Dulu ......
Ketika Moza masih kecil, dia hampir tak pernah lelah berlarian di Pasar. Pasar di tengah kota yang bertetangga dengan kota dimana kesenian Reog dilahirkan. Namanya anak-anak, bau pasar yang terkadang membuat orang pusing pun tak dihiraukan. Setiap harinya bahkan selalu asyik menemani bundanya yang berprofesi sebagai penjual kebutuhan pokok sehari-hari.
Di antara ratusan penjual di pasar tersebut, toko bundanya tergolong yang kecil. Untuk bocah yang tak mengerti dunia bundanya, pasar justru menjadi tempat bermain yang menurutnya berbeda. Karena penuh dengan orang dewasa yang baerlalu lalang, penuh dengan timbangan duduk di setiap toko, berbagai macam sayur, buah, sembako, sampai barang-barang yang tak mampu dikenali Moza pada saat itu.
Kini Moza sudah terlampau dewasa, hingga dia mungkin sudah cukup mengerti betapa dulu bundanya berjuang. Betapa ternyata sebenarnya pasar bukanlah tempat bermain. Pasar adalah tempat dimana bundanya tersenyum meski kelelahan, berlumur peluh untuk membuatnya bahagia. Mengumpulkan tenaga untuk bangun lebih pagi, dan menahan sabar saat tawaran orang diluar batas kewajaran.
Kini sekotak lahan di tengah pasar itu kosong, Di antara toko-toko yang masih penuh dengan dagangan. Dan yang tersisa hanya kenangan tempat dimana dia asyik bermain. Aroma bau tua terasa, setelah sekian tahun tempat itu tak berpenghuni. Bahkan penyewa pun enggan meneruskan niatannya untuk berjualan di tempat itu. Ruangan kosong itu membisu dengan kesendirian. Merindukan tawa bunda menimang bocah yang sekarang telah dewasa. Rindu akan kepolosan Moza yang memainkan biji kopi setiap harinya.
Biarkan tempat itu memimpikan keinginannya, tapi biarkan Moza dan Bunda bahagia di luar sana. Tapi Moza tak akan lupa. Tak lupa! Dia akan selalu mengingat bahwa tempat itu adalah awal yang membuatnya kuat. Tempat yang menghadirkan pemahaman bahwa hidup ini perlu diperjuangkan. Hidup ini adalah soal kita bertahan. Membuat setiap tempat yang kita tinggali sebenarnya adalah NYAMAN. Nyaman karena kita menciptakannya,dan Allah lah yang mengabulkannya.
Seperti halnya pasar, dimana pun tempatnya, akan menjadi tempat bermain yang menjadikan dewasa. Yang memberikan kenyamanan selagi kita masih menganggap Allah itu ada, yang selalu menyaksikan segala hal yang manusia upayakan.
