Rabu, 18 Februari 2015

Kopi Tak Bergincu

Tentang kopi yang kuteguk dengan penuh rasa haus akan sebuah kasih.
Kepahitan yang hadir menyulut adrenalin yang meningkat.
Sejenis rasa yang hadir seperti bius yang melambungkan angan.
Mengangkat raga ini serasa ringan.
Membuat beberapa centi mengudara di atas lantai.

Jangankan kasih, candu pun menjalar bak aliran air yang menyusuri hilir.
Rasa ini datang di saat yang lain ribut dengan berbagai kegaduhan.
Meski pelan, hangat, dan diam.
Hadir menampar mata hati hingga membuatnya menyala.
Memantik sedikit energi yang semula terpuruk.

Setia yang ada tak perlu diuji.
Memberi sahutan sikap yang lembut.

Biarkan hitam!
Biarlah menghitam!
Biar!
Caramu memberi tak perlu mengumbar warna yang manis.
Wujudmu, tetaplah begitu.
Senja, petang, terik, hingga fajar kembali datang, bertahanlah dengan dirimu.

Meski yang lain bangga dengan berbagai gincu.
Mengira itu cantik.
Toh, hanya sekedar rupa saja.

Hey kopi, sekarang bicara rasa.
Aroma kasihmu dinanti meski kau tetap saja kelam.
Kau tetap saja menghitam tanpa warna-warni bulu mata.

Rendah hati tertimbun dalam kegelapan.
Pandangan buta saja yang percaya bahwa harus mencari cahaya untuk melihatnya.
Perlukah cahaya?
Jika hati kecil itu bersih, segalanya akan nampak.
Mana yang sembunyi dibalik gincu, meski lapuk.
Apa kuat menatap itu hilang?
Atau karena bekas gincu itu menutupi jalanmu.



Rabu, 04 Februari 2015

Mahasiswa, Masihkah Kau!



Hidup memang untuk menentukan kemana gerak ini akan berlabuh. Hari ini terasa terbakar, tersulut api yang tiba-tiba saja berhembus dan hatiku menyala. Kurasa ini bisa dikatakan ambisi, tekat, harapan, dan mimpi. Yang berkobar untuk diperjuangkan.

Anak desa! Benar, inilah diriku. Ketika banyak profesi hadir untuk masyarakat. Mereka mengambil peran masing-masing dengan kinerja yang dibangun untuk membangun bagian di ranahnya. Ada guru yang mendidik anak bangsa, yang kehadirannya memang dilabeli "Pahlawan tanpa tanda jasa". Itulah mereka yang di ranah intelektualitas, mereka berjuang membentuk manusia cerdas dan berkarakter. Lain lagi jika bicara Polisi, termasuk juga Polwan. Tak lupa juga TNI. Mereka memberi harapan bahwa Indonesia akan aman dengan kehadiran mereka. Yang dimaksud aman disini yang jelas terkait geografis. Mereka juga menegakkan keadilan, memberikan layanan berupa pengawasan di jalanan Indonesia dan juga di batas-batas negara. Mereka siaga untuk amannya negeri ini. Di ranah kesehatan ada sekumpulan pejuang yang menginginkan bahwa negeri ini sehat, tidak penuh dengan penyakit. Mereka ialah dokter, bidan, perawat, mantri, apoteker, analis kesehatan, ahli fisioterapi, dan sejenisnya yang bergelut untuk meminimalisir angka sakit di Indonesia. Akan lebih kece lagi jika bicara peneliti. Tampak dari luar mereka sangat smart, terpelajar, dan so serius. Mereka berjibaku dengan hal-hal yang masih belum pasti. Akhirnya bergelut dengan temuan-temuan, dengan harapan memberi manfaat untuk keberlangsungan hidup manusia. Kontribusi mereka memang di jalur ilmiah dengan perjuangan mereka menemukan hal baru yang diteliti di Laboratorium atau observasi langsung di alam. Begitupun dengan profesi mereka yang mulia untuk Negara ini.

Lalu, kembali muncul pertanyaan. Jika ada anak desa, yang menjadi mahasiswa, dan masih akan menginjak semester 6 apa yang bisa diperbuat untuk negeri ini?
Apakah hanya ini semboyan kami:
Kuliah, kuliah, kuliah lagi, lagi-lagi kuliah, dan kuliah lagi kuliah lagi!


