Sabtu, 26 April 2014

Siang ini di antara kalian...

Samping kiriku nyenggol terus nih, dari tadi ngomel mulu. Hehe (dalam hati)

Aku mengerti caramu menyayangi orang kakak..
Kita dipertemukan di rumah cinta, Himabio FMIPA UNY ini karena Allah.

Kakak, bahagiaku mengenal kalian sejak dua tahun lalu.
Boleh kan iseng memaparin ini?
Mungkin memang ndak penting banget kenapa aku ANEH gini, hehe
Meski ku lewati dua tahun bersama kalian, aku pun masih sering bertanya: Sejauh apakah aku mengenal kalian?
COVER? oke fix, mungkin bisa detail aku sebutkan ciri-ciri umumnya. Tapi........
Siapa yang tau hati-hati kalian?
Hanya Allah yang tau pasti, dan diri kalian.
Mila ndak bisa tau, karena apa?
Aku adalah seseorang yang aneh dengan tangan kecilku.
Bahkan kelingkingku pun tak selurus milik kalian (hehe, coba bisa dicek)
Tapi, bukan itu yang kumaksud, hehe ESENSI-nya apa? *geleng-geleng

Tawa kalian selalu kurindukan setiap aku memulangkan tubuhku ke peraduanku, ayah dan ibuku.
Hehe, setiap disini aku tak bisa henti seharipun tanpa mengingat mereka yang hebat :)

Untuk yang duduk di samping kiriku, terimakasih untuk semua hal yang aku pun tak mungkin bisa menyebutkannya. Mungkin bisa saja aku berbusa-busa hingga entah lah, intinya aku hanya bisa diam (seperti sekarang ini).

Aku bukan tipe orang yang bisa mengungkapkan dengan berteriak, "Aku sayang kalian". Itu bukan mila, karena aku lebih suka menyayangi kalian dengan caraku, dengan keanehanku yang kadang bisa saja membuat kalian MUAK kepadaku. Pasti aneh, pasti nyleneh.

Saat aku berani bilang,  "Aku benci kalian."
Apakah kalian ndak ingin tau alasanku?
Saat aku bilang benci, itu justru titik puncakku menyayangi kalian. (pasti mikirnya aneh-aneh, haha)
Ini karena aku menyayangi kalian karena Allah, aku bukan membenci diri kalian, tapi aku membenci saat kita menjauh dari Sang Pencipta.
Saat kalian punya prinsip baru, dan itu menjauhkan kita kepada kodrat kita sebagai makhluk-Nya, mungkin saat itulah aku akan marah, benar-benar marah.
Tapi ingat, marahku ndak ada apa-apanya, masih ada Tuhan :)
Marah-Nya jauh lebih kita takutkan bukan?
Membenci di dalam hati adalah selemah-lemahnya iman, dan aku menyadari.

Aku membual apa yaaa?
Aku pun masih hamba yang penuh khilaf, dengan segala kekurangan.
Jika mila diam membiarkan prinsip baru kalian, mila sebenarnya menangis dalam hati. Menjerit-jerit jika kau melakukan itu. Sindiran, lewat! baiklah..
Prinsipmu yang dulu, itu karena Allah. Jika memang itu cara barumu, monggo. Kita masih saudara, dan aku merindukan kita berlomba-lomba menuju Ridho-Nya..

Ingat, SURGA MASIH TERLALU LUAS UNTUK DIHUNI SENDIRI. Belum ada jaminan mila masuk surga, begitupun KAMU. Tapi, ayolah kita bersama-sama mengingatkan. Melengkapi ukhuwah kita menuju Surga-Nya.

Hidup hanya sekali, hidup ini titipan, siapa pun yang merasa, aku cuma bisa kasigh senyum.

Luruskan niat, jaga hati-hati kalian. JAGA HATI KALIAN :)

Allah bisa saja cemburu, jangan duakan Dia. Dia khaliq-Mu, Dia melihat segala tingkah polah kita.

Mungkin ini memalukan jika aku mengucapkannya, tapi aku ingin katakan ini karena Allah alasanku, "Mila merindukanmu karena Allah, jaga hatimu, teruslah memantaskan dirimu."



