Begitu pula saat laptop berbunyi kencang, biasanya “tuling-tuling-tuling...” maka indikasi ada virus. Bentuk virus yang menyerang tubuh dan laptop memang bentuknya beda atuh eneng. Tapi mereka sama-sama memberikan respon yang khas agar si empunya menyadari bahwa tubuh atau laptop yang dimiliki dalam kondisi –in dangerous-, dan agar segera mencari titik penyelesaian.

Tapi, gimana kalo yang tidak beres adalah hati?

Bukannya hati juga anggota tubuh ya! Yang kali ini saya maksud adalah –hati- yang merasakan getar-getar rasa yang berbeda. Sesuatu benda yang mudah tersentuh akan sesuatu rasa, yang peka bahwa ada yang menarik di luar sana. Dan ini bahaya jika kau menikmatinya tanpa batasan. Bagaimana tidak? Pasti pikiran akan ikut tidak wajar, berkelana membayangkan sesuatu yang menarik hatinya. Berandai-andai jika rasa ini juga bersahut. Dan berbagai ide gila yang menguasai alam bawah sadar.

Menurut penelitian, alam bawah sadar 80% berpengaruh terhadap tindakan yang dilakukan manusia. Makanya, sadarlah kawan! Fine, kita harus memulai dengan apa yang saya katakan –benteng-, –batas-, dan –barier- untuk bentuk antisipasi. Pasti pagar yang meninggi itu perlu bata dan semen yang ditata meninggi, begitu pula yang saya katakan –benteng-, –batas-dan –barier- tersebut. Bahan membangun pertahanan adalah komitmen untuk menjaga hati. Komitmen yang secara sdar dikerjakan untuk membuat perubahan agar hati baik-baik saja. Istilahnya kalo dalam ilmu psikologi adalah Personal Sense of Commitment (PSC). Secera detail memiliki arti: komitmen terhadap apa yang dikerjakan dan komitmen terhadap perubahan yang terjadi, berkaitan dengan tujuan hidup.

Komitmen untuk menjaga hati ini harus mulai dibangun saat merasa hal yang aneh muncul ketika berinteraksi dengan non muhrim kita. Jangan biarkan tumbuh berkembangbiak rasa yang tidak sepantasnya, jangan dibiarkan membutakan hati, karena akan berakibat zina hati. Jika dibiarkan bertumbuh, berbunga, dan berbuah maka hati akan penuh noda hitam karena belum berani mengikat dengan ikatan pernikahan tapi malah bermain-main dalam ikatan tidak halal (sebut saja pacaran). Maka, setan akan jadi teman saat memang kita asyik bermain dengan Virus Merah Jambu (VMJ) ini. Bagaimana tidak? Alam bawah sadar akan mencari kesukaan dari yang menarik hati, bahkan parahnya kalo sudah jadi stalker dan intens berkomunikasi (*hati-hati kholwat, kan yang ketiga setan lho).

Komitmen untuk menjaga hati itu harus ada, misal dengan cara mengurangi intensitas komunikasi yang tidak penting, menundukkan pandangan (godhul bashor) kalo berhadapan dengannya, jaga jarak (radius 1 km, hehe bercanda), cari aktivitas yang lebih bermanfaat agar pikiran tidak kosong, banyak-banyak beristigfar saja kalo teringat si dia, dan yang paling penting adalah memohon kepada Sang Maha Pembolak-balik hati agar terjaga sampai ikatan yang halal itu datang.

“Kodrat wanita memang perasa dan cinta itu juga fitrah. Maka letakkan di tempat yang tepat dan halal, agar keberkahan itu hadir di setiap pekerjaan yang kita lakukan dalam hidup ini. Terus berproses untuk siapa saja yang hadir menjemputmu suatu hari nanti. Pantaskan dirimu! Jadilah yang paling spesial untuk pasangan halalmu. Buatlah bangga bahwa kau benar-benar menjaga hati dan diri hanya untuknya.”

Yogyakarta, 24 Januari 2014

-Mozaikmila-


SENDIRI atau BERSAMA-SAMA, Lingkungan ini Membutuhkan Kita!



“Lingkungan itu memang indah,
siapa yang bisa hidup -TANPA- nikmat dari Tuhan yang satu ini?”(Tim PKM-M Taman Edukasi)

Mungkin tidak ada orang yang bisa hidup tenang jika sebulan penuh harus hidup di antara air genangan banjir, serta  tak akan mampu bertahan dengan air kotor yang meninggi dan yang telah mengotori rumah megah mereka.

