Senin, 29 Desember 2014

Cara Beda Memberi Warna

Inilah titik dimana Moza lelah meneriaki sahabatnya yang ternyata berbeda cara dalam menunjukkan prinsipnya. Kawan yang dianggap luar biasa itu punya keunikan menyampaikan kebaikannya. Begitupun Moza, dengan cara yang sedikit berbeda.

Allah menganugrahkan berbagai warna untuk pelangi dunia. Kita memang berbeda. Tapi bukankah kita sama-sama dilahirkan ke dunia untuk menghamba kepada-Nya?

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Adz-Dzaariyaat: 56)

Dan sudah jelas kawan, kita sama-sama menempuh jalan yang sama. Jalan dimana sama-sama mengais rido-Nya. Meskipun kau melipir (baca: jalan serong) ke bagian kanan, ada juga yang ke bagian kiri, ada juga yang menyusur bagian tengah. Dan kita masih sama-sama di jalan ini. Jalan yang kita ridukan agar sampai untuk mengetuk pintu surga-Nya.

Masih saja Moza akan berbangga dengan cara kita yang beda memberi warna ~


Kamis, 25 Desember 2014

Diam dan Jarak Bukti Cinta

Biarkan diam itu yang menjaganya
Biarkan jarak ini yang menyempurnakannya
Karena rasa ini tak cukup jika harus memuja dunia
Yang ada hanya akan banyak noda
Terkoyak dimana-mana.

Tengkuk ini sengaja menunduk
Menjaga binar mata penuh cahaya ini berpendar dalam jiwa
Menanti di ujung jalan bahwa hidup akan bahagia
Dengan sama-sama lelah menjaga
Maka itulah kesucian cinta.

Rupa-rupa, biarlah mengalir apa adanya
Sapa-sapa, biarlah batas kata sedikit saja
Tawa-tawa, terlarang jika hadirnya ada
Diam-diam, cukup ini yang kau semai
Dalam diam akan kurindukan
Dalam jarak akan kunantikan
Menjemput cinta-Nya

Sabtu, 13 Desember 2014

Sehelai Hati Wanita Tua



Tumpukan bata itu mulai retak
Membelah angan yang coba disusun
Seperti wanita tua yang mengucur duka di helaian alis matanya
Tampak selepas pukulan menghujam ketika dia terduduk santai
Sehelai hati yang tertancap adalah kawan karibnya
Hanya ada prasangka yang membuat dunia semakin berwarna
Terpercik tinta aneka rupa jika hati itu bersuara
Tinggal dinanti saja
Dia bicara –BAIK SANGKA- ataukah lawannya

Kini..
Wanita tua yang tumbuh itu; menempuh jalan bersama sehelai hatinya
Percaya bahwa Tuhan selalu hadir
Tanpa keluh yang menggila di depan rupa-rupa
Keriputnya itu pun lupa
Hanya ada bahagia yang diolah
Disemai di balik arakan awan yang megah di atas sana
Bersama sehelai hatinya..






Rabu, 10 Desember 2014

C - U - K - U - P - T - A - U ?


Dan berteriak :

CUKUP TAU ?


Andai saja aku cukup tau dengan setiap hati saudaraku. Apakah dia kecewa dengan polah nyleneh yang sering kutumpuk? Usil yang sering kuungkap untuk sekedar membuat mereka menyeringai pelan. Mana musuh dan mana rekanku?

_______________________________________________________


Ternyata aku tak cukup tau siapa yang nantinya kuat menemaniku berjalan. 
Aku tak cukup tau siapa yang menerimaku tanpa syarat. 
Aku tak cukup tau siapa yang dengan diam justru berjuang memantaskan diri.




Akhirnya :

Ternyata aku tak -CUKUP TAU- siapa dirinya, kini ku coba akan terus bersiap menantinya.