Yang jelas tidak hanya itu kawan, justru kitalah HARAPAN kemana Indonesia ini akan dibawa. Jika mahasiswanya saja malas, mudah putus asa, berhura-hura, acuh terhadap negeri ini, dan tidak amanah. Kemana perahu negara ini akan berlabuh?
Ke Pulau yang tidak terjamah dan penuh dengan makhluk mengerikan yang ganas?
Hey, ingat PEMUDA!
Pulau-pulau kita saja sudah banyak yang berpindah kepemilikan. Ini karena pemiliknya pun penuh ketamakan. Bukannya menjaga dengan baik, tapi malah diperjual-belikan untuk oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab.

Bukalah mata hati kalian! Tak hanya sekedar mata, panca indra kalian. Disini kita; para pemuda Indonesia termasuk saya. Seyogyanya harus segera bangkit. Bukan hanya bangkit dari galau akibat cinta. Tapi move on untuk memajukan negeri ini. BANGKIT! Dari hal kecil, dari hal yang kita rasa mengganjal dan itu bisa kita rubah.

Apakah yang paling dekat dengan kalian, wahai pemuda!
Hal yang paling dekat dengan kalian para mahasiswa adalah rutinitas kalian. Yeah, mungkin pekerjaan kita memang kuliah. Lalu kuliah yang seperti apa? Semua yang kita tempuh selama kuliah juga akan ditanyakan sebagai wujud pertanggung jawaban.
Ilmu yang kita dapat dari belasan dosen kita yang sudah 5 semester ini disampaikan, ilmu itu akan menuntut! Pengalaman mereka yang dihaturkan untuk memompa semangat kita. Memberikat tugas agar kita terus membuka kembali apa yang telah diajarkan, agar kita rajin dan haus akan ilmu.
Wahai Pemuda! Kuliah kalian adalah untuk negeri kalian. Sekian tahun kampus yang berdiri dimana pun, swasta ataukah negeri adalah untuk membentuk pribadi kalian yang tangguh, kuat, berkarakter, berakhlak, dan pastinya berilmu. Tidak hanya untuk PRIBADI-mu saja, tapi untuk NEGERI ini, INDONESIA-ku, INDONESIA-kita.

Dan masihkah kau malas?
Masihkah kau banyak tidur dan lupa kewajibanmu?
Masihkah kau bermain-main?
Masihkah kau tidak berjuang membaca untuk Indonesia?
Masihkah kau lupa bahwa kau sudah menjadi "Orang"?
Masihkah kau lupa bahwa pengemudi negeri ini adalah kalian juga?
Masihkah kau berfikir tidak bisa berbuat apa-apa?
Masihkah kau akan bersembunyi?
Masihkah kau akan bermain dengan bom waktu)

Pemuda, masihkah kau!
Mahasiswa, masihkah kau!




Passion, Niat, dan Kadar Suka

Karena -benci- dan -cinta- itu hanya berbeda soal kadar suka.

Dulu suka mata pelajaran eksak layaknya matematika, mungkin suka ilmu sosial juga, atau bahkan suka dengan dunia penyakit (sok jadi analisis kesehatan gitu mungkin, hehe). Dulu -A- dan sekang bisa saja jadi -Z-, berlawanan, bertolak belakang, 180 derajat. Orang bilang yang disukai itu PASSION.

Saat mungkin lupa waktu karena saking asyikna (lupa mandi, lupa maka, ehhh). Yang bertumpuk pun kalo sudah suka, bakal mungkin rampungnya segera. Yang mahal seberapapun, mungkin bakal dikejar. Kalau sudah taat, mungkin akan tunduk seberapapun mengerikan medan perang (tentara Palestine misal), bahkan mereka bukan mengenggap kekuatan fisik atau senjata lah penentu kemenangan. Bukan! Mereka mengaku kuat jika RUHIYAH mereka sudah siap, yaitu ketika DEKAT DENGAN ALLAH. Sudah hadir di mimbar-mimbar cinta-Nya dan sudah ada keikhlasan berperang. Pilihan mereka adalah menang karena Allah atau Mati Syahid juga karena Allah. Inilah bukti cinta mereka. Dan siap dengan hasil akhirnya!