Ini aku ngakak nulisnya.. :D


Selasa, 15 April 2014

Keanehanmu, Ayah..

Semakin ku tau kau memang ciptaan-Nya yang aneh, teramat aneh untuk diungkapkan.
Sesorean saja terfikir tentangmu, bunyi dering telfon genggam menjawab lantang.
Dan ini aneh, menyambut “Sehat nduk?”
Bagai hembusan angin sepoi di siang terik.
Bagai rintik air di tengah gersangnya gurun.
Bagai cekikik burung yang riuh di pagi buta.
Dan segala keanehanmu penuh misteri.
Bermula dari persepsi akan monster, yang dulunya hampir telinga ini tersumbat oleh dua kepalan mungil yang ketakutan. Bersembunyi di balik bantal bermotif catur terisikan animasi kartun, kapankah itu?
Pintu kamarpun enggan menganga mengintip dunia luar, dan yang ada; hening. Yang ada hanyalah ketakutan akan badai yang terus menghujam karena salahku, khilafku, futurku, lalaiku, dan tabiat burukku.
Ayah.....
Kau tawarkan kedamaian dibalik caramu.
Kau hadiahkan kebahagiaan dibalik lakumu.
Kau suguhkan senyum dibalik tuduhmu.
Kau hamparkan panorama senja yang mendamaikan.
Dan itulah engkau, lelaki aneh yang sangat aneh.
Bagiamana mungkin kau rela dicap galak untuk membuatku bahagia sekarang?
Bagaimana mungkin kau bersedia dijuluki tempramen karena untuk membuatku tegar?
Caramu tak habis fikir membuatku gila..
Menyesali dengan usiaku yang semakin tua, bahkan tuaku ini karena kasihmu, karena engkaulah aku  belajar menikmati hidup sampai setua ini.
Kapan giliranku?
Kapan anakmu menebus keanehan itu?
Kapan aku berlaga menjadi Hero yang sebenar-benarnya?
Pahlawan nyata untukmu, ayah!
Kapan?
Hingga kini, aku merantau..
Tak menyaksikan bagaimana engkau berlelah-lelah.
Tak menyentuh urat kakimu yang pegal karena mengayuh hidup.
Tak juga mengobati lecet lenganmu karena terus menikam ganas dunia.
Ayah, seperti yang pernah ku kenal.
Engkau adalah makhluk dengan berjuta kelebihan, tak kan mampu orang menduplikasi.
Untuk sekedar menyerupaimu sedetik secara sempurna, tak akan mungkin bisa.
Biarlah aku yang merekam ketangguhan dari pangeran hidupku.
Hingga usiaku mencapai 20 tahun kurang 6 hari, kau tetaplah lelaki idola idamanku.
Allah..
Jikalau nanti kau hadirkan seorang imam dalam hidupku, buatlah aku untuk semakin ingat kepeda-Mu.
Karena kehadirannya, semuga ayahku semakin aku horamati dan aku penuhi segala jerih payahnya.
Tak ada tuntutan dariku untuk dia menjadi aneh seperti ayahku.
Biarlah kau aneh menjadi dirimu, karena setiap dari kita adalah aneh dengan cara kita.
Begitu picik jika kita menuntut sempurna seperti teori yang sduah ada.
Semua adalah mozaik, berubah, berbenah...
Orintasi kebaikan menuju kekekalan surga.

Kelingkingku terlihat aneh, dan itu kau turunkan untukku, ayah.
Anakmu bangga, bangga karena anehmu adalah karena rasa cinta kepada Sang Pemberi Hidup, Allah Yang Maha Esa. Karena-Nya, kau rela, kau bersedia untuk berpura-pura seperti raungan singa, padahal hatimu lebih lembut dari terbangan bunga dandelion. Indah, ayah..
Allah, izinkan ikatan ini berlanjut sampai Surga.
Karena aku percaya kita akan segera terpisah di dunia, entah ayah, atau anakmu lebih dulu..
Kita bertemu karena Allah, dan berpisahpun karena-Nya, ayah..

Ayah, ayah, terimakasih, kau beri aku cinta..
Ayah, ayah terimaksih, ajarkan aku hidup..
(Ayah by Opick feat. Adiba)


Rumah Cinta, 05 April 2014