Manusia terkadak teramat picik, mereka sadar bahwa lingkungan itu penting jika wujudnya sudah rusak dan tak sesuai fungsinya. Mereka panik, gelisah, dan mempertanyakan secara serius “Ini tanggungjawab siapa?”. Namun, tidak sedikit orang yang tergerak karena kondisi bumi yang menua ini. Melalui pekerjaan yang sungguh mulia, mereka mengabdi, seperti halnya pihak pengelola limbah, pabrik daur ulang, dan hasta karya dari barang-barang buangan. Itulah wujud dari kepedulian yang nyata, meskipun kecil tapi dedikasi terhadap lingkungan mereka amatlah tinggi.

Kebiasaan sederhana seperti menghemat air untuk keperluan rumah tangga, mematikan lampu ketika siang hari, bersepeda ketika bepergian untuk jarak dekat, meminimalisir penggunaan plastik, dan tidak membuang sampah ke bantaran sungai merupakan contoh kebiasaan yang harus dibangun setiap manusia di bumi. Bukan hanya sekedar mengeksploitasi keberadaan Sumber Daya Alam (SDA) saja. Namun ketika bumi ini rusak, justru saling menyalahkan dan menuding bahwa ini adalah kesalahan pemerintah yang tidak tegas. Setiap dari kita adalah warga di bumi ini kan? Tidak hanya pemerintah, maka setiap dari kita wajib untuk prihatin dan bergerak untuk memperbaiki lingkungan kita.

Salah satu dari Tim PKM-M Taman Edukasi menyaksikan sesorang yang mulia sekali dan memiliki rasa cinta lingkungan yang tinggi. Karena beliau lah, justru tersadar bahwa Jika manusia masih berkeinginan BUMI HIDUP saat ini: dalam kondisi sendiri atau bersama-sama sekalipun, lingkungan ini mebutuhkan kita. Bagaimana kisahnya?

Dialah seorang bapak yang sudah beberapa minggu terakhir (sejak awal Januari) terihat sibuk di selokan yang berlokasi di sebelah timur Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Yogyakarta. Bagaimana tidak sibuk? Beliau bahkan dengan hanya memakai singlet dan celana panjangnya, rela mencelupkan kakinya masuk ke dalam selokan yang baunya cukup tidak sedap. Tangannya tampak keluar masuk mengambil berbagai macam barang yang menyumbat jalannya air, mulai dari batu, pasir, botol bekas, seresah daun, plastik, bahkan sisa sandal jepit yang entah kemana pasangannya.

Sulit dibayangkanbukan? Di sebelah kanan (baca: tempat yang bersih) tampak beberapa perlengkapan yang menunjukkan bahwa beliau itu berkelana. Kemungkinan demikian, karena tampak membawa tikar, sapu kecil, dan beberapa tas yang tertumpuk rapi. Saya tidak tahu apakah bapak ini tidak memiliki rumah, atau memang memutuskan meninggalkan rumahnya untuk pekerjaan mulia yang dilakukan saat ini.

Setiap hari beliau terbiasa dengan aroma air sadah yang menggenang di selokan tersebut. Saya justru salut, beliau ini sendirian padahal. Mungkin orang lain termasuk saya akan malu jika bertindak seperti beliau jika dalam kondisi sendirian. Mungkin di dalam hatinya, beliau ingin memberikan contoh bahwa untuk menjaga lingkungan itu tidak harus muluk-muluk. Dengan masalah yang jelas tampak di depan mata saja kita bisa berkontribusi. Dengan modal niat yang lurus, saluran air yang awalnya menggenang kini sudah mulai lancar karena kebaikan hati beliau. Rambutnya yang sudah memutih pun tak jadi alasan untuk membuktikan “cinta lingkungan”. Sebagai anak muda apa yang sudah kita lakukan?




Itulah kisah yang menjadi penyemangat kami untuk membuktikan pengabdian kami terhadap lingkungan melalui pendidikan. Meskipun memang kami tak sehebat beliau yang berjuang sendirian di tempat itu, kami memulai langkah berlima untuk berkontribusi dengan cara kita. Berusaha memupuk “cinta lingkungan” bersama anak-anak yang nantinya mereka juga mengemban kewajiban penting bagaimana bumi kita ini dibawa. Melalui –TAMAN EDUKASI- kami berjuang!

Yogyakarta, 24 Januari 2015
-Mozaikmila-