Minggu, 16 November 2014

Pasar Saja Tempat Bermain, Bagaimana Tempat Lain?

Dulu ......

Ketika Moza masih kecil, dia hampir tak pernah lelah berlarian di Pasar. Pasar di tengah kota yang bertetangga dengan kota dimana kesenian Reog dilahirkan. Namanya anak-anak, bau pasar yang terkadang membuat orang pusing pun tak dihiraukan. Setiap harinya bahkan selalu asyik menemani bundanya yang berprofesi sebagai penjual kebutuhan pokok sehari-hari. 

Di antara ratusan penjual di pasar tersebut, toko bundanya tergolong yang kecil. Untuk bocah yang tak mengerti dunia bundanya, pasar justru menjadi tempat bermain yang menurutnya berbeda. Karena penuh dengan orang dewasa yang baerlalu lalang, penuh dengan timbangan duduk di setiap toko, berbagai macam sayur, buah, sembako, sampai barang-barang yang tak mampu dikenali Moza pada saat itu.

Kini Moza sudah terlampau dewasa, hingga dia mungkin sudah cukup mengerti betapa dulu bundanya berjuang. Betapa ternyata sebenarnya pasar bukanlah tempat bermain. Pasar adalah tempat dimana bundanya tersenyum meski kelelahan, berlumur peluh untuk membuatnya bahagia. Mengumpulkan tenaga untuk bangun lebih pagi, dan menahan sabar saat tawaran orang diluar batas kewajaran.

Kini sekotak lahan di tengah pasar itu kosong, Di antara toko-toko yang masih penuh dengan dagangan. Dan yang tersisa hanya kenangan tempat dimana dia asyik bermain. Aroma bau tua terasa, setelah sekian tahun tempat itu tak berpenghuni. Bahkan penyewa pun enggan meneruskan niatannya untuk berjualan di tempat itu. Ruangan kosong itu membisu dengan kesendirian. Merindukan tawa bunda menimang bocah yang sekarang telah dewasa. Rindu akan kepolosan Moza yang memainkan biji kopi setiap harinya.

Biarkan tempat itu memimpikan keinginannya, tapi biarkan Moza dan Bunda bahagia di luar sana. Tapi Moza tak akan lupa. Tak lupa! Dia akan selalu mengingat bahwa tempat itu adalah awal yang membuatnya kuat. Tempat yang menghadirkan pemahaman bahwa hidup ini perlu diperjuangkan. Hidup ini adalah soal kita bertahan. Membuat setiap tempat yang kita tinggali sebenarnya adalah NYAMAN. Nyaman karena kita menciptakannya,dan Allah lah yang mengabulkannya.

Seperti halnya pasar, dimana pun tempatnya, akan menjadi tempat bermain yang menjadikan dewasa. Yang memberikan kenyamanan selagi kita masih menganggap Allah itu ada, yang selalu menyaksikan segala hal yang manusia upayakan.


Sabtu, 08 November 2014

Biar Lidah Beda Rasa, Jika Hati Sama Rasa

Beginilah kita yang sedarah, yang mencintai warna biru dan abu-abu. 
Yang sama-sama memantskan diri untuk orang yang sangat berharga buat kita nantinya.


Kedekatan kita adalah ketika kita berlama-lama mengingat diantara kita. 
Tak akan basi karena waktu, tak akan berkurang meski penuh jarak.
Hitungan detik pun mampu mengabadikannya, tapi kita punya cerita di bawah langit yang sama.
Cerita yang tak hingga jika diindra, yang penuh makna, yang terungkap dalam hati-hati kita.


Besar kita penuh pertengkaran, bahkan channel televisi pun kadang berujung tangis karena kita penuh dengan egositas tanpa batas merebutkannya. Saat Ayah pulang membawa sedikit makanan, itu saatnya adikku mulai menakar mana yang sekiranya lebih berat beberapa gram. Hehehe, mungkin saat itu ada beberapa setan yang nimbrung buat ikut mencicipi juga. Jadi kadar ego justru semakin banyak dikultur dan bersemai di setiap momen berbagi kita. Pergi sana setan!

Tapi Ayah tak kalah tegas dengan tingkah kita yang masih saja mementingkan diri sendiri. Bercandaan Ayah kemudian muncul, "Ngawe ring tinju wae kono.." (baca: buat ring tinju aja sana..)
Inilah salah satu bentuk cara Ayah memberikan alarm bahwa yang demikian itu tidak pantas buat sesama saudara.
Belum lagi ibu kita, menyudahi tingkah kita dengan gelengan kepala. Tanda memang ini hal yang tidak patut. Dan seketika itu, mungkin setan mulai melenggang pergi. Masalah selisih beberpa gram tadipun tak lagi diungkit. Kebahagiaan melihat saudara kita kenyang adalah bentuk kekenyangan batin tertinggi.

Saat kita semakin dewasa, bahkan tanah rantau pun semakin membuat kenangan-kenangan perebutan makanan itu datang menampar-nampar. Jogja; adalah kota penuh dengan aneka kuliner, baik yang khas seperti gudeg, atau bahkan yang dari orang pendatang seperti makanan Padang. Belum lagi makanan berbahan pati seperti bakwan kawi, pentol tusuk, siomay, cilok, dan yang lain. Selalu mengingatkan bahwa: DULU KITA SELALU BERBAGI, menyisakan sedikit makanan. Tepatnya menyisihkan sedikit makanan untuk dicicipi masing-masing dari kita. Berbagi; hal rutin yang kita lakukan sebelum 2,5 tahun ini.

Berharap sama-sama merasakan apa yang ada, tapi jarak lah yang membuat lidah kita merasakan rasa yang berbeda. Itu hanya lidah, cukup hanya lidah. Kita sama-sama merasakan manisnya menuntut ilmu. Masih merasakan segar tetesan hujan ketika musim penghujan menjemput.

Allah masih menganugerahkan kenikmatan yang sama, yaitu IMAN. Semuga keteguhan kita meniti jalan-Nya diberikan keistiqomahan yang menuai berkah. Sebagai makhluk yang penuh dengan baluran dosa, semuga iman kita yang menumbuhkan kecintaan tiada tara kepada Allah. Yang menghidupkan kedamaian, cinta dan harapan. Yang nantinya mengantarkan kita untuk saling menjaga sebagai sesama saudara seiman. Ya, hamba memohon ukhuwah ini terjaga sampai ke Surga...

Adik, jaga hatimu untuk seseorang yang berharga dalam hidupmu kelak.
Sekarang dan hingga nanti, kita berjuang untuk Ayah dan Ibu yang tak kalah berharga, karena mereka merupakan anugrah terindah yang Allah kirimkan buat kita.

Hehehe, bersemangat memantaskan diri adikku tersayang; Muhammad Alfian Ikhsan.
Mesir menantimu! Yakinlah! hehe