Balik lagi ke PASSION. Berbeda dengan perkara-perkara lainnya karena kadar cintanya berlebih. Yang merasa salah jurusan? Salah ambil profesi? atau salah ambil keputusan? Emm, bukankah dulu rasa suka itu berlebih, rasa cinta itu menumpuk lebih banyak sehingga kau memilih dan memutuskannya.

Seberapapun kalian tidak nyaman dengan apa yang kalian pilih saat ini. Bukankah hati kita sudah terpaut? Dulu kita kan tidak lagi mengigau, tidak lagi sedang tersihir, kita sadar. (khusus: nampar diri sendiri *plaaakkk)

Rasulullah pun berpesan, "Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya". Dan karena niat itu sedetik kemudian saja bisa berubah. Setiap waktu niat itu perlu di sapa, masih benar atau tidak? Jika merasa niatnya dari awal salah, ya dibenerin. Kalo sudah benar tapi ditengah melenceng, maka ya diluruskan. Inilah perlunya kita memohon ke-ISTIQOMAH-an.

Hati ini mudah terbolak-balik, diri ini masih banyak belajar, masih banyak harus menuntut ilmu, masih perlu berguru.
Di bawah langit Ponorogo, hari kelima bulan kedua dari tahun 2015, tepat pukul 09:04 WIB.
#Lillah#Menulis#Membaca#Biologi#Psikologi#Relawan‪#Burning! >_<

Mbak Linda Armitasari ingin memelukmu dari jauh :)
Mbak Rina Septarina, mengingat teori "mencemplungkan diri" >_<
Teman masa kecilku yang sekarang jarang nongol, mana jambu merahnya yang dibelah dua? *ehhh
Teman-teman TK, MI, dan SMP *rinduuuuu :p
Salam XB: Ora ed labora dan Bu Amru :)
XI A 1 dan Bu Ambar :)
XII A 4 dan Pak Taufik :)
OSIS MAN 2 Ponorogo periode 2010 dan 2011 (Sofia, Ninis, dkk)
Kumpul yuk: Trigonometri 2012, Kuantum 2014, dan Citrullus lanatus 2014 :)
Keluarga Penalaran 2013, mumu Himabio 2013 :p
Keluarga LJ 2013, hamasah Haska 2013 :)
Formatur Himabio, Adik-adik, dan Himabio 2014 mengangkasa :3
MPO 2013, kangen kumpul kak :)
Himabio 2015, barakallah :)
Herbiforus, ayuk mulai ;)
KPB Bionic, hhe sudah bersedia menampung yang belum menjadi anggota sekalipun :D
Jurdik Biologi FMIPA UNY dan dosen-dosen yang menginspirasi :)
PBS, lulus bareng 2016 yaaa :3
Keluarga Karangmalang, Timoho, dan IM :) menginspirasi di setiap aksi!
Tim Cocos Lepita mumu :)
Tim Taman Edukasi, perjuangan kita baru dimulai :3
Keluarga B20 :D
Keluarga Ulya (RCU) :P
Mbak Riza Sativani, merindukanmu sangat, kapan balik dari Bone? :)
Yusuf embem, semangat jadi sholih :p
Mbah kung: Margi ingkang leres, yeah :* (mbah putri juga: Ponorogo, Madiun)
Adheeeeeeek, deal Mesir kan? :P
Bapak Ibu, You are my HERO :*

Jazakumullah khoiran katsir :)


Tak Perlu Risau, Pak.

Pagi ini berawal dengan kabut yang aku rasa sulit untuk disibak...

Setelah sedikit mengungkapkan yang menekan di hati ke ibu, akhirnya tersampaikan juga meski dengan satu kalimat, "Nopo bapak khawatir kalih kulo nggeh buk?" (baca: Apakah bapak khawatir dengan mila ya buk?). Bagaimana tidak, justru fikiran ini tak tenang karena bapak terlihat menyembunyikan sesuatu. Nampak diam dan berfikir.

Semalam sempat mau bertanya. Tapi keberanian tak lagi muncul karena saking takutnya aku.

Entah apa yang mengusik ketenangan bapak.
Yang jelas :

Anakmu baik-baik saja pak, Masih utuh :) Alhamdulillah masih memeluk agama yang Bapak ajarkan. Terimakasih karena didikan Bapak, mila mengerti bahwa hidup akan terus berjuang. :)