Didi menyadari bahwa lalai itu akan selalu
ada pada diri manusia, termasuk pada dirinya. Sekarang adalah kalanya bertanya
bagaimana bisa mengurangi segala hal yang mengarah kepada lalai yang
berkepanjangan ini.
Mari kali ini kita mulai refleksi dengan
amalan yang akan dihisap pertama kali, sudah pada tau lah pastinya. Yaaa,
dialah SHOLAT! Mengutip dari rekaman tausiyah Ustadz Yusuf Mansyur mengenai
Sholat, beliau menyampaikan bahwa ketika Allah memanggil kita untuk
menemui-Nya, justru kita balik memerintah dengan seolah-olah mengatakan:
“Tunggu ya, ini masih menerima tamu!
Tunggu ya, masih ada telfon!
Tunggu!
Tunggu!
dan tunggu lainnya...”
Inilah bentuk lalai yang kadang membuat Didi terbuai dan lupa
bahwa sebenarnya dia dalam masalah besar, dan harus ada pertolongan dari tipu
daya ini.
Sebenarnya siapa yang dipanggil? Saat
siang yang terik, terdengar sayup-sayup bisikan untuk tidur harus kita ikuti
juga kah? Masihkah telinga ini tersumbat serumen di lubang telinga? Akan lebih
fatal lagi jika kita menyengaja mebuat Allah; Sang Rajanya alam semesta
menunggu, menanti hingga berjam-jam. Akhirnya Didi mengaku bahwa bisikan setan
itu semakin kencang, semakin melenakan, dan semakin menggiurkan.
Bentuk cara mengistimewakan Allah adalah
dengan sholat di awal waktu. Ini menjadi penghormatan kepada Sang Kholiq, bukan
sekedar menjadi budaknya waktu atau pekerjaan. Menurut tulisan Harun Yahya (2003:
227) dengan judul “Shalat Menjauhkan
Manusia dari Perbuatan Jahat”, bahwa Allah akan menjanjikan pahala bagi
orang-orang yang benar-benar menjaga sholatnya dan istiqomah dalam
mengerjakannya.
Hal tersebut sudah sangat jelas di
jelaskan dalam Q.S. Al-‘Ankabut: 45, yang artinya:
Bacalah
apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan
mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.
Didi mengerti bahwa dalam sholat ada hal
yang akan mengingatkannya, yaitu bagaimana tidak ada kata menunda. Keberadaan
suka menunda adalah akan hanya
melunturkan niatan-niatan baik saja. Ketegasan dalam diri sangatlah perlu, jika
tak ingin selalu dijajah oleh serdadu setan yang tak pernah lelah menggempur.
Semakin tepat waktu Allah semakin suka, Semakin yakin maka Allah semakin suka, Semakin dikunci dengan bahasa istiqomah maka bertambah sempurna. Mati memang menunggu saat nanti,
tapi akankah yang ada saat ini disengaja mati oleh tangan ini?
